UAS Hina Salib: Saya Muslim, Saya Bela Hak Saudara Non Muslim

uas hina salib

Pecihitam.org – Pada 1987 Nahdlatul Ulama (NU) mencetuskan istilah trilogi ukhuwwah, yakni (1) ukhuwwah Islamiyah, (2) ukhuwwah wathaniyah, dan (3) ukhuwwah basyariyah atau insaniyah. Secara sederhana, ketiga istilah itu berarti persaudaraan sesama muslim, sesama individu bangsa, dan sesama manusia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Melalui trilogi ukhuwwah tersebut, NU menghendaki satu kedamaian melalui tali-cinta persaudaraan antar sesama muslim, bangsa, dan sesama manusia. Bila kita kilas balik ke ide dan perjuangan humanisme guru bangsa kita, Gus Dur, akan kita dapati semangat trilogi ukhuwwah ala NU ini.

Dengan spirit yang sama, hasil Bahtsul Masail Maudlu’iyah dalam Munas dan Konbes NU 2019 di Banjar Patroman Jawa Barat, NU mencetuskan penggunaan istilah “non muslim” bagi lema “kafir” dalam konteks kewarganegaraan.

Lema kafir menjadi tidak relevan digunakan di ruang publik, sebab secara fikih maudlu’iy, penduduk Indonesia di mata hukum adalah sama. Istilah kafir, baik harbi, dzimmy, mu’ahad, maupun musta’min tidak relevan digunakan pada era negara-bangsa (nation state) sekarang ini. Terkecuali penggunaan di ruang privat-teologis.

Sebagai ormas Islam terbesar, NU selalu berusaha untuk mendakwahkan Islam yang ramah, moderat, dan penuh rasa toleransi. Terutama toleransi atas hak individu warga NKRI dalam meyakini satu keyakinan Agama. NU sangat menghormati pilihan keimanan. Apa pun Agamanya.

Baca Juga:  UAS: Kalau Institusi Kita Dihina, Wajib Kita Mengamuk

Oleh sebab itu, kami warga Nahdliyin selalu dididik oleh kiai-kiai kami untuk bisa menghargai keyakinan pemeluk Agama lain. Kepada non muslim kami dididik untuk menghormati keyakinannya. Contohnya, dengan tidak menyinggung rumah ibadah atau simbol Agama mereka.

Semangat toleransi dan egaliter (al-musawwa) ala NU ini kiranya menjadi penting diresapi terkait kasus yang menimpa seorang Ustadz Abdul Shomad (UAS).

Kita tahu, pada Sabtu (17/08) kemarin UAS dilaporkan ke Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) oleh kelompok Brigade Meo NTT. Laporan itu berdasar video UAS yang dianggap oleh Jimmy Ndeo, anggota Brigade Meo, sebagai “melecehkan umat Kristen dan Katolik”, seperti yang dikutip Kumparan (17/08).

Jika Anda tonton video yang sudah menyebar luas itu, Anda akan mendapati ucapan UAS yang menurut hemat saya memang berlebihan. UAS menyinggung simbol keagamaan umat Kristiani, yakni salib. Dikatakannya bahwa dalam salib terdapat jin kafir. Ekspresi UAS pun terkesan melecehkan.

Lebih jelasnya Anda bisa cari di youtube dengan kata kunci “UAS menghina salib”.

Baca Juga:  Dituding Pengikut ISIS, UAS Sempat Ditahan Keamanan Bandara

Menurut saya polemik ini muncul sebab konten ceramah itu diunggah di media sosial. Inilah maksud saya betapa pentingnya sikap toleransi seperti apa yang NU selalu dakwahkan. Bahwa di ruang publik, dalam konteks kehidupan berindonesia, hendaknya lebih mendahulukan ukhuwwah wathaniyah, persaudaraan sesama individu bangsa.

Implikasi dari spirit ukhuwwah wathaniyah adalah selalu mengedepankan moralitas kebangsaan. Apa pun Agamanya, dengan spirit ala NU ini setiap kita memandang hormat kepada sesama warga NKRI. Sehingga sulit bagi kita untuk berucap atau bersikap melecehkan satu sama lain. Sebab kita lebih mendahulukan ikatakan persaudaraan sesama bangsa ketimbang primordial domestik atau Agama.

Andai saja konten ceramah itu bersifat privasi, hanya bisa diakses oleh komunitas muslim, boleh jadi UAS tak bakal terjerat kasus pelecehan atau penistaan Agama. Kendatipun demikian, hemat saya jauh lebih bijak seorang penceramah Islam tidak menyinggung keyakinan Agama lain. Apalagi sampai bertutur senada melecehkan, seperti apa yang dilakukan UAS.

Unik dan bijak, di pihak yang (merasa) dilecehkan saya mendapati tanggapan seorang Pendeta di youtube. Adalah Pdt Muriwali Yanto Matalu (MYM) melalui akun youtube pribadi, membuat satu tanggapan yang cukup mengagumkan. Pendiri Gerakan Kebangunan Kristen Reformed (GKKR) itu menanggapi UAS dengan tanpa emosional.

Baca Juga:  Peran Santri dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia

Anda bisa menikmati tanggapan MYM di youtube dengan kata kunci “Pdt. MYM: Menanggapi Ustad Abdul Somad”.

Tanggapan MYM mencerminkan sosok agawaman Kristen yang arif. MYM sama sekali tidak membalas UAS dengan balik melecehkan simbol Islam. Ia mengajak UAS untuk berdiskusi secara ilmiah. Ini yang seharusnya menjadi budaya kita di alam demokrasi hari ini: diskursus intelektual. Bukan caci-maki, ujaran nista dan sentimen negatif.

Saya tidak paham mengapa UAS memilih diksi bernada pelecehan. Yang jelas, dalam kasus UAS ini saya sangat membela hak saudara kita umat Kristiani. Membela haknya untuk meyakini Agamanya. Membela haknya untuk menjaga sakralitas simbol Agamanya.

Wallahul muwaffiq.

Mutho AW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *