Adab Menerima Tamu dalam Islam, Tuan Rumah Wajib Tahu!

Adab Menerima Tamu dalam Islam

Pecihitam.org – Saling Mengunjungi rumah saudara, kerabat, tetangga dan teman termasuk perbuatan mulia. Karena melalui kunjungan tersebut hubungan persaudaraan dan persahabatan menjadi semakin kokoh dan akrab. Namun tentunya, selain harus memperhatikan adab dalam bertamu, sebagai tuan rumah juga sangat penting memperhtikan adab menerima tamu sebagaimana tuntunan agama.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jika posisi kita sebagai tamu, maka Supaya kunjungan membuahkan hasil maupun mendapatkan kebaikan, perhatikanlah waktu dan kondisi orang yang akan kita kunjungi, semisal jangan bertamu pada waktu istirahat dan jam kerja, atau buatlah janji terlebih dahulu supaya pihak yang dikunjungi tidak merasa keberatan.

Begitupun dengan orang yang dikunjungi, hormatilah setiap tamu yang mendatangi rumah dan layani mereka dengan cara yang baik, sopan, dan santun. Apabila jika persediaan di rumah kita mencukupi, jamulah tamu dengan makanan dan minuman.

Jika memungkinkan ajak tamu untuk menginap, sebab menjamu tamu termasuk perbuatan baik yang sangat dianjurkan dan dikaitkan dengan kesempurnaan iman.

Sebagaimana yang dipahami dalam hadis riwayat Bukhari yang termaktub dalam Adabul Mufrad:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم  ضيفه جائزته يوم وليلة والضيافة ثلاثة أيام فما بعد ذلك فهو صدقة ولا يحل له أن يثوي عنده حتى يحرجه

Baca Juga:  Bacalah Basmalah Setiap Memulai Suatu Pekerjaan Agar Menjadi Lebih Berkah

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda, Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamu dengan menjamunya sehari semalam. Jamuan hak tamu hanya berjangka tiga hari, lebih dari itu, jamuan bersifat sedekah, tidak boleh bagi tamu untuk menginap di tempat tuan rumah sehingga menyusahkannya.”

Berdasarkan hadis di atas, menunjukkan perlunya perhatian dan pengertian tuan rumah dan tamunya sehingga tuan rumah sebisanya melayani tamu dengan baik, bahkan dianjurkan mempersilakan mereka untuk menginap.

Menerima dan memuliakan para tamu merupakan salah satu wujud silaturahim yang cukup efektif dan salah satu bentuk memuliakan para tamu adalah dengan cara menjaga adab atau etika yang berlaku ketika seseorang kedatangan tamu di rumah kita.

Adab menerima tamu ini secara praktis dijelaskan dalam kitab Ghida’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab:

مِنْ آدَابِ الْمُضِيفِ أَنْ يَخْدُمَ أَضْيَافَهُ وَيُظْهِرَ لَهُمْ الْغِنَى، وَالْبَسْطَ بِوَجْهِهِ، فَقَدْ قِيلَ: الْبَشَاشَةُ خَيْرٌ مِنْ الْقِرَى -وَمِنْ آدَابِ الْمُضِيفِ أَيْضًا أَنْ يُحَدِّثَهُمْ بِمَا تَمِيلُ إلَيْهِ أَنْفُسُهُمْ، وَلَا يَنَامَ قَبْلَهُمْ، وَلَا يَشْكُوَ الزَّمَانَ بِحُضُورِهِمْ، وَيَبَشُّ عِنْدَ قُدُومِهِمْ، وَيَتَأَلَّمُ عِنْدَ وَدَاعِهِمْ، وَأَنْ لَا يَتَحَدَّثَ بِمَا يُرَوِّعُهُمْ بِهِ، بَلْ لَا يَغْضَبُ عَلَى أَحَدٍ بِحَضْرَتِهِمْ لِيُدْخِلَ السُّرُورَ عَلَى قُلُوبِهِمْ بِكُلِّ مَا أَمْكَنَ . وَعَلَيْهِ أَيْضًا أَنْ يَأْمُرَ بِحِفْظِ نِعَالِ أَضْيَافِهِ، وَيَتَفَقَّدَ غِلْمَانَهُمْ بِمَا يَكْفِيهِمْ، وَأَنْ لَا يَنْتَظِرَ مَنْ يَحْضُرُ مِنْ عَشِيرَتِهِ إذَا قَدَّمَ الطَّعَامَ إلَى أَضْيَافِهِ

Baca Juga:  Sebelum Wafat, Inilah Wasiat Nabi Nuh Kepada Kita Semua

Artinya: “Sebagian adab penerima tamu (kepada tamunya) adalah melayani para tamu (dengan menyediakan jamuan), menampakkan kondisi serba cukup, dan menunjukkan wajah gembira-ada pepatah mengatakan, ‘Menunjukkan wajah riang gembira lebih baik dari memberi suguhan’ (tanpa disertai wajah yang gembira). Adab penerima tamu yang lain adalah mengajak ngobrol para tamu dengan hal-hal yang disukai mereka, tidak tidur terlebih dahulu sebelum mereka pergi atau beristirahat, tidak mengeluh tentang waktu dengan kehadiran mereka, menampakkan wajah berseri-seri ketika para tamu datang, merasa sedih saat mereka pergi, tidak bercakap tentang sesuatu yang membaut mereka takut, tidak marah kepada siapa pun selama mereka bertamu agar sebisa mungkin tetap tertanam suasana bahagia di hati mereka. Bagi penerima tamu, hendaknya memerintahkan kepada para tamu agar menjaga sandal mereka, memberi sesuatu (oleh-oleh) kepada anak-anak kecil dari para tamu, dan tidak menunggu orang yang akan datang ketika ia masih menyuguhi jamuan kepada para tamunya.” (Lihat: Muhammad bin Ahmad bin Salim as-Safarini, Ghida’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab, juz 2)

Baca Juga:  Jilbab Bugil, Berjilbab Namun Sebenarnya Telanjang!

Dengan menjaga adab menerima tamu sebagaimana dijelaskan di atas maka akan terwujud rasa nyaman dari para tamu yang hadir, sehingga terjalin keharmonisan dan hubungan emosional yang kuat di antara tuan rumah dan tamu.

Sementara untuk tamu juga diminta pengertiannya, meskipun bertamu dianjurkan, jangan sampai membuat tuan rumah menjadi keberatan dan kesulitan. Adanya saling pengertian kedua belah pihak ini diharapkan dapat hubungan baik antara keduanya dan membawa berkah. Amin

Mochamad Ari Irawan

Leave a Reply

Your email address will not be published.