Wali Pamijahan: Profil, Metode Dakwah dan Ajaran Tasawufnya

Wali Pamijahan: Profil, Metode Dakwah dan Ajaran Tasawufnya

PeciHitam.org Walisongo terkenal sebagai dewan dakwah yang menjadi kekuatan spiritual dan politik kerajaan Demak Bintoro di Pesisir Utara Jawa Tengah. Kerajaan Islam pertama di Jawa ini memiliki tugas adilihung menyebarkan agama Islam ke seluruh Nusantara.

Walisogo sendiri menurut beberapa sejarwan bukan hanya penyokong Demak sebagai entitas politik Negara, namun sudah lebih dulu eksis sejak era Syaikh Jumadil Kubra (wafat. 1415 M), Syaikh Maulana Magribi (wafat 1419 M) dan lain sebagainya. Maka bisa dikatakan bahwa Dewan Dakwah Walisongo jauh sudah terlebih dahulu ada sebelum Demak berdiri.

Ajaran dan nilai budaya serta bukti otentik keberadaan Makam Walisongo di Nusantara membuktikan bahwa beliau memiliki peran besar dalam mengislamkan Nusantara.

Sebagian besar Makam Walisongo, terutama yang terkenal, berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari 9 Makam Walisongo yang masyhur, hanya Sunan Gunung Jati yang berada di Jawa Barat.

Selebihnya di Jawa Tengah3 Makam (Kalijaga, Kudus, dan Muria) dan 5 Makam di Jawa Timur (Drajat, Giri, Gresik, Ampel, Bonang di Tuban).

Akan tetapi ada tokoh penyebar Islam yang juga terkenal sebagai Wali dan menggunakan gelar Sunan, antara lain Syaikh Abdul Muhyi di Pamijahan yang terkenal dengan Wali Pamijahan atau Sunan Pamijahan.

Profil Abdul Muhyi

Syaikh Abdul Muhyi atau Wali Pamijahan dilahirkan di Kerajaan Mataram pada tahun 1650 M. Beliau adalah putra dari Sembah Lebe Wartakusumah, Pangeran dari Kerajaan Galuh dengan R Ajeng Tanganijah yang memiliki dasar syarifah. Syaikh Abdul Muhyi kecil dibesarkan oleh Orang Tuanya di daerah Ampel Jawa Timur.

Pendidikan agama beliau sedari kecil didapat dari orang tuanya yang merupakan penganut Islam taat, dan dari Ulama disekitar Ampel yang terkenal sebagai Daerah Wali dan Santri.

Tanda Alam, bahwa beliau memiliki kecerdasan, kewibawaan yang jarang dimiliki oleh teman sebayanya menunjukan ia akan menjadi orang besar.

Menginjak usia 19 tahun, ia berangkat ke Kuala (sekarang Aceh) untuk belajar kepada Syaikh Abdur Rauf Singkil. Seorang Ulama ahli tarekat  Syatariyah dan banyak menulis buku dalam Tassawuf yang bermukim di Singkil Aceh. Abdul Muhyi remaja menempa diri kepada Syaikh Abdurrauf Singkil selama 8 tahun.

Baca Juga:  Mengenal Ummul Mukminin Khadijah Sebelum Bertemu dengan Rasulullah SAW

Bersama dengan teman satu pendidikannya, Abdul Muhyi dibawa gurunya untuk berziarah ke Makam Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, tokoh besar tarekat dunia yang berada di Baghdad Irak. Abdul Muhyi bermukim di Baghdad selama dua tahun bersama teman dan gurunya tersebut.

Setelah berziarah di Baghdad, Abdul Muhyi dan Syaikh Rauf Singkil beranjak menunaikan Ibadah Haji ke Makkah. Ketika berada di Makkah, Syaikh Abdurrauf Singkil mendapatkan bisikan Ilahiyah atau Ilhan bahwa salah satu murid beliau akan menjadi seorang Wali Agung. Dan tanda tersebut semakin jelas ketika waktu Ashar ada sebuah kilatan cahaya masuk ke Abdul Muhyi.

Sekira tahun 1677 M, Syaikh Abdurrauf Singkil mengajak rombongan muridnya kembali ke Kuala Aceh. Sesampainya di Aceh, Abdul Muhyi diperintahkan untuk pulang ke Jawa dan meminta izin untuk memulai misi dakwah di daerah Jawa Bagian Barat. Isyarat Syaikh Abdurrauf kepada Abdul Muhyi untuk mencari gua sebagai pusat dakwahnya.

Sampai di Jawa sebelum memulai misi dakwah, Abdul Muhyi dinikahkan dengan Ayu Bakta, putri Sembah Dalem Sacaparana (Tumenggung Wiradegdaha) Bupati Tasikmalaya. Dengan Ayu Bakta inilah Abdul Muhyi mempunyai penerus dakwah Islam di daerah Pamijahan Tasikmalaya.

Metode Dakwah Wali Pamijahan

Abdul Muhyi berangkat berdakwah ke arah barat dan sementara waktu bermukim di Desaa Darma Kuningan. Keberadaan Syaikh Abdul Muhyi ternyata disambut baik oleh warga Darma, dan beliau diminta mukim disana selama 7 tahun sampai tahun 1685 M. Kabar Abdul Muhyi menetap di Darma Kuningan mendorong orang Tua beliau menyusul.

Syaikh Abdul Muhyi tidak melupakan pesan gurunya Syaikh Abdurrauf Singkil untuk mencari sebuah Gua sebagai pusat dakwah. Pencarian Syaikh Abdul Muhyi dengan menggunakan metode khusus ajaran gurunya, yaitu dengan menanam padi.

Ketika hasil panen melimpah, berarti tempatnya salah, namun ketika padi yang ditanam hanya menghasilkan sebanyak benihnya maka itu tanda tempat gua yang dimaksud Syaikh Abdurrauf.

Syaikh Abdul Muhyi mencoba metode ini di lakukan di Pamengpeuk, Garut Selatan, Batu Wangi, Lebaksiu, Kampung Cilumbu. Usaha menanam Padi di daerah ini selalu menghasilkan panen melimpah menandakan kegagalan misi mencari Gua yang maksud. Beliau melanjutkan perjalanan ke sebuah gunung yang sangat asri pemandangannya yang  kemudian dikenal dengan Gunung Mujarod.

Baca Juga:  Muhammad bin Al Hanafiyah; Putra Ali bin Abi Thalib, Penerus Sanad Keilmuan Rasulullah

Di daerah Gunung Mujarod ini, Syaikh Abdul Muhyi mencoba menanam Padi dan ternyata saat masuk masa panen, tanaman padi hanya mengeluarkan sejumlah benin yang ditanam.

Isyarat ini menandakan bahwa gunung Mujarod adalah tempat yang  dimaksudkan oleh Syaikh Abdurrauf Singkil. Di lereng gunung ini beliau menemukan sebuah Gua yang diisyaratkan Gurunya. Maka mulailah beliau mukim disana dan memboyong semua keluarganya.

Gua ini saat ini dikenal dengan Gua Safarwadi dan masuk dalam administrasi Desa Pamijahan Tasikmalaya oleh karenanya beliau dikenal sebagai Wali Pamijahan sesuai dengan Nisbah daerah pusat dakwahnya.

Dakwah yang dilakukan oleh Wali Pamijahan adalah menyiapkan kader-kader dakwah di masyarakat yang berasal putra putri beliau dan para santri.

Beliau menyebarkan Islam dan memperkuat jaringan keagamaan di daerah Bojong Tasikmalaya sebelum membuat rumah permanen di dekat Gua Safarwadi Pamijahan.

Pengkaderan yang dilakukan oleh Wali Pamijahan setidaknya menunjukan keberhasilan karena banyak putra dan santri beliau menjadi penyebar Islam.

Santri Beliau, Sembah Khotib Muwahid menyebarkan Islam di daerah Desa Panyalahan Tegal, Eyang Abdul Qahar menyebarkan Islam di Pandawa, Tegal. Mertua beliau, Sembah Dalem Sancaparana memilih tinggal di Bojong sampai akhir hayatnya.

Salah satu putra beliau, Sayyid Faqih Ibrahim salah satu perintis pertama pesantren di Majalengka. Sayyid Faqih Ibrahim diminta oleh Penguasa Lokal Sunan Wanaperih, Raja Kerajaan Talaga Manggung untuk menjadi Guru Spiritual di Pesantren yang didirikan olehnya. Inisiasi lembaga pesantren sebagai wujud ikhtiyat untuk mengumandangkan syiar Islam di Nusantara.

Perang Sunan Pamijahan sebagai tokoh pengkader para penyebar Islam di Jawa Barat Bagian selatan menunjukan kepantasan beliau disebut sebagai Wali Pamijahan. Wujud dari umat Islam kepada Wali Pamijahan adalah mendoakan beliau ketika berziarah kemakamnya.

Ajaran Wali Pamijahan

Sepak terjang dakwah Wali Pamijahan memang tidak banyak pembahasannya karena tidak adanya sumber bukti otentik tertulis. Kelemahan sejarah Barat adalah tidak memasukan kronik tuturan atau cerita rakyat sebagai bukti kebenaran sejarah, sedangkan banyak sejarah Nusantara hanya sebatas tuturan saja.

Terlepas dari hal tersebut, Syaikh Abdul Muhyi atau Wali Pamijahan memiliki peninggalan Kitab yang berisi ajaran Tarekat Syatariyah yang sangat kental membahas dunia Tassawuf.

Tarekat Syatariyah adalah sebuah gerakan ordo Tarekat yang dinisbahkan kepada Syaikh Abdullah Asy-Syatiri yang berkembang awal di daerah Transoksania (Asia Tengah).

Baca Juga:  Mengenal Wanita Mulia Aminah binti Wahab Ibunda Nabi Muhammad Saw

Tidak syak Wali Pamijahan sebagai pengamal ajaran Tarekat Syatariyah karena Gurunya Syaikh Abdurrauf Singkili adalah demikian. Tarekat ini sangat terkenal di daerah Priangan Timur sebagaimana banyak ditemukan Bangsawan Cirebon mendirikan pesantren dan mengembangkan ajaran Tarekat Syatariyah.

Kitab yang membuat ajaran Syaikh Abdul Muhyi adalah berjudul ‘Martabat Kang Pipitu’ yang mana kitab ini sudah menjadi Manuskrip di Perpustakaan Leiden Belanda.

Hal ini berkaitan erat dengan sejarah penjajahan Indonesia oleh Belanda, maka Kitab Wali Pamijahan ikut terbawa dan dipelajari oleh Snouck Hurgronje.

Kitab ‘Martabat Kang Pipitu’ bernomor katalog perpustakaan cod. Or 7527, Cod.or 7705 dan Cod.or 7465. Namun hanya dua katalog pertama saja yang sudah berhasil diteliti oleh KH Ali Muhammad Abdillah ketika memiliki kesempatan memegang turats Tassawuf Ulama Nusantara.

Harus dipahami bahwa Syaikh Abdul Muhyi atau Wali Pamijahan adalah Murid langsung Syaikh Abdurrauf As-Singkili. Beliau bersama selama belasan tahun semenjak menuntut Ilmu di Kuala Aceh sampai menemani ziarah di Baghdad dan Makkah. Maka pemikiran Syaikh Abdul Muhyi dengan Syaikh Rauf Singkil beririsan.

Dalam penelitian kitab ‘Martabat Kang Pipitu’  oleh KH Ali M Abdillah menemukan simpulan bahwa nalar teologi Wali Pamijahan adalah Asy’ariyah.

Artinya beliau adalah seorang Sunni sejati, dan tentunya guru beliau Syaikh Rauf Singkil demikian. Maka anggapan Syaikh Rauf Singkil adalah wahdatul wujud salah.

Kitab Tassawuf ‘Martabat Kang Pipitu’ karya Wali Pamijahan menerangkan istilah Tanzih dan Tasybih serta pemilahan Wujud Qadim dan Wujud Huduts. Dalam konteks ini, Syaikh Abdul Muhyi menukil ajaran Syaikh Rauf Singkil.

Banyaknya ajaran tarekat Syatariyah di Priangan Timur bisa dipahami berasal dari ajaran Syaikh Abdul Muhyi dari Syaikh Abdurrauf Singkil yang membawanya dari gurunya Syaikh Ahmad al-Qusyaisyi. Syaikh Al-Qusyaisyi tidak lain seroang Khalifah Tarekat Syatariyah di Madinah.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG