Mengenal Bintusy Syathi’, Mufassir Perempuan dari Mesir Era 60-an

Mengenal Bintusy Syathi', Mufassir Perempuan dari Mesir pada Era 60-an

Pecihitam.org – Bintusy Syathi’ (بنت الشاطئ) dialah salah satu perempuan yang berkecimpung dalam dunia kesastraaan, hingga darinya lahir kitab tafsir dengan corak sastra yang seolah menjadi ciri khas kitab miliknya. Maka dari itu, berikut penulis paparkan terkait kehidupan beliau sampai pengenalan karya kitab tafsirnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mengenal kisah ringkas Bint Al Shati’ dalam dunia pendidikan

Nama lengkapnya adalah Aisyah binti Muhammad Ali bin Abdurrahman. Ia masyhur dengan sebutan Bintusy Syathi’ yang bararti anak dari tepi pantai, karena ia dilahirkan dari daerah tepian Sungai Nil, tepatnya di Dimyath, sebelah  barat Sungai Nil pada tanggal 6 November 1913.

Beliau berasal dari pasangan Syaikh Muhammad Ali bin Abdul Rahman dan Faridah Abdussalam Muntasir. Dari ayahnya inilah yang rupanya seorang tokoh agama seolah membuktikan bahwa sejak kecil, As-Syathi’ telah ditanamkan nilai-nilai keagamaan, mengingat beliau memang berada dalam lingkungan keluarga Muslim yang taat dan tergolong konservatif.

Sehingga dari pandangan yang konservatif inilah, sang ayah berasumsi bahwa seorang anak gadis yang telah menginjak masa remaja harus tinggal di rumah untuk belajar.

Selain itu, karena berasal dari keluarga yang taat akan agama tentu akan menjadi dorongan dari keluarga As-Syathi’ untuk membimbing sang anak agar menjadi penganut agama yang taat pula, sehingga sesuatu yang tak perlu diherankan jika Bintusy Syathi’ telah menghafal Al-Qur’an, bahkan konsisten belajar tata bahasa Arab dan teologi di usianya yang masih belia.

Nama dari ‘Aisyah ke Bint al-Shati’

Mungkin sempat terlintas dalam benak kita akan mengapa ‘Aisyah ‘Abd al-Rahman lebih dikenal dengan nama Bintusy Syathi’ dan jawabannya ialah ternyata Bintusy Syathi’ merupakan Nama Pena dari Aisyah ‘Abd al-Rahman.

Yang mana dari segi makna, Bintusy Syathi’ berarti perawan pesisir atau putri pantai yang sengaja dijadikan nama pena guna tidak dikenali oleh sang ayah, mengingat beliau sewaktu muda sangat rajin menerbitkan tulisan tulisannya di beberapa majalah dan surat kabar.

Baca Juga:  Biografi Lengkap Sunan Ampel; Bapaknya Para Wali di Nusantara

Berangkat dari kerajinannya dalam menuangkan ide-idenya ke dalam tulisan, seolah memperlihatkan bakat dari seorang Bintusy Syathi’ dalam dunia tulis-menulis, baik itu tulisan yang bergenrekan cerpen maupun secarik tulisan terkait artikel lainnya.

Hingga pada tahun Pada tahun 1920, Bintusy Syathi’ mengutarakan keinginannya untuk masuk sekolah formal, namun apalah daya permintaannya tersebut ditolak oleh sang ayah dengan alasan bahwa anak perempuan hanya layak belajar di rumah.

Namun pada akhirnya, As-Syathi’ tetap bersekolah dengan adanya persyaratan tertentu dari sang ayah, dan ini terjadi karena pembelaan sang ibu dan kakek (Syaikh Ibrahim Damhuji) yang merasa iba dengan keinginan Bintusy Syathi’ yang sangat serius untuk bersekolah.

Namun ini bukan berarti bahwa jalan pendidikan yang dilalui oleh Asy-Syathi’ mulus-mulus saja, melainkan sempat mengalami lika-liku pendidikan terlebih ketika meninggalnya sang kakek yang selama ini sebagai pendukung dirinya yang terjun dalam dunia pendidikan.

Alhasil, Bintusy Syathi’ pun ditarik oleh sang ayah untuk tinggal dirumah, dan satu-satunya jalan yang bisa ditempuh olehnya untuk tetap tidak ketinggalan pelajaran dengan meminjam buku-buku yang bertalian pada pendidikan keguruan, dan ikut ujian dengan teman temannya.

Setelah dua tahun berkecimpung di dunia perguruan tinggi, al-Shati’ memperoleh gelar BA dan pada tahun 1939, ia mendapatkan gelar sarjana dalam bidang Bahasa dan Sastra Arab dari Universitas Fuad I di Kairo.

Pada tahun 1941, barulah ia menyelesaikan program master dalam bidang studi yang sama. Dan pada tahun 1950 ia merengkuh gelar doktor dalam bidang Bahasa dan Sastra Arab di perguruan tinggi yang masih sama pula (Lihat Issa J. Boullata, “Modern Qur’an Exegeis: A Study of Bint al-Shati’ Method”, dalam The Muslim World, No. 4, 1974, h. 103)

Baca Juga:  Profil Nyai Hj. Sinta Nuriyah Wahid Sang Tokoh Perempuan NU

Mengenal kitab al-Tafsir al-Bayaniy li al-Qur’an al-Karim (التفسير البياني للقرآن الكريم)

Telah diketahui sebelumnya bahwa karya monumental Bintusy Syathi’ dalam bidang tafsir begitu sangat memikat perhatian, terlebih bagi mereka yang memang mencintai dunia sastra mengingat metode atau corak sastra adalah ciri khas dari kitab tafsir miliknya.

Al-Tafsir al-Bayaniy lil al-Qur’an al-Karim, dalam kitabnya ini, Bintusy Syathi’ tidak mengambil seluruh surah dalam Al Qur’an, namun hanya beberapa surah pendek saja. Yakni tujuh surah pendek; juz ‘Amma pada buku pertama, dan tujuh surah pendek lainnya pada buku kedua.

Adapun prinsip prinsip yang digunakannya dalam menafsirkan Al Qur’an ialah

Sebagian ayat Al Qur’an menafsirkan sebagian ayat yang lain, ini artinya Bintusy Syathi’ telaten dalam melacak makna suatu ayat dalam ayat ayat yang lain.

Prinsip Munasabah, yaitu mengaitkan ayat dengan ayat lainnya yang dekat ataupun dengan ayat yang jauh yang sedang ditafsirkan.

Prinsip al ‘ibrah bi umum al lafz la bi khusus al sabab, yaitu pertimbangan dalam menentukan suatu masalah harus berdasarkan pada redaksi dalil (Al Qur’an dan Hadits) yang berlaku umum, bukan berdasar atau sebab khusus turunnya dalil tersebut.

Prinsip bahwa setiap kata bahasa Arab Al Qur’an tidak mengandung sinonimitas (Mutaradif), artinya satu kata hanya memiliki satu makna.

Sisi menarik dari kitab

Sisi menarik dari kitab Bintusy Syathi’ ini (al Tafsir al Bayaniy lil al Qur’an al Karim) ternyata terletak pada corak sastra yang rupanya dirintis oleh sang suami (Amin Al Khuli yang merupakan dosennya sendiri pada mata kuliah Ulum Al Qur’an dan mereka menikah pada tahun 1945 ketika Bint Al Shati’ berusia 23 tahun) Metode tafsir rumusan al-Khuli ini dikemukakan dalam karya monumentalnya, Manahij al-Tajdid fi al-Nahw wa al-Balaga wa al-Tafsir wa al-Adab, khususnya pada bahagian tafsir.

Baca Juga:  Biografi KH Hasyim Muzadi, Ulama yang Nasionalis dan Pluralis

Dimana Amin al-Khuli (1895-1966) sangat menganjurkan pendekatan tematik dalam menafsirkan al-Qur’an, dan menenekankan signifikansi interpretasi filologi yang didasarkan pada kronologis teks dan penggunaan semantik bahasa Arab untuk menganalisis kosa kata al-Qur’an (Lihat Amin al-Khuli, Manahij al-Tajdid fi  al-Nahw wa al-Tafsir wa al-Adab (Kairo: Dar al-Ma‘rifah, 1961), h. 304-407)

Sehingga dari karya Al Shati’ seperti yang dipaparkan diatas oleh penulis dapat dikatakan bahwa sang suami memiliki pengaruh yang besar terhadap karya dan pemikiran Bint Al Shati’ dan ini dikarenakan sang suami memang mengusulkan kacamata baru dalam memandang Al Qur’an,

Karena bagi sang suami, Al Qur’an mestinya dipandang sebagai karya sastra yang agung sebelum melihatnya sebagai kitab suci. Dan inilah yang memicu pemikiran dan tulisan Bint Al Shati’ terkait tafsirannya yang bercorak Sastra.

Semoga bermanfaat!

Rosmawati