Tradisi Rajaban; Mengenang Isra Mi’raj dalam Budaya Nusantara

Tradisi Rajaban; Mengenang Isra Mi’raj dalam Budaya Nusantara

PeciHitam.org – Tradisi Rajaban adalah tradisi merayakan salah satu peristiwa penting yang dilalui oleh Nabi Muhammad SAW yaitu peristiwa Isra Mi’raj yang terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-10 kenabian. Bulan Rajab merupakan bulan ketujuh dalam kalender hijriyah dan juga penanggalan Jawa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bagi umat Islam peristiwa ini mempunyai arti penting karena dalam peristiwa ini Rasulullah SAW menerima perintah shalat lima waktu dalam setiap harinya, dimana shalat yang asalnya 50 waktu menjadi 5 waktu.

Di samping itu bahwa peristiwa ini juga merupakan salah satu mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW di mana beliau melakukan perjalanan yang begitu cepat hanya dalam waktu satu malam dari Masjid al-Haram (Makkah) menuju Masjid al-Aqsa (Palestina) hingga ke Langit Ketujuh.

Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Isra’ ayat 1, berikut:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Baca Juga:  Benarkah Hubungan Agama dan Negara Harus Dipisahkan? Begini Penjelasan Para Ahli

Peristiwa ini terjadi ketika Nabi Muhammad sedang tidur sendirian di rumah Siti Ummi Hani (saudara kandung Sayyidina Ali), kemudian datanglah malaikat Jibril untuk memintanya berjumpa Allah.

Proses peristiwa saat kehadiran Nabi di rumah Ummi Hani hingga Nabi langsung menuju Masjid al-Haram untuk mengisahkan apa yang dialaminya juga disinggung dalam kitab Tashilul Ghiba.

Ada juga versi lain yang menyebutkan bahwa kala itu Nabi sedang berada di sekitar Masjidil Haram tepatnya di sekitar Hijr Ismail dengan ditemani dua sahabatnya yaitu Hamzah dan Ja’far bin Abi Thalib.

Syekh Bisri Musthofa Rembang, ayahanda Gus Mus dalam kitab Tiryaqil Aghyar fi Tarjamati Burdatul Mukhtar menjelaskan bahwa waktu yang ditempuh dalam Isra’ itu sangat singkat dan mi’raj itu seperti qaba qausaini. Beliau menyantumkan sebuah syi’ir yang diterjemah dalam bahasa Jawa dengan tulisan pegon, berikut redaksinya:

سريت من حرم ليلا الى حرم ٭ كما سرى البدر في داج من الظلم

وبتّ ترقى الى ان نلت منزلة ٭ من قاب قوسين لم تدرك ولم ترم

Dua bait syi’ir di atas diterjemahkan oleh Syekh Bisri Musthofa ke dalam aksara pegon berbahasa Jawa. Beliau menyampaikan indahnya kata qaba qausaini yang secara lahiriyah bermakna “ujungnya dua pucuk”. Padahal ibrah ini adalah terbalik, yang harusnya qaba qausi, jadi artinya dua pucuk.

Baca Juga:  Meski Dipenjara, Hadratusysyeikh Berulang Kali Khatamkan Qur'an dan Kitab Hadits

Peristiwa semacam ini merupakan peristiwa yang amat luar biasa, yang notabenenya pada masa itu peristiwa Isra’ Mi’raj ini dianggap di luar nalar. Maka wajar bagi mereka yang tidak mengikuti jejak Nabi tidak akan percaya dengan kisah ini.

Tradisi Rajaban di Indonesia sejak dulu memang sudah mengakar dan melebur menjadi sebuah tradisi yang kental dengan nilai-nilai sejarah dan Islam. Tradisi Rajaban ini hampir merata di seluruh penjuru Indonesia.

Meskipun tradisi tersebut sampai saat ini masih terus ada dalam masyarakat muslim Indonesia, namun demikian tidak bisa menafikan bahwa adanya hambatan-hambatan yang akan menghalangi keberlangsungan tradisi ini di beberapa daerah.

Hambatan itu baik dari eksternal umat Islam maupun dari internal umat Islam sendiri. Secara eksternal, agama yang hidup di negara yang berkembang seperti Indonesia, akan mendapatkan tantangan yang kuat dari arus modernisasi.

Para peneliti sosiologi dan antropologi banyak yang meramalkan bahwa peran agama akan tergantikan oleh peran-peran lembaga modern yang dibentuk oleh masyarakat itu sendiri.

Baca Juga:  Analisis Terhadap Kasus Bom di Indonesia : Laskar Jihad Vs Kepolisian Negara

Secara internal tantangan atas tradisi peringatan Isra Mi’raj berasal dari kalangan Islam Trans-nasional, Islam Puritan atau aliran Wahhabi yang menganggap bahwa semua tradisi yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW disebut sebagai sesuatu yang bid’ah atau mengada-ada.

Oleh sebab itu, kita sebagai muslim yang baik hendaknya juga tidak saling membenci. Jika kita merasa bahwa tradisi yang sudah baik tersebut harus tetap dilestarikan, ya teruslah merawatnya. Namun jika merasa bahwa tradisi tersebut dianggap bid’ah atau mengada-ada, tidak mengusik dan diam adalah jalan yang bijak. Wallahu A’lam.

Mohammad Mufid Muwaffaq