Ummu Khalid, Sahabiyah yang Panjang Umur Berkat Baju Pemberian Nabi

Ummu Khalid

Pecihitam.org – Ummu Khalid binti Khalid, nama aslinya adalah Amah dan ia berasal dari suku Quraisy, Makkah. Ayahnya Khalid bin Sa’ad bin Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abu Manaf merupakan salah satu dari golongan oang-orang yang pertama kali masuk Islam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ibunya Umaimah binti Khalaf al-Kharaiyah juga seorang wanita istimewa dari kalangan sahabat. Saudara laki-lakinya, Said bin Khalid juga termasuk sahabat yang mulia. Pamannya dari pihak ayah, Amru bin Sa’ad, juga termasuk orang-orang yang pertama kali memeluk islam. Dia gugur dalam Perang Yarmuk.

Ummu Khalid lahir di Habasyah (Ethiopia), sebab kedua orang tuanya ikut hijrah ke Habasyah ketika siksaan kaum kafir Quraisy Makkah makin menjadi-jadi kepada orang-orang Mukmin.

Rasulullah SAW memerintahkan kaum mukmin untuk hijrah ke Habasyahdan disana mereka mendapatkan keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan. Di antara para sahabat yang juga hijrah ke Habasyah ialah Utsman bin Affan bersama istrinya, Ruqaiyah binti Muhammad SAW.

Suatu ketika Khalid dan istrinya menceritakan kisah keislaman keduanya kepada Amah putri mereka. Amah mendengar kisah menarik kedua orang tuanya itu dengan serius. Kisah itu pun membekas di hati Amah yang masih kecil.

Baca Juga:  Biografi Singkat Sayyid Abu Bakar Syatha Pengarang Ianah ath Thalibin

Amah kecil bertanya kepada ayahnya, “Ayah, kapan engkau masuk Islam?”

Khalid bin Sa’ad memeluk putri kecilnya sambil berkata, “Aku termasuk orang-orang yang pertama kali diberi kenikmatan iman. Orang yang masuk Islam bersamaku ialah pamanmu dari jalur aku, Amr bin Sa’ad. Dia sekarang ada bersama kita di Habasyah dan hidup dalam perlindungan Najasyi. Namun, pamanmu dari jalurku yang lain, Aban bin Sa’ad, belum masuk Islam hingga sekarang.”

Kemudian Amah bertanya kepada ayahnya tentang nasib kakeknya, Abu Uhaihah, “Ayah, bagaimana dengan kakekku? Apakah Allah memberinya petunjuk untuk masuk Islam?”

“Putriku, sayang sekali kakekmu tetap berada pada kekafiran dan kesombongannya,” jawab Khalid bin Sa’ad, penuh kecintaan seorang ayah. “Kakekmu meninggal dunia dalam keadaan kafir. Sungguh aku selamat dengan Islam dan mengikuti Nabi Muhammad SAW.”

Hadiah Rasulullah

Ummu Khalid termasuk perempuan istimewa. Sewaktu masih kecil ia pernah menerima hadiah khusus dari Rasulullah SAW diiringi doa baginya.

Baca Juga:  Imam Sibawaih, Ulama Persia Pakar Gramatika yang Masuk Surga Berkah Ilmu Nahwu

Suatu hari, Rasulullah Saw datang menemui para sahabat dengan membawa beberapa pakaian. Di antara pakaian-pakaian tersebut, ada sebuah pakaian dengan garis-garis hitam.

Rasulullah Saw bertanya pada sahabat, “Menurut kalian, siapa yang pantas memakai pakaian ini?” Para sahabat diam. Rasulullah kemudian bersabda, “Panggil dan bawa kemari, Ummu Khalid.”

Ummu Khalid menceritakan sendiri kisah ini. Ia berkata, “Rasulullah Saw memberikan baju itu kepadaku dan memakaikannya dengan tangan beliau sendiri. Saar itu Rasulullah berkata, “Pakailah sampai baju ini tua dan lusuh.”

Rasulullah mengatakan hal itu sebanyak dua kali. Kemudian beliau melihat garis kuning dan merah yang terdapat di baju dan bersabda, “Ini bagus, wahai Ummu Khalid. Ini bagus kata Rasulullah”

Menurut Ibnu Hajar al Asqalani dalam kitab Fath al-Bari, kalimat “Pakailah baju ini sampai tua dan lusuh.” mengandung doa Rasulullah untuk Ummu Khalid. Artinya, Ummu Khalid akan berumur panjang sampai baju yang dihadiahkan Rasulullah itu menjadi tua dan lusuh.

Baca Juga:  Kisah Khadijah binti Khuwailid hingga Menikah dengan Rasulullah

Allah kemudian mengabulkan doa tersebut. Karena tidak ada seorang perempuan pun dari kalangan sahabat yang umurnya lebih panjang dari usia Ummu Khalid.

Imam adz-Dzahabi menyebutkan dalam kitab Siyar. “Ia hidup hampir 90. Saya berpendapat bahwa Amah binti Khalid adalah sahabiyah yang terakhir meninggal dunia karena ia hidup hingga zaman Sahl bin Sa’ad.”

Ketika dewasa Ummu Khalid kemudian menikah dengan Zubair bin Awwam. Ia termasuk al-Asyr al-Muhabasyarin bil Jannah atau sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga. Dari pernikahan itu, mereka memiliki dua orang putra, Umar dan Khalid.

Lukman Hakim Hidayat