Tradisi Ziarah Kubur Menjelang Bulan Suci Ramadhan

ziarah kubur menjelang ramadhan

Pecihitam.org – Saat ini kita telah memasuki bulan Sya’ban itu berarti tidak lama lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Salah satu tradisi yang dilakukan umat Islam menjelang bulan Ramadhan adalah dengan ziarah ke kubur.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Orang jawa mengenal ziarah kubur menjelang Ramadhan dengan nama nyadran. Orang Sunda menyebutnya nadran. Orang bugis mengistilahkannya dengan massiara atau mabbollo-bollo kubburu.

Tradisi ziarah kubur umumnya terdiri dari empat bentuk, yaitu:

Pertama, ziarah orang mulia yang masih hidup kepada orang mulia yang telah meninggal. Misalnya ulama mengunjungi pusara ulama lainnnya. Ketika Nabi saw melakukan Isra Mi’raj menurut riwayat, Nabi saw berziarah ke kuburan para Nabi dan melakukan shalat disamping kuburan setiap Nabi lalu berdoa di samping para nabi.

Salah satu adab dalam berziarah adalah berdoa kepada Allah swt membaca doa tawassul yang singkat, seperti, “Ya Allah aku bermohon kepada-Mu melalui perantaraan kepada Nabi-Mu dan keluarganya, janganlah engkau azab mayit ini.

al-Hakim dalam kitab Mustadraknya menyebutkan sayyidah Fathimah, setiap hari jumat berziarah ke kekuburan pamannya Hamzah yang gugur di perang Uhud. Ketika Nabi saw meninggal, Sayyidah Fathimah setiap hari berziarah ke kuburan ayahnya. Tradisi berziarah ke kuburan orang mulia juga dilanjutkan oleh para ulama.

Baca Juga:  Kumpulan Ucapan Spesial Menyambut Ramadhan 2020 yang Bisa Dibagikan di Sosmedmu

Imam Syafii sering berziarah ke makam Abu Hanifah di Irak. Ketika Imam Syafii shalat dalam kunjungannya ke makam Abu Hanifah ia tinggalkan Qunut sebab menghormati Imam Abu Hanifah yang tidak mensunnahkan Qunut Subuh. Ini adalah tradisi yang sangat mulia, namun sayangnya sebagian besar umat Islam tidak sanggup mengikuti tradisi Imam Syafii.

Buya Hamka, ketika memimpin shalat subuh ia melakukan Qunut sebab salah satu makmunnya dari NU yang mensunnahkan Qunut Subuh. Dan yang sama dilakukan oleh orang NU, ia tidak qunut karena menghormati Buya Hamka yang tidak qunut subuh. Subhanallah, sungguh kita rindu ulama-ulama seperti mereka.

Kedua, adalah ziarah orang mulia kepada orang biasa. Nabi saw dalam banyak riwayat sering berkunjung kepada kuburan kaum muslimin. Kehadiran Nabi saw ke kuburan kaum muslimin bertujuan agar umatnya mendapatkan keringanan azab dalam kubur, sebab kehadiran nabi sendiri dapat menghilangkan azab, terlebih lagi bila Nabi saw berdoa untuk mereka.

Baca Juga:  Apakah Ilmu Laduni Benar Ada? Adakah Cara untuk Meraihnya?

Nabi saw memiliki kemampuan mukhasyaf menyingkap atau dapat mengetahui kondisi manusia yang ada dalam kuburnya, sehingga bila mereka diazab Nabi saw akan memberikan syafaatnya. Pernah juga Nabi saw mengambil pelepah kurma hijau, yang belum kering dan meletakkan di atasnya, dengan harapan bahwa dengan tasbihnya pelepah kurma itu meringankan siksaan orang yang ada dalam kubur itu.

Ketiga, ziarah orang awam kepada orang mulia. Biasanya ziarah kubur ini dengan motivasi untuk tabarruk atau mendapatkan keberkahan. Ziarah dengan tujuan ini disunahkan dengan mengunjungi kuburnya orang-orang yang dikenal alim dan shaleh pada waktu hidupnya.

Ziarah dengan motivasi ini juga sangat sering dilakukan oleh masyarakat muslim di Indonesia. Misalnya ziarah ke makam para wali dan para kiai yang dipandang memiliki kedekatan dengan Allah dan berjasa dalam berdakwah menebarkan agama Islam di masyarakat.

Keempat, adalah ziarah orang awam kepada orang awam. Menurut Hadis riwayat Bukhari, Muslim, dan al-Turmidzi bahwa Rasulullah saw bersabda: sering berkunjung kepada kuburan itu akan mengingatkan kalian kepada akhirat dan kepada maut.

Selain itu, pada hakikatnya para penghuni kubur sangat merindukan kunjungan keluarganya setelah ia meninggal, sebab mereka berharap didoakan, dibacakan al-Qur’an oleh para keluarganya.

Baca Juga:  Ketika Imam Abu Hanifah Ditanya Hukum Poligami oleh Khalifah dan Istrinya

Pada hakikatnya ziarah kubur juga bermakna menjalin hubungan rohani dengan ahli kubur. Silaturahmi itu bukan hanya terjadi saat hidup tetapi ia tetap berlaku saat ibu, bapak, saudara, tetangga kita mendahului kita.

Apalagi bila yang dikunjungi adalah seorang ulama terlebih lagi seorang Nabi. Kata Nabi saw, “Siapa yang mengunjungiku setelah kematianku adalah seperti mengunjungiku ketika aku hidup”. Di riwayat yang lain, Siapa yang berziarah pada-ku, Aku pastikan syafaatku baginya.

Wa Ma Taufiqi Illa Billahi ‘Alaihi Tawakkaltu wa Ilaihi Unib.        

Muhammad Tahir A.