Wajib Tahu! Islam Melarang Orang Tua Menyakiti Hati Anak

Orang Tua Menyakiti Hati Anak

Pecihitam.org – Cara mendidik anak yaitu dimulai dari lisan atau perkataan yang dikeluarkan oleh orang tua. Namun terkadang masih ada orang tua yang menerapkan pola yang salah dalam mendidik anak, yaitu dengan mengatakan hal-hal buruk tentang anak, atau menyakiti hati anak. Pentingnya menjaga perkataan dan perasaan anak dapat mempengaruhi perkembangan anak.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Seorang lelaki penah mendatangi Umar bin Khattab seraya mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar kemudian memanggil anak orang tua itu dan menghardiknya atas kedurhakaannya. Tidak lama kemudan anak itu berkata,

“ Wahai Amirul Mukminin, bukankah sang anak memiliki hak atas orang tuanya?” “ Betul,” jawab Umar.

“ Apakah hak sang anak?”

“Memilih calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarkannya Al-Qur’an,” jawab Umar.

“ Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang engkau sebutkan. Adapun ibuku, ia adalah wanita berkulit hitam bekas hamba sahaya orang majusi; ia menamakanku Ju’lan (kumbang), dan tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur’an,” kata anak itu.

Umar segera memandang orang tua itu dan berkata kepadanya, “ Engkau datang untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”

Baca Juga:  Filosofi dan Makna di Balik Kontruksi Masjid Agung Demak

Rasulullah SAW sangat menekankan agar kita memberi nama yang baik kepada anak-anak kita. Abu Darda’ meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perbaikilah nama kalian.” (HR. Abu Dawud dalam Kitab Adab, hadits nomor 4297).

Jadi, adalah sebuah bentuk kejahatan bila kita memberi dan memanggil anak kita dengan sebutan yang buruk lagi dan bermakna menghinakan dirinya. Selain itu psikologis anak akan terganggu ketika orang tua tidak mendukung perkembangannya, malah mencaci atau memaki anak, sehingga menjadikan anak pemberontak.

Jangan pernah mendidik anak dengan menyakiti hatinya. Seperti memberikan respon dan pernyataan negatif, itu justru menyakiti hati anak, dan ketika dia merasa sakit hati akan berpengaruh juga dengan potensi dirinya.

Lebih baik menggunakan kalimat yang positif yang tidak menjadikan mental anak menjadi menciut dan bahkan minder. Lebih baik menggunakan kalimat positif yang dapat membangun motivasi serta kemajuan anak sendiri.

Karena menjadi orang tua berarti dia siap untuk mengajar seumur hidup. Sehingga mengajari anak sesuai dengan zamannya namun jangan serta merta mengandalkan teknologi. Sehingga menyelipkan ajaran-ajaran Islam atau mencontohkan perilaku Rosulullah SAW. Beliau melarang keras mendidik anak dengan kekerasan.

Baca Juga:  Budaya Perayaan Idul Fitri di Indonesia, Adakah Relevansinya dengan Ajaran Islam?

Selain itu jangan pula mengajari pilih kasih terhadap anak.

فَاتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ

Artinya, “Bertakwalah kepada Allah. Bersikap adillah terhadap anak-anakmu,” (HR Bukhari)

Menyayangi satu anak dan mengabaikan anak yang lain, merupakan sebuah perilaku yang menyakiti hati anak, sikap ini adalah salah satu faktor yang menyebabkan putusnya tali silaturahmi dalam keluarga, maka hukumnya tidak boleh.

وَيُكْرَهُ لِأَصْلٍ تَفْضِيْلٌ فِيْ عَطِيَةِ فُرُوْعٍ وَإِنْ سَفَلُوْا وَلَوِ اْلأَحْفَادَ مَعَ وُجُوْدِ اْلأَوْلاَد

Artinya, “Orang tua dimakruh bersikap pilih kasih dalam pemberian terhadap anak, walaupun ke bawah atau cucu meski anaknya masih ada,” (Lihat Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in pada I’anatut Thalibin, [Singapura, Sulaiman Mar’i: tanpa catatan tahun], juz III, halaman 153).

Nu’man bin Basyir bercerita, “ Ayahku menginfakkan sebagian hartanya untukku. Ibuku –’Amrah binti Rawahah—kemudian berkata, ‘Saya tidak suka engkau melakukan hal itu sehingga menemui Rasulullah.’ Ayahku kemudian berangkat menemui Rasulullah SAW. sebagai saksi atas sedekah yang diberikan kepadaku. Rasulullah saw. berkata kepadanya,
‘Apakah engkau melakukan hal ini kepada seluruh anak-anakmu?’ Ia berkata, ‘Tidak.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.’ Ayahku kemudian kembali dan menarik lagi sedekah itu.” (HR. Muslim dalam Kitab Al-Hibaat).

Tidak memberikan pendidikan kepada anak, meninggalkan, menelantarkan anak adalah perilaku tercela yang tidak dibenarkan oleh agama, terutama seorang ibu, karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ada syair Arab yang berbunyi,

Baca Juga:  Silang Pendapat Arti Golongan Salaf dalam Hadis Nabi

“Anak yatim itu bukanlah anak yang telah ditinggal orang tuanya dan meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan hina. Sesungguhnya anak yatim itu adalah yang tidak dapat dekat dengan ibunya yang selalu menghindar darinya, atau ayah yang selalu sibuk dan tidak ada waktu bagi anaknya.”

Anak akan merasa kehilangan ketika orang tua mengabaikannya, tidak pernah memberikan nasehat terhadapnya, bahkan tidak pernah meluangkan waktu untuk sekedar mendengarkan keluh kesahnya. itu adalah hal buruk yang orang tua lakukan terhadap anak. Maka bijaklah sebagai orang tua dan jangalah menyakiti hati anak, sebab hal demikian tidaklah dibenarkan dalam islam. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik