Universitas Sankore: Sejarah, Karya, Sistem dan Tingkat Pendidikannya

Universitas Sankore: Sejarah, Karya, Sistem dan Tingkat Pendidikannya

PeciHitam.org Universitas Islam terkemuka di dunia pada saat ini bisa dipastikan akan merujuk dan menyebutkan Universitas Al-Azhar di Mesir, Al-Ahghaff di Yaman, Ummul Qura’ di Makkah, dan Universitas Madinah.

Diluar Uniersitas di atas, Umat Islam tidak terlalu mengenal, padahal pada era abad pertengahan dikenal Universitas Qurtuba (di Spanyol) dan Universitas Sankore di Timbuktu Mali.

Pergolakan zaman, kemunduran dinasti serta keruntuhan kekuasaan kerajaan menjadikan Univversitas Sankore dan Qurtuba menjadi meredup bahkan hilang.

Untuk Universitas Qurtuba sudah tidak lagi beroperasi karena memang wilayah kekuasaan Bani Umayyah di Andalusia mengalami kekalahan dan kehancuran.

Sedangkan Universitas Sankore di Timbuktu Mali hanya menyisakan kenangan masa lalu yang gilang gemilang dibebankan kepada Situs Masjid Djingreyber. Berikut ulasan Universitas Sankore, pusat peradaban Islam di Afrika Tengah.

Pusat Pendidikan Abad 13-15 di Afrika

Universitas adalah sebuah lembaga pendidikan tinggi yang unik karena menempatkan Masjid sebagai pusat pembelajarannya. Universitas Sankore merujuk pada sebutan dari  Masjid Sankore yang menjadi salah satu dari tiga pusat pembelajaran kuno di Timbuktu, Mali.

Selain Masjid Sankore, Universitas Sankore juga merujuk pada pembelajaran di Masjid Masjid Djingreyber dan Masjid Sidi Yahya. Puncak kemasyhuran Universitas Sankore terjadi pada abad 14 -16 M yang mana disana mempunyai Mahasiswa puluhan ribu.

Perkembangan Uniersitas Sankore tidak terlepas dari Hakim Lokal Kota Timbuktu, Al-Qadhi Aqib bin Mahmud bin Umar pada tahun 988 M. pembangunan awal Universitas Sankore yang merangkap sebagai masjid untuk ibadah berasal dari seorang dermawanan suku Mandinka. Namun perkembangan awal hanya sebagai tempat belajar Islam yang ada disekitar Masjid.

Perkembangan massif baru dirasakan ketika Timbuktu diinasi oleh Kerajaan Mali dan memperoleh kontrol langsung pada tahun 1324 M. Universitas Sankore memperoleh dukungan untuk pembangunan secara masif ketika masa pemerintahan raja Mansa Musa Kankou juga dikenal sebagai Musa I “King of Kings”.

Rancangan dan pengawasan Raja Mansa Musa dilakukan secara langsung untuk memastikan pembangunan salah satu masjid besar pertama dilakukan dengan baik.

Baca Juga:  Asal-Usul Masyarakat Arab Hingga Berkembangannya Islam Di sana

Masjid Universitas Sankore pertama adalah Masjid DJingereyber yang dibangun pada tahun 1327 M. Pembangunan secara besar-besaran tidak mendapatkan kendala karena Raja Mansa Musa terkenal sebagai Raja Terkaya dalam Sejarah Islam.

Raja Mansa Musa juga banyak medukung perkembangan Universitas Sankore dengan melakukan perjalanan ke Mesir, Fez, dan Makkah untuk merekrut pengajar di Uniersitas Sankore.

Dengan dukungan Ilmuan dari Fez, Mesir dan wilayah Islam menjadikan Universitas Sankore menjadi mercusuar pendidikan Islam pada masanya.

Setidaknya masa kejayaan Universitas Sankore tetap berjalan selama lebih dari 2,5 abad sejak dikembangkan dengan baik oleh Raja Mansa Musa sampai masa Dinasti Askia yang berkuasa di Timbuktu sampai tahun 1591 M.

Sistem Pendidikan di Universitas Sankore

Universitas Sankore terbilang unik dan berbeda dari universitas yang ada di Eropa. Sistem pendidikan tinggi yang ditawarkannya terbilang amat khas.

Perguruan tinggi ini tak mengenal pusat administrasi, daftar mahasiswa, atau penentuan program studi. Universitas ini menawarkan kebebasan bagi para mahasiswanya untuk mengambil studi apa pun yang diinginkannya.

Perguruan tinggi yang berada di Timbuktu, Mali, Afrika Barat, itu merupakan kumpulan beberapa sekolah independen atau fakultas yang masing-masing dikelola dan dipimpin oleh seorang guru atau imam.

Para mahasiswa mempelajari satu bidang studi dari seorang guru. Kuliah dilakukan di halaman kompleks masjid yang terbuka atau rumah tinggal sang guru atau imam.

Metode pendaftaran serta format pendidikan yang ditawarkan universitas ini terbilang sangat sederhana. Universitas Sankore lebih mementingkan dan memastikan kurikulum yang diajarkan bisa lebih intens dan komprehensif, baik itu ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Ada tiga tingkatan studi yang ditawarkan universitas ini bagi para mahasiswanya.

Baca Juga:  Kisah Rasulullah dan Kaum Muslimin Hijrah ke Negeri Habasyah (Ethiopia)

Karya Ilmiah Di Universitas Sankore

Pada akhir pemerintahan Mansa Musa (awal abad ke-14 M), secara resmi Masjid Sankore diubah menjadi Madrasah dengan jenjang pendidikan tinggi ditandai dengan pemberian gelar pada setiap lulusannya (sekolah Islam atau dalam hal ini universitas).

Universitasini memiliki koleksi buku perputakaan pada zamannya yang sangat lengkap. Didaratan Afrika merupakan terbesar kedua setelah Perpustakaan Alexandria.

Tingkat pembelajaran  di Unniversitas Sankore Timbuktu pada zamannya sangat maju dibandingkan dengan pendidikan islam lainnya. Universitas Sankore mempunyai asrama mahasiswa yang menampung 25.000 orang dan memiliki perpustakaan  dengan koleksi buku sangat lengkap mencapai 400.000 sampai 700.000 manuskrip.

Melihat kejayaan masa lalu, pada saat ini pemandangan yang tersaji di lapangan sangat tragis. Pusat pendidikan dan peradaban warisan intelektual dari Timbuktu cenderung diabaikan dalam sejarah. Penggambarannya seperti halaman sejarah dunia yang sobek dan terserak.

Tingkatan Pendidikan di Universitas Sankore

Pendidikan Universitas Sankore sangat ketat. Tingkat pertama: Pada tingkat ini, para mahasiswa harus menghafal al-Quran serta menguasai bahasa Arab secara sempurna.

Para mahasiswa juga diajarkan bagaimana berkomunikasi dan menulis secara efektif. Para pelajar juga diperkenalkan dengan dasar-dasar ilmu lainnya. Tingkat dasar ini sering disebut sebagai sekolah al-Quran.

Tingkat kedua: Memasuki tingkat kedua, para mahasiswa harus memiliki komitmen untuk mengingat dan mengamalkan al-Quran. Ini dipandang amat penting, karena seluruh ilmu Islam bersumber dari al-Quran. Setiap pengajaran dan penjelasan yang tak didukung dengan ayat-ayat al-Quran akan ditolak. Tahap ini juga bisa disebut tingkat pembelajaran umum.

Pada tingkat kedua ini, para mahasiswa diperkenalkan dengan beragam pengetahuan keislaman seperti; tata bahasa (قواعد اللغة), tafsir Al-Quran, hadits, hukum Islam (قانون الإسلام), matematika, geografi, sejarah, fisika, madzhab-madzhab Islam, kimia, serta ilmu penyucian hati dan jiwa. Para mahasiswa pun belajar kode etik berniaga dan berbisnis. Ini dianggap penting karena para mahasiswa akan menjadi imam.

Baca Juga:  Kisah Terbunuhnya Abu Jahal di Perang Badar

Tingkat superior: Pada tahap ini kurikulum yang diajarkan sudah dispesialisasi dan sudah pada level yang tinggi. Para mahasiswa akan belajar di kelas yang dipimpin oleh seorang profesor ternama. Tingkat ini merupakan salah satu unggulan yang ditawarkan Universitas Sankore. Di tingkat superior ini para mahasiswa dituntut untuk lebih banyak melakukan riset.

Para guru besar akan mengajukan pertanyaan yang berlainan dengan bidang studi yang diajarkan. Lalu, mereka dituntut untuk melakukan penelitian. Hasilnya disampaikan di depan sang guru besar.

Para mahasiswa berusaha mempertahankan pendapatnya, sementara mahasiswa lain akan menghujaninya dengan pertanyaan yang kritis. Hal ini membuat para mahasiswa serius melakukan risetnya.

Mahasiswa pada tingkat ini bisa belajar dari satu departemen (fakultas) ke fakultas lainnya yang dipimpin seorang guru besar. Kebanyakan mahasiswa akan mencari seorang syekh atau master dan belajar secara langsung kepadanya.

Tingkatan ini setinggi Ph.D (gelar formal jenjang strata-3 dunia barat) pada saat ini. Untuk menyelesaikan tingkatan ini, seorang mahasiswa harus menempuh studi selama 10 tahun.

Sebagai  lambang wisuda, Universitas Sankore memiliki cara unik. Pada saat ini seorang rektor akan memakaikan topi toga saat mewisuda para lulusannya. Tradisi wisuda Universitas Sankore dengan memakaikan sorban tradisional Timbuktu sebagai tanda sebagai lulusan universitas.

Tradisi ini melambangkan bahwa sorban mewakili nama Allah SWT dengan membawa nilai-nilai cahaya Ilahi, kebijaksanaan ilmu pengetahuan dan perilaku moral yang baik sesuai islam.

Seorang lulusan juga harus senantiasa merawat dan menumbuh-kembangkan nilai-nilai pendidikan islam dalam setiap sendi kehidupan mereka.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG