Apakah Tujuan Penciptaan Manusia Yang Sebenarnya?

Apakah Tujuan Penciptaan Manusia Yang Sebenarnya?

PeciHitam.org – Manusia merupakan ciptaan Allah yang paling istimewa. Jika dilihat dari sosok diri tugas dan tanggungjawab yang diamanatkan kepadanya. Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang perbuatannya mampu mewujudkan bagian tertinggi dari kehendak Allah yang menjadi sejarah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Selain itu, menurut Jalaluddin, manusia adalah makhluk kosmis yang sangat penting karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan. Keistimewaan ini menyebabkan manusia dijadikan khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi yang dipercaya untuk memikul amanah berupa tugas dalam menciptakan tata kehidupan yang bermoral di muka bumi.

Pernyataan yang mengatakan bahwa setiap penciptaan pasti memiliki tujuan. Oleh karena itu, penciptaan manusia mempunyai tujuan, bukan untuk kebaikan Allah, akan tetapi demi kebaikan manusia. Manusia diciptakan untuk beribadah mematuhi setiap perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Hal tersebut dapat tercermin dari firman Allah dalam Q.S. al-Zariyat/51: 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.

Manusia dibekali akal selain naluri yang membedakannya dengan hewan. Akal inilah yang seringkali membuat manusia memiliki agenda sendiri ketika melakukan tujuan penciptaan manusia, bahkan tak jarang bertentangan dengan misi penciptaan dirinya.

Baca Juga:  Betulkah Tabarruk Merupakan Perbuatan Bid'ah atau Syirik, Seperti Tuduhan Minhum?

Untuk merealisasikan tujuan penciptaan manusia, di samping dibekali dengan akal, manusia juga diberi tuntunan yang bisa membantu akal dalam memahami tujuan penciptaannya yaitu kitab suci dan para utusan yang berfungsi untuk membimbing mereka pada kebenaran. Namun manusia diberi pilihan apakah mau ikut atau tidak? Apakah mampu menggunakan tiga alat petunjuk (akal, kitab suci dan para nabi).

Untuk mengetahui lebih jauh tentang tujuan penciptaan manusia, Allah swt. melalui al-Qur’an menjelaskan dalam beberapa ayat, antara lain, Q.S. al-Mu’minun/23: 115:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”

Agar seluruh aktivitas manusia bernilai ibadah maka Allah menjadikannya sebagai pemimpin di muka bumi ini (Khalifah fi al-ard). Sejatinya sebagai khalifah, manusia harus bisa mengemban amanat (baik terkait dengan hukum, pengelolaan dan tugas-tugas yang lain) ini yang secara dialekta tidak diberikan kepada langit, bumi, malam, matahari begitu juga kepada hewan. Dengan begitu manusia adalah makhluk yang terbaik dari segi bentuk, fungsi dan keruwetan (sofistikasi ) yang bahasa al-Qur’annya disebut ahsan taqwim.

Baca Juga:  Hukum Sewa Rahim dalam Islam, Bolehkah? Ini Penjelasannya

Mengutip perkataan Nurcholis Madjid, sebagai khalifah maka tugas manusia adalah menyampaikan berita dari dunia ghaib agar supaya dapat difahami dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh manusia. Tetapi karena tidak semua manusia pada prakteknya bisa menerima pesan-pesan ilahi ini, maka Tuhan mengutus para Nabi dan Rasul-Nya untuk membawa kabar tersebut. Sedangkan dalam bahasa Jal al-Din Rumi yakni: ketika kebun-kebun mawar telah musnah, kemanakah kita akan mendapatkan semerbak mawar?

Jawabnya adalah air mawar. Yang dimaksud oleh Rumi adalah ketika Alllah yang ghaib, tidak bisa kita lihat, maka melalui para Nabi dan Rasul-lah maka pesan dan berita diri-Nya dapat diperoleh, bukan dengan jalan pemikiran agar agama harus diartikulasikan sebagai entitas yang harus relevan dengan perkembangan zaman.

Baca Juga:  Kebersihan Sebagian dari Iman, Hadits atau Bukan? Ini Penjelasannya

Manusia dikarunia akal adalah sebagai perangkat agar kelak mereka bisa memahami makna hakekat penciptaannya dan yang lainnya bukan untuk mengingkari makna tersebut. Al-Gazali (w. 1111) menganologikan akal sebagai wazir yang perintah-perintahnya harus diikuti oleh hawa nafsunya, yaitu nafsu syahwat yang bertugas sebagai tax collector, dan nafsu gadabiyah yang bertugas sebagai polisi. Hanya dengan mengikuti instruksi-instruksi sang wazir maka keadaan negara akan berjalan lancar dan memperoleh kemajuan.

Mohammad Mufid Muwaffaq

Leave a Reply

Your email address will not be published.