Pandangan Ibnu Taimiyah Tentang ‘Allah Duduk Diatas Arsy’ yang Ditolak Para Ulama

Pandangan Ibnu Taimiyah Tentang ‘Allah Duduk Diatas Arsy’ yang Ditolak Para Ulama

PeciHitam.org – Ibnu Taimiyah merupakan salah satu tokoh sentral yang selalu menjadi rujukan oleh golongan salafi wahabi. Ulama produktif yang banyak mengarang kitab tersebut banyak menuai silang pendapat dari para Ulama sezaman dengan beliau. Silang  pendapat dimaksud adalah perbedaan qaul beliau dengan Ulama Jumhur.

Sebagaimana penolakan-penolakan beliau dalam menerima dalil Ijma’ Ulama tentang aqidah dan sifat-sifat Allah SWT. Laiknya sama dengan panutannya, salafi wahabi mengadopsi penuh  pendapat Ibnu Taimiyah sebagai pijakan dalam beraqidah.

Belakangan, Aqidah Ibnu Taimiyah yang diadopsi oleh salafi wahabi tertolak oleh Ijma’ Ulama. berikut Ulasannya!

Pandangan Ibnu Taimiyah tentang Allah Duduk

Orang-orang salafi wahabi memberikan gelar kepada Ibnu Taimiyah dengan Syaikhul Islam atau Tokoh Pemikiran Islam. Termasuk kutub rujukan salafi wahabi adalah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah  yang menjadi murid paling terkenal Ibnu Taimiyah.

Agak rancu melihat salafi wahabi yang menolak taqlid (menggunakan rujukan pemikiran orang lain) dengan jargon kembali ke Al-Qur’an ternyata dengan fasih menisbatkan pemikiran kepada dua tokoh di atas.

Dan fakta bahwa pemikiran Ibnu Taimiyah banyak tertolak oleh para Ulama yang sezaman dengan beliau. Hal ini menunjukan pandangan Ibnu Taimiyah bermasalah.

Baca Juga:  Rukun Iman Ada 6, Waspada Jika Menemukan yang Berbeda

Imam As-Subki sedikitnya mengidentifikasi 60 isu/ permasalahan agama yang Ibnu Taimiyah menyelisihinya dengan Jumhur Ulama’. Rujukan Ulama salafi wahabi kepada Ibnu Taimiyah menjadi bukti otentik penyelisihan beliau kepada Ijma’ Ulama.

Syaikh Idahram menuliskan pensifatan Ibnu Taimiyah terhadap af’al Allah SWT ketika duduk;

اذا جلس تبارك وتعالى على الكرسى سمع له اطيط كاءطيط الرحل الجديد

Artinya; “Apabila Allah SWT duduk di atas kursi, maka akan terdengar bunyi mengiuk seperti bunyi pelana kursi unta yang baru diduduki

Pandangan Ibnu Taimiyah terhadap af’al Allah SWT ketika duduk di Arsy di atas sangat bertolak belakang dengan pandangan Jumhur Ulama (Ijma’ Ulama).

Bahwa Ulama Ahlussunnah wal Jamaah sangat menghindari penyifatan yang berkaitan dengan sifat Jismiyah atau Tajassum. Penyifatan yang mendorong kepada Tashawwur (penggamabaran makhluk) tersebut sangat berbahaya.

Karena seorang Muslim yang menelan pemahaman tersebut akan berpikir bahwa Dzat Allah SWT seperti makhluk. Sedangkan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari sebagaimana dalam sifat 20 menyebutkan bahwa Allah itu Mukhalafatu Li Al-Hawadits, Pasti Berbeda dengan Makhluk.

Baca Juga:  Cara Syahadat Orang Bisu, Benarkah Syahadat Bisa Dilakukan Hanya dengan Isyarat Saja?

Penolakan Ulama terhadap Duduknya Allah SWT

Pertanyaan mendasar pemahaman Ibnu Taimiyah tentang bentuk Duduknya Allah SWT yaitu ‘Pantaskah Allah disifati sebagaimana sifat duduk Mahkhluk?’.

Akal yang selamat PASTInya akan menolak simpulan Ibnu Taimiyah yang mengatakan bahwa Allah SWT duduk selayaknya manusia duduk dikursi sampai mengeluarkan suara.

Bantahan tidak langsung dituliskan oleh Imam Syafii dalam riwayat Qadli Husain dalam Kifayatul Nabih fi Syarhil Tanbih. Imam Syafii menggolongkan pandangan Allah SWT duduk di Arsy selaiknya manusia sebagai pandangan sesat.

ومن كفرناه من أهل القبلة: كالقائلين بخلق القرآن، وبأنه لا يعلم المعدومات قبل وجودها، ومن لا يؤمن بالقدر، وكذا من يعتقد أن الله جالس على العرش

Artinya; “Orang yang kami kafirkan dari kalangan orang yang shalat adalah: mereka yang berkata bahwa al-Qur’an adalah makhluk, bahwa Allah tak mengetahui sesuatu sebelum terjadinya, juga orang yang tak percaya takdir, demikian juga orang yang mengatakan bahwa Allah duduk di atas Arasy

Imam Syafii hidup jauh sebelum Ibnu Taimiyah sudah memberikan peringatan kepada umat Islam jangan sampai menyifati Allah dengan jisim Makhluk.

Sanggahan Imam Syafii sebenarnya untuk memberikan kontra argumen kepada kalangan Mu’tazilah dan Jahmiyah yang berkembang  pada masa beliau.

Baca Juga:  Begini Proses Terbentuknya Iman dalam Diri, Keturunan BUKAN Salah Satunya!

Namun kesalahan sama tetap dilakukan oleh Ibnu Taimiyah yang menyifati Allah SWT selayaknya makhluk yang duduk di Kursi. Ijma’ Ulama menyatakan bahwa perlu adanya takwil terhadap af’al Allah SWT yang teksnya berisiko menggiring kepada tajassum.

Konyolnya, pendapat yang sudah usang dan tertolak oleh Jumhur Ulama dan menyelisihi Ijma’ tetap dirujuk oleh salafi wahabi. Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG