Boleh Menyampaikan Hadits Dhoif Tanpa Menjelaskan Statusnya

Pecihitam.org – Hadits merupakan salah satu rujukan dalam hukum Islam selain Alquran. Hadits kerap memuat sejumlah kaidah terkait akidah, ibadah, muamalah, maupun amalan keseharian.

Muhadditsin membagi hadits ke dalam tiga kategori: shahih, hasan, dan dhaif. Kategori ini dibagi berdasarkan kualitas hadits dengan ukuran kualitas perawi dan ketersambungan sanadnya. Kualitas hadits yang paling tinggi adalah shahih, kemudian hasan, dan terakhir dhaif. Menurut sebagian ulama, hadits dhaif ialah hadits yang tidak memenuhi persyaratan hadits shahih dan hasan.

Hadis dhaif dinisbahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, tetapi kualitas perawinya dinilai kurang karena tidak kuat hafalannya maupun kredibilitasnya, atau bisa juga karena sanadnya terputus.

Ada juga hadis maudhu’ atau hadis palsu. Hadis ini disebut memuat informasi yang berasal dari Rasulullah, padahal bukan perkataan Rasulullah.

Baca Juga:  Betulkah Mengatakan "Kembali Kepada Qur’an dan Sunnah" Mendekatkan Orang Kepada Qur’an dan Sunnah?

Sementara, bagaimana pandangan ulama terkait menyampaikan hadis dhaif namun tidak disebutkan statusnya?

Dikutip dari laman Syariah Nahdlatul Ulama, para ulama membolehkan mengamalkan dan menyampaikan hadis dhaif, selama tidak berkaitan dengan persoalan halal-haram, akidah, dan tidak palsu.

Pendapat ini dikemukakan oleh Hasan Muhammad Al-Masyath dalam kitabnya Al Taqriratus Saniyyah fi Syarahil Mandzumah Al Bayquniyyah:

قد أجاز بعض العلماء رواية الحديث الضعيف من غير بيان ضعفه بشروط: أولا أن يكون الحديث في القصص أو المواعظ أو فضائل الأعمال أو نحو ذلك مما لا يتعلق بصفة الله والعقائد والا بالحلال والحرام وسائر الأحكام الشرعية وأن لا يكون الحديث موضوعا أو ضعيف شديد الضعف

Baca Juga:  Saat Ulama Salafi Wahabi Berdusta Atas Nama Imam Abu Hanifah

“Sebagian ulama membolehkan periwayatan hadits dhaif tanpa menjelaskan kedhaifannya dengan beberapa syarat: hadits tersebut berisi kisah, nashat-nasihat, atau keutamaan amalan, dan tidak berkaitan dengan sifat Allah, akidah, halal-haram, hukum syariat, bukan hadits maudhu’, dan tidak terlalu dhaif.”

Merujuk pada pendapat ini, para dai dibolehkan untuk menyampaikan hadits yang berkaitan dengan kisah-kisah dan motivasi dalam ceramahnya meskipun tidak menjelaskan kualitas hadits yang disampaikan kepada jamaahnya. Hal ini dibolehkan dengan catatan hadits yang disampaikan tidak berkaitan dengan akidah, persoalan halal dan haram, bukan hadits palsu, dan haditsnya tidak terlalu dhaif. Wallahu a’lam

Sumber: NU.or.id

Muhammad Ali

Santri Aswaja An Nahdliyyah at Pecihitam Store
Hanya seorang santri yang ingin mengambil peran dalam menebarkan Nilai-nilai Islam Rahmatan lil Alamin ala Aswaja Annahdliyyah
Muhammad Ali