Ubay bin Ka’ab, Sahabat Ahli Al-Qur’an yang Menjadi Notulen Nabi

Ubay bin Ka'ab, Sahabat Ahli Al-Qur'an yang Menjadi Notulen Nabi

Pecihitam.org – Sejarah terus mengukir jejak para sahabat terdahulu yang mempunyai kelebihan dan keistimewaan masing-masing, di antaranya Ubay bin Ka’ab, sahabat yang dikenal ahli Al-Qur’an dan pencatat wahyu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ubay bin Ka’ab sosok yang juga dikenal sebagai Abu Mundhir, ia merupakan salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal dan terpandang di antara komunitas kaum muslimin awal.

Ubay tergolong salah seorang yang pertama-tama mencatatkan ayat-ayat Al Qur’an ke dalam bentuk tulisan pada masa Rasulullah SAW. Ubay bin Ka’ab dipercaya sebagai penulis / alamnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Di setiap fase pertemuan, ia selalu ditugaskan Nabi mencatat surat, berita ataupun wahyu.

Di kalangan para sahabat begitu banyak penulis yang produktif dalam menulis. Namun, kepercayaan Nabi Muhammad SAW tetap pada Abu Ubay bin Ka’ab. Ini bukan tanpa dasar. Nabi percayakan pada Ubay karena ia memang paham seluk-beluk Al-Qur’an.

Pernah suatu ketika Rasulullah SAW melewatkan satu ayat dalam shalat, namun tidak ada seorang pun yang berani mengingatkan beliau.

Baca Juga:  Al-Farabi dan Gelar Filusuf Kedua dalam Islam

Seusai salam, salah seorang shahabat berkata kepadanya, “Wahai, Rasulullah. Engkau telah melewatkan satu ayat dalam shalat, apakah engkau lupa ataukah ayat itu sudah dimansukh?”

Kemudian Rasulullah SAW meninggalkan mereka, lalu berkata, “Wahai, Abu Mundzir. Apakah benar apa yang dikatakan semua orang?” Ubay berkata, “Benar (berikanlah busur kepada penciptanya!)” Oleh karenanya, Nabi SAW bersabda, “Orang yang paling pandai dalam qiraah di antara kalian ialah Ubay.”

Ubay jika menuliskan wahyu yang diperintahkan oleh Baginda Nabi,
ia mempunyai waktu khusus untuk mengumpulkan ayat-ayat itu, dan itupun berhasil sehingga nama Abu Mundzir sangat dikenal di kalangan muslimin awal.

Kekaguman para sahabat padanya tidak hanya di bidang pengumpulan dan penulisan wahyu. Abu Mundzir Ubay bin Ka’ab termasuk salah seorang sahabat yang hafal Al-Qur’an.

Abu Mundzir tidak hanya menjadi penulis dan hafidz, ia mempunyaj keistimewaan dalam menaggapi pertanyaan.

Suatu ketika Rasulullah SAW menemuai Ubay dan beliau bertanya, “Hai Abu Munzdir, ayat manakah dari Kitabullah yang teragung?” Sahabat itu menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Baca Juga:  Kisah Waliyullah, Imam Ja’far Shadiq; Karomah dan Kalam Hikmahnya

Nabi SAW mengulangi pertanyaan­nya, “Abu Munzdir, ayat manakah dari Kitabullah yang teragung?” Ia menjawab,

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ

“Allah tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Pengatur.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Rasulullah SAW pun menepuk dadanya, dan dengan rasa bangga yang tecermin di wajahnya, beliau bersabda, “Hai Abu Munzdir, selamat bagimu atas ilmu yang kau capai.”

Ubay bin Kaab juga termasuk orang yang diamanahkan menjadi pengawas badan penasehat (musyawarah) ataupun pemipin kaum Muslimin di masa Khalifah Umar bin Khattab RA .

Diceritakan dari salah satu seorang sahabat bahwa dirinya datang ke Madinah untuk menuntut ilmu. Beberapa ulama sedang mengajarkan hadits di Masjid Nabawi. Di sana setiap murid duduk berkelompok menghadap gurunya masing-masing.

Ketika melewati kelompok-kelompok tersebut, ia melihat seorang pengajar seperti seorang musafir. Orang tersebut hanya memakai dua helai kain di tubuhnya dan duduk sambil mengajarkan hadits-hadits. Sahabat itu bertanya kepada orang-orang di sana, “Siapakah dia?” Jawab mereka, “Dialah pemimpin kaum muslimin, Ubay bin Ka’ab.”

Baca Juga:  Biografi Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, Pendiri Jamiyyah NU dan Pahlawan Nasional

Kemudian ia pun duduk di majelisnya Ubay. Setelah mengajar, Abu Munzdir pulang ke rumahnya dan ia mengikutinya dari belakang. Di sana, sahabat ini menjumpai sebuah rumah tua yang sangat sederhana dan sedikit perabotnya. Abu munzdir menjalani hidup dengan sangat zuhud.”

Begitulah kisah seorang sahabat Inspiratif sebagai notulen / penulis surat dan ahyu pada masa Nabi Muhammad SAW.
Semoga kisah ini dapat bermanafaat. Amin Ya Rabbal Alamin!

Faisol Abdurrahman