Khalifah Utsman bin Affan; Dermawan yang Syahid Terbunuh

Khalifah Utsman bin Affan; Dermawan yang syahid Terbunuh

PeciHitam.org – Utsman bin Affan merupakan salah seorang sahabat Nabi yang dipercaya melanjutkan estafet kepemimpinan, Khulafa ar-Rasyidin. Setelah Rasulullah wafat, estafet kepemimpinannya diturunkan kepada Abu Bakar dan berlanjut kepada Umar bin Khattab. Barulah kemudian digantikan oleh Utsman bin Affan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hal ini tentu bukan tanpa alasan, selain dilihat dari ketaatannya menjalankan perintah Allah, ia menggunakan malam hari untuk membaca Al-Quran, berdzikir, dan shalat malam.

Tidak hanya dalam urusan ibadah saja, Ustman juga banyak memberikan kontribusi terhadap kemaslahatan umat, berakhlak mulia, berpendidikan tinggi dan berasal dari keluarga yang kaya raya silsilah Bani Umayyah.

Meski berasal dari keluarga yang kaya raya dan sukses sebagai seorang saudagar, namun ia tidak menimbun harta tanpa disedekahkan kepada orang yang lebih membutuhkan.

Ia bahkan senantiasa hidup sederhana. Kekayaannya tersebut tidak membuatnya sombong ataupun angkuh. Dalam menjamu para tamunya, segala hidangan lezat nan mewah disajikan. Namun dalam kesehariannya di rumah, ia terbiasa dengan hanya makan roti yang dibalut minyak.

Utsman bin Affan memiliki julukan Dzun Nurain atau yang biasa diartikan pemilik dua cahaya. Julukan tersebut disematkan kepadanya dikarenakan Utsman menikah dengan dua putri Rasulullah, yaitu Ruqayah dan Ummu Kultsum.

Ustman bin Affan pertama kali menikah dengan Ruqayah yang sejatinya telah bercerai dengan Utbah yang merupakan anak dari Abu Lahab. Perceraian antara Ruqayah dan Utbah tersebut disebabkan karena desakan Abu Lahab dan isterinya.

Setelah resmi bercerai, kemudian Rasulullah menikahkan Ruqayah dengan Utsman. Namun tak lama kemudian, saat di Madinah, Ruqayah sakit parah dan akhirnya meninggal dunia. Ustman pun sangat sedih ditinggalkan oleh isteri yang sangat dicintainya tersebut.

Selama Ruqayah sakit, Utsman lah yang merawat Ruqayah dengan sabar dan penuh kasih sayang. Bahkan pada suatu ketika, saat Rasulullah menyerukan perintah perang, Ustman dihadapkan oleh dua pilihan yang sulit.

Di satu sisi, ia ingin ikut serta berjihad. Namun di sisi lain, ia juga tidak tega meninggalkan isterinya yang sedang sakit parah.

Akhirnya, Rasulullah memerintahkan agar Utsman kali ini tidak ikut berperang. Ia tetap mengurus Ruqayah dan menemaninya hingga ia wafat. Setelah Ruqayah wafat, Rasulullah kemudian menikahkan Utsman dengan adik Ruqayah, yaitu Ummu Kultsum. Pernikahan Utsman dan Ummu Kultsum tidak berlangsung lama karena Ummu Kultsum juga meninggal.

Kisah Kedermawanan Utsman bin Affan

Pada masa Rasulullah masih hidup, pernah suatu ketika dilanda kekeringan yang mengakibatkan sumur di wilayah tersebut kering. Para penduduk pun menjadi kekurangan air. Namun kala itu masih ada sebuah sumur milik orang Yahudi terdapat air.

Baca Juga:  Sejarah Imperium Islam Pada Kerajaan Mughal di India

Mengetahui hal tersebut, kemudian Rasulullah bertanya, “Siapakah yang mau membeli sumur milik orang Yahudi itu ? Allah menyediakan surga bagi orang yang melakukannya”.

Saat itu pula, tanpa pikir panjang dengan sukarela Ustman bin Affan menjawab, “Ya Rasulullah, aku bersedia membeli sumur itu”. Dengan demikian, kaum muslim dapat memanfaatkan air yang ada di telaga itu.

Selain itu, kisah kedermawanan Ustman juga terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ra. Pada masa itu, penduduk Madinah mengalami kelaparan yang disebabkan karena dilanda kekeringan yang panjang.

Hal tersebut sampai ditelinga Khalifah Abu Bakar. Khalifah Abu Bakar pun meminta agar para penduduk Madinah bersabar dan berharap Allah segera memberikan kemudahan serta diberikan jalan keluar.

Ternyata kabar kelaparan penduduk Madinah tersebut juga telah sampai di telinga Utsman. Pada keesokan harinya, kafilah niaga Utsman bin Affan pun didatangkan ke Madinah dengan membawa seribu unta.

Masing-masing unta tersebut membawa bahan-bahan makanan yang dibutuhkan oleh penduduk Madinah.

Para pedagang lain di kota Madinah kala itu pun menemui Utsman bin Affan. Salah seorang pedagang menawarkan kepada Utsman bahwa harga barang yang biasanya dihargai satu dirham, akan dibeli dengan harga dua dirham. Namun, Utsman menolaknya.

Tidak mau kalah, pedagang lain pun menawarkan harga yang jauh lebih tinggi. Namun lagi-lagi Utsman tetap menolaknya. Para pedagang terus memberikan tawaran yang lebih tinggi hingga harga menjadi berkali-kali lipat.

Para pedagang berkata, “Tidak ada pedagang yang memiliki kemampuan membeli seperti kami. Siapakah pedagang yang mampu memberi keuntungan lebih besar dari pada kami ? Ustman berkata, “Allah mampu memberikan keuntungan berpuluh kali lipat”.

Ternyata, kedatangan Utsman bin Affan beserta kafilah niaganya tersebut bermaksud untuk memberikan barang daganganya bagi penduduk miskin di Madinah sebagai sedekah. Walhasil, pada hari itu, kebutuhan dasar seluruh fakir miskin di Madinah tercukupi dan mengobati kelaparannya.

Masa Kekhalifahan Usman bin Affan

Utsman bin Affan diangkat menjadi Khalifah ketiga, menggantikan Umar bin Khattab yang terbunuh. Pada masa kekhalifahannya, ajaran Islam telah tersebar luas, meliputi wilayah Kaukasus, Afrika, Sind (di Asia Selatan dan Pulau-pulau di sekitar Laut Mediterania).

Baca Juga:  Masihkah Sekarang Menjadi Era Kebangkitan Islam?

Perluasan Masjid Nabawi pertama kali dilakukan oleh Utsman bin Affan dari katong pribadinya tersebut. Dana yang dihabiskan untuk perluasan tesebut sebesar 20.000 dirham. Hal ini disebabkan karena Masjid Nabawi kala itu dirasa sudah tidak dapat menampung jamaah.

Tidak hanya itu, peristiwa bersejarah lainnya seperti kodifikasi atau pengumpulan mushaf al-Quran juga terjadi pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Suatu ketika, Hudzaifah bin Al-Yaman sepulangnya dari perang di Armenia, merasa bahwa ia harus secepatnya menemui Khalifah Utsman.

Hudzaifah menyampaikan kekhawatirannya tentang perbedaan cara membaca Al-Quran di kalangan umat Islam di berbagai wilayah. Hudzaifah pernah mendapati umat muslim membaca Al-Quran disesuaikan dengan logat masing-masing wilayahnya. Hal itu menyebabkan perselisihan di antara mereka.

Mendengar laporan tersebut, kemudian Khalifah Utsman bin Affan memutuskan untuk melakukan kodifikasi atau pengumpulan mushaf Al-Quran. Hal ini didukung para sahabat lainnya.

Ustman memerintahkan untuk menyalin lembaran-lembaran Al-Quran dalam satu mushaf. Mushaf hasil kodifikasi inilah yang sampai saat ini dibaca oleh kaum muslimin seantero dunia.

Sejarah Kelam Terbunuhnya Utsman

Peristiwa terbunuhnya Usman bin Affan, merupakan salah satu rentetan sejarah Islam yang kelam. Peristiwa tersebut tidak terlepas dari banyaknya fitnah yang menimpa Khalifah Utsman bin Affan.

Dampak peristiwa tersebut bahkan berlanjut ke generasi selanjutnya. Pada masa awal pemerintahan Ali bin Abi Thalib misalnya, tuntutan untuk segera menjatuhi hukuman atas para pembunuhnya sangatlah kuat.

Namun belum ada bukti kuat dan valid yang menjurus pada nama-nama dari para pembunuh tersebut. Saling tuduh pun tak terelakkan, antara pihak Ali maupun pihak Talhah az-Zubair.

Masing-masing menuduh bahwa salah satu di antaranya pasti merupakan dalang dari kasus pembunuhan Utsman bin Affan.

Bahkan ditemukan dalam literatur kesejarahan yang menyebutkan bahwa Ali sebagai pembunuhnya, yaitu dalam karya ulama Khawarij dari kalangan Ibadhiyyah, yakni kitab al-Kasyfu wa al-Bayan karya Abu Abdillah Muhammad bin Said al-Azdiy al-Qalhatiy yang ditahkik sebagiannya oleh Muhammad bin Abdul Jalil.

Dalam kitab tersebut, al-Qalhati membagi tiga kelompok umat Islam pasca pembunuhan Usman bin Affan seperti yang dapat kita lihat pada kutipan berikut:

فأما الفرقة القاتلة له فعلي بن أبي طالب وأصحابه وأهل المدينة والمهاجرون والأنصار وأما الفرقة الواقفة عنه فسعد بن أبي وقاص وعبد الله بن عمر ومحمد بن مسلمة وأسامة بن زيد وأما الفرقة الطالبة بدمه فطلحة بن عبيد الله والزبير بن العوام ومعاوية بن أبي سفيان فسميت الفرقة الأولى وهي القاتلة أهل الاستقامة والفرقة الواقفة الشكاك والفرقة المطالبة بدمه العثمانية.

Baca Juga:  Sejarah Modernisasi Agama dan Kebangkitan Politik di Dunia Islam

Pertama, kelompok pembunuh Utsman bin Affan seperti Ali bin Abi Thalib, beberapa sahabatnya, penduduk Madinah dan Muhajirin dan Anshar; kedua, kelompok yang netral, yakni yang tidak berpandangan mengenai perlunya membunuh Utsman atau tidak. Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Muhammad bin Maslamah dan Usamah bin Zaid termasuk kepada kelompok kedua ini; ketiga, kelompok yang menuntut keadilan bagi Usman bin Affan. Mereka ini seperti Thalhah bin Abdillah, az-Zubair bin al-Awam dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Kelompok pertama disebut sebagai ahli istiqamah, kelompok kedua disebut sebagai ahli kegamangan dan kelompok ketiga disebut juga sebagai al-Usmaniyyah.”

Pendapat di atas jelas ditolak oleh kalangan Sunni dan Syiah. Kalangan Sunni dan Syiah justru berpandangan bahwa Ali lah yang berperan membantu melindungi Utsman.

Ibnu Taymiyyah al-Harrani – seperti yang dikutip Nurcholish Madjid dalam Islam, Doktrin dan Peradaban – menyebutkan dalam bukunya yang terkenal, Minhaj as-Sunnah fi Naqd Kalam Syiah-Qadariyyah, bahwa para pembunuh Usman bin Affan merupakan salah satu elemen pendukung kekhalifahan Ali abi Thalib. Intinya, mereka adalah orang-orang yang bersembunyi di balik pemerintahan Ali bin Abi Thalib.

Demikian sejarah singkat mengenai sahabat Utsman bin Affan. Sejarah kekhalifahan seperti ini memanglah harus diketahui oleh umat muslim. Tidak dipungkiri juga di zaman sahabat beberapa kali terjadi peristiwa kelam yang menyayat hati.

Mulai dari fitnah, intrik politik kotor sampai pembunuhan. Hal ini sekaligus menjadi pengingat untuk diri kita agar dapat mengambil hikmah dari suatu peristiwa tersebut. Wallahu A’lam.

Mohammad Mufid Muwaffaq