Kisah Sunan Giri Dalam Menyebarkan Islam Di Jawa

Kisah Sunan Giri Dalam Menyebarkan Islam Di Jawa

Pecihitam.org- Kisah ini menceritakan tentang Sunan Giri, beliau adalah tokoh walisongo yang ketiga, Kebesaran Sunan Giri antara lain sebagai anggota dewan walisongo dan namanya (Giri) tersebut dalam versi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Setiap versi berbeda nama Wali yang termasuk dalam kelompok Walisongo. Ada seorang Wali yang termasuk dalam versi tertentu dalam versi yang lain. Hanya Wali yang besar saja yang disebut dalam ketiga versi, dan Sunan Giri termasuk dalam kelompok ini.

Namun Sunan Giri tidak bisa dilepaskan dari proses kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak. Ia adalah Wali yang secara aktif ikut merencanakan berdirinya negara tersebut, serta terlibat dalam penyerangan ke Majapahit sebagai penasehat militer.

Nama lain/gelar Sunan Giri yang sering disebut adalah Joko Samudro, yaitu nama yang diberikan ibu angkatnya, Nyai Gede pinatih. Nama lainya adalah Raden Paku, nama yang diberikan Sunan Ampel atas permintaan ayah Sunan Giri yaitu Maulana Ishak sewaktu meninggalkan Jawa.

Sedangkan Sunan Kalijaga menamainya Prabu Satmata. Kisah Sunan Giri dalam legenda terulang kembali riwayat Sunan Ngampel Denta dan sunan Bonang. Bahwa Sunan Bonang adalah putra Sunan Ngampel Denta, mereka menjadi murid Sunan Ngampel Denta tersebut sebelum mengembara sampai tanah Malaka dan berguru kepada Syeh Wali Lanang, yang ternyata adalah ayah Sunan Giri.

Baca Juga:  Kesultanan Kadariah Pontianak, Karajaan Islam Melayu di Borneo Barat

Cerita tutur Jawa disebutkan bahwa Nyai Gede Pinatih sebagai pengasuh Prabu Satmata meninggal tahun1477; pembuatan kedaton atau istana berlangsung 1485, disusul pembuatan “kolam” diduga adalah “taman” yang memang termasuk di dalamnya adalah danau tiruan, dengan pulau kecil di tengahnya inilah taman air (taman sari) yang merupakan bagian dari kompleks istana raja Jawa.

Artinya, bangunan tersebut adalah legitimasi kekuasaan duniawi, dan jika Prabu Satmata adalah juga Sunan Giri, berarti kekuasaan rohani tersatukan dengan kekuasaan duniawi. Dalam komentar Graaf dan Pigeaud, memiliki taman semacam ini tentu menambah wibawa dan kekuasaan pemimpin agama pertama di Giri.

Tindakan Prabu Satmata dari Giri itu (seperti juga dilakukan para Wali Islam di Jawa pada zaman yang sama) dapat di anggap sebagai usaha memantapkan dan menguatkan pusat keagamaan dan kemasyarakatan ini bagi kepentingan pada pedagang Islam yang sering kurang semangat agamanya.

Para pedagang ini keturunan asing, berasal dari golongan menengah, dan diduga sudah tinggal di Jawa sejak abad ke-14, baik di kota besar maupun kecil. Dibangunnya kedaton dan dipakainya nama gelar dan raja (Prabu Satmata).

Baca Juga:  Hikmah: Kisah Jenazah Waria yang Dirahmati Allah di Alam Kubur

Perhatikan bahwa konsentrasi para sejarawan ini bukanlah personifikasi Sunan Giri itu sendiri, melainkan bagaimana personifikasi Sunan Giri dalam legenda menunjukan fenomena agama dan sejarah Jawa.

Tentang kediaman di puncak bukit misalnya disebutkan, “… dialah orang pertama di antara ulama yang membangun tempat berkhalwat dan tempat berkubur di atas bukit”.

Personifikasi Nyai Gede Pinatih memungkinkan spekulasi bahwa pembangunan kedaton Giri mendapat dukungan dana komunitas dagang tersebut. Dalam bahasa alQurtuby yang khusus meneliti tentang peranan Tionghoa sebagai penyebar Islam.

Bahkan di Giri, back up dana Giri Kedaton adalah seorang Cina Muslimah dan saudagar kaya bernama Nyai Gede Pinatih yang sekaligus ibu angkat Sunan Giri. Sunan Giri menyiarkan Islam dan menamakannya ke dalam jiwa para penduduk.

Beliau mendirikan masjid sebagai langkah pertama dan dasar untuk mensyiarkan Islam. Sunan Giri mendirikan beberapa pesantren dan mengajarkan ilmu fiqih, ilmu tasfir, ilmu hadist, serta nahwu dan sharaf kepada santrinya. Santrinya yang belajar di pesantren bukan hanya dari sekitar Surabaya tetapi juga dari Madura, Lombok, Makasar dan Ternate. (Syamsu AS, 1999: 49)

Baca Juga:  Kaedah Nahwu Islam Nusantara ala Santri Pondok Pesantren As'adiyah Wajo

Sebagai ulama dan guru, beliau juga berdagang untuk penghidupannya. Dengan modal yang diberikan oleh ibu angkatnya Nyai Gede Pinatih, beliau pedagang mengelilingi pulaupulau di Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi dan juga sampai Kamboja. Karena beliau berdagang melayari lautan menuju pulau-pulau, maka banyak orang kaya dan orang-orang terpandang dari Maluku.

Perjuangan terbesar yang dilakukan Sunan Giri dalam dakwahnya islamiyah yaitu mengirim santrinya ke pelosok-pelosok Indonesia untuk mensyiarkan Islam, misalnya pulaupulau Madura, Bawean, kangean, bahkan sampai Ternate dan huraku (di kepulauan Maluku). Kemasyurannya melebihi gurunyan, Sunan Ampel dan Maulana Ishak.

Mochamad Ari Irawan