Buya Syafii dan Gus Dur Masih Hidup

Komunitas GUSDURian Makassar gelar Pojok GUSDURian UIN Alauddin Makassar ke 10, “Bincang Tokoh; Buya Syafii dan Gus Dur di Mata Anak Muda” yang bertempat di pelataran Masjid kampus II UIN Alauddin Makassar pada Kamis, 22 September 2022.

Pada Pojok GUSDURian kampus kali ini menghadirkan Nafisah Zarqa yang merupakan Sekertaris Umum Forum Mahasiswa Tafsir Muhammadiyah Indonesia/ Immawati Cabang Gowa dan juga menghadirkan Arman Sine yang merupakan Kader PMII Cabang Gowa selaku pemateri kedua. Kedua pemateri diatas di percaya menjadi Pemateri dengan di dampingi oleh Muh Yusril yang juga merupakan salah satu penggerak GUSDURian Makassar.

“Gus Dur dan Buya Syafii merupakan dua tokoh yang berasal dari dua organisasi Islam yang berbeda. Walaupun demikian, mereka juga memiliki banyak kesamaan, salah satu pada aspek perjuangan menyebarluaskan nilai-nilai kemanusiaan.” ucap Yusril memulai diskusi.

Baca Juga:  Obituari Gus Im, dari Pecinta Musik hingga Dunia Intelejen

Nafisah Zarqa pemateri pertama yang merupakan kader Immawati Cabang Gowa dan salah seorang pengagum Buya Syafii, melanjutkan statment yang dilontarkan oleh moderator dengan menjelaskan sedikit kisah teladan Buya Syafii dalam memperjuangkan kemanusiaan.

“Semasa hidupnya beliau sering kali mendapat kritikan dari banyak orang karena sikap yang beliau ambil dinilai kontroversi. 2014 silam, saat momen politik identitas menggerogoti keharmonisan kita, beliau dengan tegas menolak segala hal politis yang mengatasnamakan Islam.” Jelas Nafisah.

Senada dengan penjelasan Nafisah, Arman yang merupakan kader PMII Gowa, mengatakan bahwa banyak perjuangan Buya Syafii yang sejalan dengan perjuangan yang dilakukan oleh Gus Dur. Arman menceritakan mengenai perjuangan Gus Dur dalam membela kaum-kaum yang dilemahkan.

“Jika kita mendengar kisah perjuangan Buya Syafii maka perjuangan itu sama dengan apa yang dilakukan oleh Gus Dur, mereka sama-sama memperjuangkan Kemanusiaan. Kalo kita mengingat-ingat kembali, saat hampir semua ulama menolak keras mendiang Dorce karena menjadi transpuan, maka Gus Dur adalah orang terdepan dalam membela haknya sebagai manusia” ungkapnya.

Baca Juga:  Tak Ada Bendera Merah Putih di Alun-alun Rembang, Gus Mus: Aneh

Mendengar penjelasan panjang dari kedua pemateri mengenai Buya Syafii dan Gus Dur dalam menyikapi perbedaan, Junia salah satu peserta diskusi menyampaikan keresahan yang ia rasakan. Menurutnya banyak sekali tantangan mengenai perbedaan-perbedaan yang kita hadapi di dunia kampus.

“Masih banyak mahasiswa yang menyikapi perbedaan sebagai permusuhan, yang kerap kali menimbulkan perpecahan antar organisasi yang berbeda bendera. Padahal kalo mendengar kisah-kisah Buya Syafii dan Gus Dur ini, walaupun mereka berbeda tapi mereka mampu menyikapi perbedaan sebagai hal yang wajar terjadi. Ini tantangan kita di dunia kampus.” Ujar kader HMI dakwah.

Diakhir sesi diskusi, Yusril selaku moderator dan Penggerak Gusdurian Makassar, berpesan agar kisah teladan dari kedua tokoh yang dibicarakan tidak habis pada diskusi kali ini saja, tapi bagaimana hal tersebut bisa kita praktekkan walaupun pada skala kecil, seperti kampus.

Baca Juga:  GP Ansor Temui Kapolda Sulsel, Ini yang Dibahas

“Semoga kita semua bisa menjadikan kisah teladan dari kedua tokoh ini, menjadi inspirasi gerakan kita dalam upaya untuk mencari titik temu disetiap perbedaan yang ada.” Tutupnya.

Kontributor: Andi Muhammad Muslim, Penggerak Komunitas GUSDURian Makassar

Redaksi