Negeri Habasyah, Raja Najasyi dan Kisah Hijrah Pertama dalam Islam

Negeri Habasyah, Raja Najasyi dan Kisah Hijrah Pertama dalam Islam

Pecihitam.org – Rasulullah Saw. menyaksikan bencana yang menimpa para pengikutnya, sedangkan beliau tidak mampu melindungi mereka. Maka Rasulullah berkata, “Seandainya kalian pergi ke negeri Habasyah. Sesungguhnya disana terdapat seorang raja yang tidak akan dianiaya orang yang ada di dekatnya. Negeri Habasyah ialah tanah kebenaran. Kalian sebaiknya berada di sana hingga Allah Swt. Memberikan kelapangan bagi kalian.”

Maka, pergilah sekelompok umat Islam ke negeri Habasyah. Peristiwa ini merupakan peristiwa hijrah yang pertama bagi umat Islam. Kelompok ini terdiri atas sepuluh orang laki-laki dan empat orang perempuan. Termasuk di antara mereka ialah Sahabat Utsman bin Affan dan istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah Saw. Mereka dipimpin oleh Utsman bin Mazh’un.

Kemudian pergi pula Sahabat Ja’far bin Abi Thalib yang diikuti oleh umat Islam lainnya hingga mereka berkumpul di negeri Habasyah. Jumlah keseluruhan mereka yang ikut dalam gelombang hijrah ke negeri Habasyah adalah 83 orang.

Ketika kaum Quraisy mengetahui bahwa mereka yang beriman telah mendapatkan ketentraman di negeri Habasyah, mereka mengutus Abdullah bin Abi Rabi’ah dan ‘Amr bin al-‘Ash bin Wa’il (waktu itu ‘Amr belum masuk Islam).

Mereka menyertakan hadiah-hadian untuk Raja Najasyi (Negus) dan para panglima perangnya. Kedua utusan itu mempersembahkan hadiah kepada Raja Najasyi.

Pada pertemuan dengan raja, mereka berdua mengatakan, “Sesungguhnya anak-anak yang bodoh telah meminta perlindungan ke negeri Tuan. Mereka telah meninggalkan agama kaumnya dan tidak pula masuk ke dalam agama kalian. Mereka membawa agama yang baru, yang tidak kami ketahui dan tidak pula kalian ketahui. Kami telah diutus oleh para pemimpin kaum mereka, ayah-ayah mereka, paman-paman mereka, dan keluarga mereka. Kami memohon agar engkau mengembalikan mereka kepada kaumnya. Karena kaumnya lebih memahami dan lebih berhak atas mereka.”

Baca Juga:  Ketika Seorang Ahli Ibadah Dikalahkan Oleh Iblis

Para panglima perang di sekitar raja berkata, “Benar, wahai Raja. Serahkanlah mereka kepada kedua orang ini.” Atas bujukan tersebut Raja Najasyi menjadi murka dan menolak perkataan kedua utusan tersebut. Ia akan menyelamatkan orang yang berlindung kepadanya dan ke negerinya. Ia bersumpah setia demi Allah.

Lalu, ia mengirim utusan untuk memanggil umat Islam dan memanggil para uskupnya. Raja Najasyi berkata kepada umat Islam, “Agama apakah yang membuat kalian meninggalkan agama kaum kalian, sedangkan kalian pun tidak masuk ke dalam agamaku dan agama salah seorang dari para uskup ini?”

Ja’far bin Abi Thalib yang merupakan saudara sepupu Rasulullah Saw. kemudian berdiri. Beliau berkata kepada Raja Najasyi, “Wahai Raja! Dahulu kami ialah kaum jahiliyah. Kami menyembah berhala dan memakan bangkai.

Kami juga melakukan perbuatan kehi dan memutuskan hubungan silaturahim. Orang yang kuat di antara kami memangsa yang lemah. Kami dahulu seperti itu hingga Allah mengutus kepada kami seorang rasul yang kami kenal garis keturunannya, kebenarannya, kejujurannya, dan kesuciannya.

Ia mengajak kami untuk mengesakan Allah Swt. Dan menyembah-Nya, meninggalkan apa yang dahulu kami sembah dan disembah oleh nenek moyang kami, yakni batu dan patung kayu.”

“Ia memerintahkan kami untuk berkata jujur, melaksanakan amanah, menyambung hubungan kekeluargaan, bersikap baik terhadap tetangga, menjaga kehormatan, dan menghentikan pertumpahan darah. Ia melarang kami melakukan perbuatan keji, mengucapkan sumpah palsu, memakan harta anak yatim, dan menuduh berzina kepada perempuan yang baik-baik.”

Baca Juga:  Kisah Gus Dur Tinggal di Rumah Tokoh Muhammadiyah

“Ia memerintahkan kami untuk menyembah Allah Swt. Sebagai satu-satunya Tuhan, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Ia memerintahkan kami untuk mengerjakan shalat, menunaikan zakat, dan berpuasa…” Kemudian Ja’far menyebutkan ajaran Islam yang lainnya.

“Maka kami mempercayainya dan kami beriman kepadanya. Kami mengikuti apa yang dibawanya dari Allah. Kami menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Kami mengharamkan perkara yang diharamkan atas kami dan kami menghalalkan perkara yang dihalalkan untuk kami.”

“Maka, kaum kami memusuhi kami. Mereka menyiksa kami serta membujuk dan memaksa kami untuk meninggalkan kami dan kembali kepada penyembahan berhala dari penyembahan kepada Allah yang Maha Tinggi. Dan agar kami menghalalkan perbuatan tercela yang dahulu (pada masa jahiliah) kami halalkan.”

“Ketika mereka memaksa kami, menganiaya kami, mempersulit kami, dan menghalangi kami dari agama kami, maka kami pergi dari negeri kami. Kami memilih engkau dan kami merasa senang berada di dekatmu. Kami berharap agar kami tidak dianiaya di sisimu, wahai Raja!”

Raja Najasyi mendengarkan semua itu secara terang dan diam. Kemudian, ia bertanya, “Apakah ada sesuatu yang dibawa sahabatmu itu untuk kalian tentang Allah Swt.?”

Sahabat Ja’far pun menjawabnya, “Ada wahai Tuan Raja.”

Raja Najasyi pun kemudian berkata, “Bacakanlah untukku.”

Dibacakanlah oleh sahabat Ja’far awal surat Maryam. Maka, menangislah sang Raja Najasyi hingga membasahi janggutnya. Raja Najasyi pun berkata, “Apa yang kaubaca ini dan apa yang dibawa Isa putra Maryam benar-benar muncul dari pancaran sinar yang sama.”

Baca Juga:  Khalifah Umar Bin Khattab Pernah Dikutuk Oleh Rakyatnya Sendiri

Kemudian Najasyi berpaling kepada dua utusan Quraisy dan berkata, “Pergilah, karena demi Allah mereka tidak akan kuserahkan kepada kalian, dan mereka tidak boleh diganggu.”

Keesokan harinya, mereka berdua kembali menghadap Raja dan berkata, “Paduka raja, mereka mengatakan suatu keburukan besar tentang Isa putra Maryam. Panggillah mereka, dan tanyakanlah tentang apa yang mereka katakan.”

Maka, kaum Muslim kembali dipanggil dan ditanya tentang kedudukan Isa dalam Islam. Sahabat Ja’far menerangkan, “Pandangan kami tentang Isa sesuai dengan ajaran yang dibawa Nabi kami Muhammad Saw. beliau bersabda, ‘Isa adalah hamba Allah, ruh-Nya, sekaligus kalimat-Nya yang dia turunkan kepada Maryam sang perawan suci.”

Mendengar penjelasannya, Raja Najasyi mengambil sebatang lidi yang terletak di atas lantai, kemudian berkata, “Demi Allah, perbedaan Isa putra Maryam dari apa yang kau katakan tadi tidak lebih besar daripada batang lidi ini.”

Kemudian, Raja mengembalikan semua hadiah yang dibawa kedua utusan Quraisy itu. Setelah percakapan tersebut, sang Raja semakin sungguh-sungguh menjaga dan melindungi kaum Muslim. Sementara kedua utusan itu pulang menemui kaumnya dengan tangan hampa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG