Gerakan Ahmadiyah; Persiapannya di Akhir Zaman

Gerakan Ahmadiyah; Persiapannya di Akhir Zaman

Pecihitam.org – Gerakan Ahmadiyah merupakan sebuah gerakan dimana pendirinya bernama Mirza Ghulam Ahmad yang berasal dari India. Menurut Kunto, Ia mengaku telah menerima wahyu dari Allah SWT untuk pertama kalinya pada tahun 1881 (Muhtador, 2016).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Menurut Ghulam Ahmad, pribadinya merupakan seseorang yang di utus Allah SWT untuk memperbaiki akhlak umat Islam di bumi ini sesuai dengan tugas nabi pada umumnya. Tidak hanya itu, setelah mendapat wahyu ia mulai untuk menyebarluaskan pandangan yang dimilikinya.

Pada masa hidupnya, Ghulam Ahmad sempat mengamati dan membaca beberapa buku dan kitab dari agama lain. Hal tersebut yang membuatnya memiliki beberapa pandangan tentang Islam sendiri dan mulai menjabarkan kepada semua orang bahwa ia telah menerima wahyu.

Wahyu tersebut terdiri dari dua inti sari. Pertama, menerima baiat dari para penganutnya. Kedua, membuat perahu atau nampan untuk mempersatukan kekuatan umat Islam ke seluruh dunia (Iskandar, 2005).

Selain mengaku sebagai nabi, Ghulam Ahmad juga menyebut dirinya sebagai seorang nabi bayangan atau khalifah dengan gelar yang dimilikinya yaitu al-Masih al-Maud (Syaeful, 2006).

Hal tersebut membuat ia banyak dikagumi oleh para pengikutnya. Dengan mengingat tugas khalifah adalah melanjutkan ajaran nabi terdahulu, maka Ghulam Ahmad sebagai khalifah memiliki tugas untuk menjaga keutuhan agama, menjadi sumber ketenangan dan menjadi sumber pengabdian. 

Ahmadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang berdiri atau telah ada sejak zaman dahulu dan mulai masuk ke Indonesia.

Soekarno sebagai presiden pertama di Indonesia mengakui keberadaan Ahmadiyah sesuai dengan ketetapan Menteri tanggal 13 Maret No. JA/5/23/13 lalu dimuat dalam berita Negara Republik Indonesia No. 22, 31 Maret 1953.

Soekarno sendiri melihat Ahmadiyah dengan netral, tidak langsung menyesatkan agamanya. 

Namun seiring dengan berjalannya waktu, pada tahun 1888 banyak sekali organisasi keagamaan Islam lainnya yang bersorak-sorak kepada Majelis Ulama Indonesia untuk membubarkan golongan Ahmadiyah ini.

Mereka mengatakan bahwa golongan Ahmadiyah adalah golongan yang menyimpang dari syariat Islam sehingga harus dihentikan perkembangan dakwahnya. Hal ini dilakukan agar masyarakat Indonesia tidak menganut ajaran yang diajarkan aliran Ahmadiyah selama ini (Fatoni, 2018).

Umumnya organisasi Islam meyakini bahwa nabi terakhir adalah Nabi Muhammad SAW. Namun berbeda dengan ajaran Ahmadiyah yang kokoh pada pendiriannya dengan beranggapan bahwa ada nabi yang diutus setelah Nabi Muhammad SAW wafat, yakni Mirza Ghulam Ahmad (Saefullah, 2016). 

Dakwah yang dilakukan oleh golongan Ahmadiyah ada berbagai cara yakni Dakwah bil Kalam yaitu dakwah yang dilakukan dengan cara ceramah, diskusi, juga melalui tulisan, majalah dan buku-buku lainnya.

Terakhir dengan melakukan dakwah lewat perilaku sehari-hari yang dapat dilihat oleh masyarakat lain sehingga mereka akan tertarik untuk mengikuti organisasi ini.

Ahmadiyah juga merupakan golongan yang meyakini bahwa sekarang adalah akhir zaman dengan dipercayainya Gulam Ahmad sebagai Al-Mahdi, sehingga mereka memperbanyak kegiatan yang dilakukan demi menambah pahala untuk bekal di akhirat nanti.

Kegiatan yang dilakukannya dapat berupa dakwah, pengajian, melakukan kegiatan ibadah sunnah bersama-sama dan juga melakukan kegiatan sosial yang membantu masyarakat pada umumnya (Saefullah, 2016). 

Ajaran yang membuatnya banyak diperdebatkan oleh organisasi Islam lainnya adalah tentang adanya nabi lain setelah Nabi Muhammad yang menerima utusan dari Allah SWT dan bukan berasal dari keturunan Arab, lalu adanya ajaran-ajaran baru yakni tentang penyaliban Nabi Isa a.s, lalu Imam Mahdi dan Mau`ud dan tentang berjihad di jalan Allah SWT adalah wajib semuanya tidak sesuai dengan ajaran Islam pada umumnya. 

Semakin banyak yang menjatuhkan, biasanya suatu organisasi akan lebih takut untuk melakukan kegiatan. Namun itu tidak terjadi kepada organisasi Ahmadiyah ini. Mereka malah dengan gencar melakukan dakwah dengan berbagai cara untuk menambah jumlah pengikutnya.

Dakwahnya dilakukan secara internal dan eksternal. Tidak hanya itu mereka juga melakukan dakwah dengan cara-cara yang halus, sopan dan santun agar dapat diterima oleh masyarakat.

Kegiatan sosial yang dilakukan biasanya berupa pengajian dari satu tempat ke tempat lainnya, mengajak para anak muda dan para pengikut barunya sering membaca buku-buku tentang ajaran Ahmadiyah dan yang jarang diketahui adalah melakukan kegiatan sosial PMI.

Selain untuk menambah pahala kegiatan seperti ini juga diyakini dapat mempersatukan sesama penganut ajaran Ahmadiyah. 

Tidak hanya itu para penganut Ahmadiyah juga dibekali dengan berbagai ajaran agama yang wajib diketahui dan dilakukan oleh pengikutnya. Para penganutnya yang terdapat di berbagai daerah juga di persiapkan matang-matang untuk menghadapi akhir zaman. 

Demikian singkatnya gerakan persiapan Ahmadiyah menjemput akhir zaman, yaitu dengan mengikuti ajaran yang masih memiliki kepercayaan khalifat Al-Masih sebagai imam umat Islam dalam menyebarkan dakwah berdalih perdamaian dan kemanusiaan.

Juga dengan menjaga kesholehan atau loyalitas Jama’ah Ahmadiyah dengan diadakannya program pembelajaran agama dan pertemuan anggota secara berkala.

Selanjutnya Ahmadiyah ini rupanya juga membangun komunikasi dengan pihak luar kelompoknya dengan melakukan program sosial.


Penulis: Dian Aprilianty (Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya)