Nyai Sinta Nuriyah, Tim Volli Putri Iran dan Polemik Kultur Jilbab

Nyai Sinta Nuriyah, Tim Volli Putri Iran dan Polemik Kultur Jilbab

Pecihitam.org – Polemik Jilbab di Indonesia kembali mengemuka dan ramai diperbincangkan oleh para netizen budiman. Hal tersebut bermula dari tayangan wawancara Deddy Corbuzier dengan Istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid dan sang putri Inayah Wahid dalam Channel Youtubenya 15 Januari 2020 lalu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Di Media sosial sendiri terjadi semacam perang, bukan saja perang opini dan perang dalil bahkan perang hujatan dengan disertai kata kata kotor khas netizen Indonesia.

Bagi saya riuhnya medsos atas pernyataan Sinta Nuriyah Wahid tersebut bukan sesuatu yang mengherankan. Stigmatisasi liberal memang sudah lama dilekatkan terhadap Gus Dur dan keluarganya.

Ketika perdebatan pasal jilbab ini mulai kembali mengemuka, saya teringat saat menonton tayangan pertandingan bola volli antara timnas putri Indonesia VS Iran pada pool B kualifikasi olimpiade 2020 Zona Asia.

Dalam pertandingan yang dimenangkan oleh timnas putri Indonesia dengan skor 3-2 tersebut saya sempat salah fokus dengan jilbab yang dikenakan oleh timnas putri Iran.

Cara mereka mengenakan jilbab membuat saya tertawa terpingkal pingkal. Maklum, cara mereka berjilbab dalam pandangan saya, dan mungkin anda juga, tampak aneh dan lugu. Jika tidak percaya, anda bisa mengeceknya di Youtube.

Mereka menggunakan jilbab seragam warna putih dengan model jilbab langsungan bertopi. Namun cara mereka mengenakannya adalah dengan menarik ujung belakang jilbab tersebut terlalu ke bawah sehingga topi jilbab yang dalam tradisi berjilbab Indonesia biasanya menaungi jidat pemakainya yang ini justru melewati jidat pemakainya dan menampakkan hampir separuh kepala pemakainya bahkan termasuk rambutnya.

Baca Juga:  Benarkah UAS Menodai Agama, Siapa yang Berhak Memvonisnya?

Awalnya saya mengira hal tersebut terjadi karena jilbab yang mereka kenakan secara tidak sengaja jatuh mlorot ke bawah akibat pergerakan pemain voli yang sering melompat dan jumping untuk melakukan smash.

Namun dugaan tersebut salah. Official team voli putri Iran yang tidak ikut bermain dan tersorot oleh kamera ternyata juga menggunakan cara yang sama dengan para pemain dalam mengenakan jilbab.

Pikiran saya langsung auto julid. Jika hal tersebut terjadi pada pemain Indonesia pasti akan ramai menjadi bahan tertawaan viral di media sosial. Linimasa medsos pasti akan geger dengan meme, hujatan, cemoohan dan seterusnya.

Sebenarnya jika kita perhatikan dengan seksama, cara pemain voli putri Iran berjilbab hampir sama dengan Sinta Nuriyah Wahid berjilbab selama ini.

Bagian ujung depan jilbab agak ditarik ke belakang, bagian kepala atas hampir separuh terbuka lalu rambutnya separuh tampak oleh mata, leher pemakai samar samar juga tampak sementara rambut belakang tak tampak.

Bedanya, pemain Iran tidak menampakkan leher mereka namun bagian rambut belakang tampak jelas dan karena warna jilbab yang putih transparan hampir hampir seluruh rambut pemakainya tampak.

Lalu mengapa model jilbab sinta nuriyah menjadi polemik sementara model jilbab pemain Iran tidak menjadi polemik. Dua jawaban utamanya saya kira sudah jelas.

Baca Juga:  Jilbab, Antara Kewajiban Beragama, Tradisi dan Gaya

Pertama, jelas karena pemain Voli Putri Iran bukan warga Indonesia. Aneh jika kita mengomentari gaya dan kultur berjilbab warga Negara lain. Sebagaimana kita ketahui, Iran memang memiliki rekam jejak panjang pasal jilbab.

Jika kita runut sejarah misalnya, pemerintah Iran pernah melarang penggunaan jilbab di era Rezim Reza Shah Pahlevi (1925-1941). Lalu dinamika politik yang terjadi di Iran merubah aturan tersebut. Jilbab menjadi aturan wajib bagi perempuan Iran di era revolusi 1979 era Ayatollah Khomeini.

Jika kita tengok model-model jilbab wanita Iran, beberapa model hampir sama dengan wanita Indonesia era lampau berjilbab. Termasuk Sinta Nuriyah. Sedikit terbuka di bagian kepala. Dalam konteks ini, kultur bawaan masyarakat menjadi norma dalam berjilbab. Buat kita mungkin aneh, buat mereka biasa saja.

Jawaban kedua bisa jadi adalah faktor Gus Dur. Ya. Karena Sinta Nuriyah adalah Istri Gus Dur. Gus Dur memang telah lama distempel sebagai pengusung faham liberal. Esai saya edisi sebelumnya membahas bagaimana kotroversialnya sikap dan pandangan Gus Dur di mata publik.

Publik menilai Gus Dur terlalu nyleneh dalam mensikapi berbagai persoalan sehingga sering dicap sebagai pengusung faham liberal, hal tersebut juga berlaku untuk keluarganya, termasuk sang Istri. Dalam konteks keberimbangan demokrasi, jelas subjektifitas semacam ini tidak fair. Namun agaknya memang keluarga Gus Dur sudah kebal dengan hal hal seperti itu.

Baca Juga:  Metode Holistik; Praktik Dakwah yang Mampu Mengobati Keresahan Umat

Terlepas dari faktor Gus Dur, serta terlepas dari ikhtilaf para mufassir dan ulama mengenai jilbab dan batasan batasan penggunaannya, namun faktanya, sejarah jilbab di Indonesia tak sekelam sejarah jilbab di Iran.

Indonesia sama sekali tidak pernah melarang penggunaan Jilbab. Bahkan sebagian kultur model Jilbab di Iran hampir sama dengan kultur sebagian model Jilbab di Indonesia.

Polemik Jilbab tentu akan terus menjadi polemik kambuhan selama kultur masyarakat tak tercerabut dari akarnya. Simplifikasi polemik Jilbab hanya pada seorang Sinta Nuriyah Wahid atau ulama yang memberikan tafsir longgar terhadap Jilbab misalnya sekali lagi bukanlah sikap fair.

Karena Jilbab ternyata bukan semata persoalan agama, ia adalah fenomena yang hidup, menyejarah dalam masyarakat dan bermetamorfosa menjadi budaya.

Muhammad Muchlish Huda