Umar Bin Khattab, Mantan Preman Quraisy yang Mendapat Gelar Amirul Mukminin

Umar Bin Khattab, Mantan Preman Quraisy yang Mendapat Gelar Amirul Mukminin

PeciHitam.org Mantan Preman Quraisy, yang kemudian menjadi garda depan pembela Islam, dialah Umar bin Khattab. Namanya terukir indah dan abadi dalam tinta sejarah Islam. Reputasi Umar yang sangat gilang gemilang menutupi semua dosa dan perilaku Umar bin Khattab saat menjadi orang Jahiliyah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Umar dikenal sebagai panglima perang yang sangat kuat dengan fisik, gagah berani. Sangat cocok menjadi seorang petarung sebagaimana ia jalani sebelum masuk Islam. Berikut cerita tentang Umar bin Khattab Khalifah pertama yang menaklukan Baitul Maqdis untuk dibangun Masjid yang sekarang kita kenal.

Profil Umar Bin Khattab

Umar bin Khattab merupakan anak dari pasangan Khattab bin Nufail al-Shimh Al-Adiy Al-Quraisyi dan ibu bernama Hantamah binti Hasyim. Beliau lahir sekitar tahun 584 M dan meninggal pada tahun 644 M.

Beliau mendapatkan gelar Al-Faruq oleh Nabiyullah Muhammad yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Umar merupakan Sahabat yang langka, ketika kebanyakan orang jahiliyah tidak bisa membaca maupun menulis, tidak dengan Umar bin Khattab.

Bisa dikatakan Umar adalah tokoh jagoan dan juga seorang intelektual dan pemikir hebat. Umar berasal dari sub-suku Bani Adiy yang masuk golongan keluarga kelas menengah. Oleh karenanya, beliau dapat mengakses pendidikan sehingga bisa membaca dan menulis.

Khalifah Umar bin Khattab terkenal sebagai salah satu khulafaur Rasyidin yang pertama menggunakan gelar Amirul Mukminin (Pemimpin/ Ketua orang Beriman). Umar menggantikan Abu Bakar Ash-Shidiq yang wafat setelah memangku jabatan hanya 2 tahun 2 bulan.

Beliau memerintah atau menjadi pemimpin orang muslim di Madinah dari tahun 633 M sampai tahun 644. Gebrakan Umar bin Khattab adalah meluaskan pengaruh Islam sampai menguasai keseluruhan Jazirah Arab dari selatan sampai utara, Yerusalem.

Pada Masa Jahiliyah, Umar bin Khattab adalah petarung yang sangat kuat. Beliau menjadi andalan orang-orang Quraisy dalam bertarung tanding dalam perang, perangainya keras bahwa Jin saja merinding jika berhadapan denganya.

Umar merupakan orang yang sangat dihormati oleh masyarakat Mekkah walaupun sangat suka, meminum anggur untuk mabuk. Beliau sangat kuat memgang adat masyarakat Qurasiy, yakni mabuk-mabukan dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Sekilas Sejarah Masuknya Kelompok Islam Trans-Nasional ke Indonesia

Karena kekolotan pandangan Umar waktu sebelum islam, beliau pernah merasa sangat malu mempunyai anak perempuan. Pada masa Jahiliyah, anak perempuan adalah Aib sebagai tanda kelemahan keluarga. Maka Umar dengan segera mengubur anak beliau hidup-hidup.

Hal tersebut berubah drastis setelah masuk Islam, beliau tidak lagi menyentuk Anggur bahkan sebelum khamr dilarang secara penuh.

Umar Bin Khattab Masuk Islam

Umar sebagai salah satu tokoh Quraisy sangat membenci Islam karena menggerus adat-istiadat yang sudah mapan di Makkah. Kebencian Umar kepada Nabiyullah Muhammad menjadi-jadi karena beliau menentang adat-adat jahiliyah yang sudah ada.

Maka Umar berniat membunuh Nabiyullah Muhammad SAW karenanya. Beliau menghunus pedang dan akan mendatangi Nabiyullah Muhammad SAW. Akan tetapi diperjalanan, Umar bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah yang sudah masuk Islam. Ia berkata kepada Umar;

Ya Umar, Buat apa engkau membunuh Muhammad bin Abdullah, sedangkan saudaramu sendiri telah masuk Islam.

Mendengar berita itu, Umar pulang kerumahnya dan menemui saudara perempuannya untuk menghukumnya. Saat ia pulang, ternyata saudara perempuannya sedang membaca Al-Qur’an. bacaan Al-Qur’an yang dibaca adalah surat Thaha ayat 1-8

Bahaudin Nursalim menjelaskan tentang kemukjizatan Al-Qur’an salah satunya bisa dipahami oleh orang Kafir. Sebagaimana kasus dalam Islamnya Umar bin Khattab.

Gus Baha menjelaskan, tidak ada alasan bagi orang kafir Makah untuk tidak bisa memahami kebenaran Al-Qur’an. Umar bin Khattab saja memahami bahwa dalam surat Thaha yang dibaca oleh saudaranya mengandung kebenaran.

Setelah mendengar ini Umar berubah sikap yang semula akan membunuh saudaranya kemudia malah masuk Islam. Masuknya Umar bin Khattab tidak lepas dari doa Rasulullah SAW;

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِى جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ وَكَانَ أَحَبَّهُمَا إِلَيْهِ عُمَرُ

Ibnu Umar RA menceritakan bahwa Rasulullah pernah berdoa sebelum keislaman Umar bin Khattab sebagaimana hadits tersebut.

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang yang lebih Engkau cintai dari kedua laki-laki ini: Abu Jahal atau Umar bin Al-Khaththab.” Sang perawi mengatakan, ternyata yang lebih dicintai oleh Allah adalah Umar. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Setelah keislaman Umar, beliau memplokamirkan diri sebagai pelindung Islam. Barangsiapa yang mengancam atau menggangu orang islam akan berhadapan dengan Umar.

Baca Juga:  Sejarah Awal Mula Diwajibkannya Puasa Ramadhan

Setelah Umar masuk Islam, maka dakwah Islam yang dilakukan secara terbuka memiliki pelindung dan pembela yang kuat dan pantas.

Wafatnya Rasul dan Menjadi Khalifah

Umar bin Khattab masuk Islam sebelum Hijrah Nabi, dan ia mengikuti Hijrah ke Madinah bersama dengan orang-orang beriman. Beliau tercatat mengikuti Nabi dalam beberapa perang seperti perang Badar, Khaibar, Uhud dan penyerangan ke daerah Syriah atau persia.

Sikap tegas Umar tidak luntur bahkan ketika beliau masuk Islam. Bahkan ketika berita Muhammad SAW meninggal, Umar dengan keras akan memenggal kepala orang yang memberitakannya. Hanya Abu Bakar Ash-Shidiq yang mampu menenangkan dengan mengatakan;

“Saudara-saudara Barang siapa menyembah Muhammad SAW maka Nabi Muhammad telah Meninggal. Tetapi barang siapa menyembah Allah SWT, Dia selalu Hidup tidak pernah Mati”

Dan juga membacakan kepada Umar surat Ali Imran ayat 144. Mendengar kata-kata Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar menangis dan menyadari bahwa Muhammad SAW sudah wafat dan tidak abadi.

Setelah meninggalnya Nabiyullah Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-Shidiq menjadi penerus dakwah Nabi dan ditetapkan di Tsaqifah Bani Sa’idah. Umar bin Khattab diangkat menjadi penasihatnya dan setelah kemangkatan Abu Bakar beliau ditunjuk sebagai suksesornya.

Umar bin Khattab menjadi Khalifah pada tahun 634 Masehi dan melakukan serangkaian kerja untu islam. Beliau menggunakan gelar Amirul Mukminin berbeda dengan Abu Bakar yang menggunakan Khalifatu Rasulillah.

Pada masa Umar, Islam berkembang dengan pesat sampai menguasai Jazirah Arab, Msir, Armenia, Utara Afrika sampai ke bagian Barat. Jasa besar Umar lainnya adalah merebut wilayah kekuasaan Romawi di utara afrika dan mengambil alih daerah antara sungai Tigris dan Eufrat dari Dinasti Sasanid dari Persia masuk wilayah Islam.

Peran lainnya  Umar adalah merapihkan administrasi kekuasaan Islam. Masa beliau juga tahun 638 melakukan perluasan Masjid Haram dan Masjid Nabawi. Setahun sebelumnya, 637 M, Umar berhasil mengambil alih kota Yerusalem.

Baca Juga:  KH Ahmad Dahlan, Pahlawan Nasional Pendiri Muhammadiyah

Umar meninggal pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Ia dibunuh oleh Abu Lukluk karena dendamnya terhadap Umar karena sakit hati atas kekalahan Persia, yang saat itu merupakan negara adidaya Umar bin Khattab.

Umar dan Baitul Maqdis

Penaklukan Umar bin Khattab terhadap kota Yerusalem (Baitul Maqdis), situs tersuci Islam ketiga setelah Makkah dan Madinah terjadi pada tahun 637 Masehi dari tangan Kekuasaan Kaisar Romawi Timur.

Umar mendapati kompleks Masjidil Aqsa tidak terawat dan berupa reruntuhan. Umar kemudian menemukan Batu Pondasi sisa peninggalan nabi-nabi terdahulu.

Penemuan ini atas bantuan Ka’ab Al-Ahbar yang seorang mantan Yahudi. Gus Baha menceritakan, walaupun Ka’ab Al-Ahbar sudah masukan Islam akan tetapi logika dan pemikiran Yahudi masih melekat.

Ka’ab al-Ahbar mengusulkan kepada Umar untuk membangun bangunan Masjid di sebelah Utara sehingga Umat Islam dapat shalat menghadap dua kiblat, yakni Baitul Maqdis dan Masjidil Haram.

Tambahan Gus Baha, pikiran elek Ka’ab al-Ahbar ora Ilang masio mlebu Islam (pikiran untuk menang sendiri Ka’ab al-Ahbar tidak hilang walaupun masuk Islam).

Akan tetapi, Umar menolak gagasan itu dan membangun masjid di selatan batu dan membelakangi kiblat terdahulu. Peneliti mengatakan pada tahun 670 M, bentuk masjid Aqsa berbentuk persegi dengan material dari kayu dan mampu menampung 3000 jamaah.

Pada masa Kekhalifahan Umayah, mulai didirikan beberapa bangunan di tanah Masjidil Aqsa. Pada tahun 691, didirikan sebuah bangunan segi delapan berkubah yang menaungi Batu Fondasi oleh Khalifah yang disebut sebagai dome of Rock atau Masjid Kubah Ash-Sakhrah.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan