Wahabi; Dihancurkan Turki Utsmani dan Dukungan Mereka Terhadap Israel

Wahabi; Dihancurkan Turki Utsmani dan Dukungan Mereka Terhadap Israel

PeciHitam.org – Sejak awal kemunculannya, Aliran Wahabi memang sering menimbulkan banyak kesalahpahaman di kalangan umat Islam. Bagimana tidak? Mereka yang mengaku paling dekat dengan Ahlussunnah wal Jamaah nyatanya menyimpang jauh dari pemahaman Aswaja.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Maka tak heran jika banyak penolakan terjadi di berbagai belahan dunia terhadap aliran Wahabi seperti yang sudah disepakati oleh Ulama Ahlusunnah wal Jamaah dalam Konferensi Chechnya pada tahun 2016 lalu.

Ada beberapa kisah mengenai Wahabi yang sepertinya harus kita tahu agar, diantaranya yaitu kisa kekalahan Wahabi oleh Kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1815 dan dukungan Wahabi terhadap Israel pada tahun 1967.

Turki Utsmani Hancurkan Pasukan Wahabi

Kehancuran pasukan  Abdullah bin Sa’ud ini terjadi pada tahun 1815 dimana akibat dari kekalahan ini,  Abdullah bin Sa’ud dan anggota keluarganya ditawan di Kota Kairo dan kemudian dipindahkan ke Konstantinopel Turki.

Abdullah bin Sa’ud didakwa sebagai otak dari pemberontakan dan pembunuhan ribuan muslim Ahlussunnah wal Jamaah di Jazirah Arab. Kekejaman yang dilakukan oleh  Abdullah bin Sa’ud ini dilakukan untuk menerbakan ajaran Mazhab Wahabi Salabi di Jazirah Arab.

Baca Juga:  Kisah Ayah Membunuh Anaknya yang Berakidah Wahabi

Pada tahun 1902 cucu dari  Abdullah bin Sa’ud yaitu Abdul Aziz bin Abdurrahman Ibn Sa’ud berupaya untuk mengembalikan kejayaan Wahabi Salafi di Jazirah Arab. Gerakan ini didukung oleh Klan as-Sabah di Kuwait dan Klan Sa’ud di Inggris.

Wakil Kerajaan Inggirs Percy Cox pada tanggal 13 Juni 1913 juga membuat traktat atau perjanjian internasional dengan Klan Sa’ud. Dalam salah satu isi perjanjian tersebut, salah seorang pemimpin wahabi mengatakan sebagaimana berikut:

“Dan dengan melihat perasaan cintaku kepada kalian, aku sangat berharap hubunganku dengan kalian seperti hubungan-hubungan yang telah lama terjalin antara kalian dengan para leluhurku, sebagaimana aku sangat berharap hubungan itu tetap terjalin (baik) antara aku dengan kalian”.

Perjanjian Internasional ini kemudian dilanjutkan dengan ditandatanganinya perjanjian resmi antara Wahabi dan Pemerintahan inggirs yang dilakukan dalam Muktamar di Al-Aqir tahun 1927 M atau 1341 H di distrik Ahsaa. Pimpiman Wahabi pada waktu itu mengatakan:

“Aku berikrar dan mengakui 1000 kali kepada Sir Percy Cox wakil Britania Raya, tidak ada halangan bagiku (sama sekali) untuk memberikan Palestina kepada Yahudi atau yang lainnya sesuai dengan keinginan Inggris, yang mana aku tidak akan keluar dari keinginan Inggris sampai hari kiamat“. Pada tahun 1953 Muhammad Ibnu Sa’ud mati dan digantikan Raja Sa’ud dan berlanjut ke Raja Faisal.

Dari perjanjian dengan Percy Cox inilah kekuatan Wahabi di Jazirah Arab mulai berkembang dan terus bertahan hingga saat ini.

Baca Juga:  Semua Hadits Tawassul Didhaifkan Wahabi, Kecuali Ini

Wahabi dan Israel

Sepak terjang Aliran Wahabi terus berjalan usai mendapat ‘lampu hijau’ dari inggris. Pada tahun 1967 Israel melakukan perang terbuka dengan beberapa negara Timur Tengah dan mendapatkan dukungan Amerika beserta kroninya dari Eropa Barat.

Ketika perang berkobar, beberapa pemimpin Wahabi menyampaikan pidato seperti ini ‘Wahai saudara-saudaraku, aku baru saja datang dari saudara-saudara kalian di Amerika, Britania, dan Eropa. Kalian mencintai mereka, dan mereka pun mencintai kalian’.

Washington Post Tahun 1969,  mewawancarai salah satu pimpinan Wahabi. Mereka mengakui memiliki kedekatan khusus dengan Zionis Israel, “Sesungguhnya kami dengan bangsa Yahudi adalah sepupu. Kami tidak akan rela melemparkan mereka ke laut sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang, melainkan kami ingin hidup bersama mereka dengan penuh kedamaian“.

Baca Juga:  Perbedaan dan Pertikaian Antara Ikhwanul Muslimin dengan Salafi Wahabi

Pakar sejarah Wahabiyah telah menemukan bukti bahwa untuk memurnikan tauhid Wahabi, diciptakanlah jargon-jargon dan dipropagandakan kepada kaum muslim atas perintah Kerajaan Inggris.

Jargon yang dibuat bersifat indoktrinasi yaitu muslim Ahlussunnah Wal Jama’ah harus dipaksa menjadi boneka-boneka perang mereka dan dipaksa untuk menerima paham Wahabi.

Begitulah sedikit sejarah kelam bagaimana Wahabi dihancurkan oleh Turki Utsmani karena pemberontakan dan dukungan mereka terhadap Israel. Semoga kita semua dijauhkan dari Fitnah Golongan Wahabi.

Mohammad Mufid Muwaffaq