Fadhilah Kalimat Tauhid Laa Ilaaha Illallah yang Jarang Diketahui

fadhilah kalimat laa ilaaha illallah

Pecihitam.org – Kalimat laa ilaaha illallah adalah sebuah kalimat dan simbol identitas ketauhidan kepada Allah swt. Dengan kalimat tersebut, harta, darah serta kehormatan manusia terjaga, tidak ada yang berhak mengganggunya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dengan kalimat itupula peperangan demi peperangan terjadi, darah demi darah mengalir dengam memperjuangkan dan mempertahankannya. Oleh karena itu, akan didapati berbagai riwayat tentang fadhilah dan keutamaan kalimat laa ilaaha illallah, diantaranya:

Siapa yang akhir ucapannya adalah Laa ilaaha illallah dia masuk surga, selamat dari neraka, diampuni dosanya, ia adalah sebaik baik kebaikan, menghapus dosa dan kesalahan, memperbaharui iman di dalam hati, (berat) melebihi langit dan bumi, menembus batas-batas hijab, sebaik-baik Dzikir para Nabi, sebaik-baik amal, pahalanya dilipatgandakan, melepaskan diri dari belenggung, menjadi pelindung dari godaan setan, memberi kedamaian bagi penghuni kubur, sebagai tanda bagi orang-orang mukmin jika dibangkitkan dari kuburnya.

Dalam riwayat yang lain, sahabat meminta wasiat dari nabi saw, dijawab, “Jika engkau melakukan keburukan maka segeralah melakukan kebaikan, sebab dengan kebaikan itu akan menghapus keburukanmu. Ya Rasulallah, bagaimana dengan Laa ilaaha illallah? Nabi saw menjawab: itu sebaik-baik kebaikan.

Kunci surga adalah kalimat laa ilaaha illallah, segala sesuatu ada kunci-kuncinya, dan kunci langit adalah kalimat laa ilaaha illallah. Di riwayat yang lain Nabi saw bersabda, “Betapa bahagianya manusia kelak ia mendapatkan syafaatku pada hari kiamat yaitu yang mengucapkan laa ilaaha illallah dengan penuh ketulusan dari hati atau jiwanya.

Baca Juga:  Muhasabah Diri di Tengah Musibah dan Pandemi

Riwayat yang saya sebutkan didapatkan dalam kitab al-Syaikh al-Sayyid al-Maliki al-Hasani al-Makki tentang Tahqiq Al-Amal Fima Yanfau Al-Mayyit Min al-A’mal pada halaman 106.

Barangkali muncul pertanyaan, masa hanya dengan kalimat laa ilaaha illallah berbagai keutamaan dan keistimewaan kita dapatkan. Secara zhahirnya memang demikian. Namun pada hakikatnya tidak semudah itu mendapatkannya.

Sebab syarat utama untuk mendapatkan fadhilah dan keistimewaan kalimat laa ilaaha illallah tersebut adalah mengucapkan dengan penuh ketulusan hati, kesucian jiwa. Sekali lagi, diucapkan dengan penuh ketulusan hati, kesucian jiwa. Kalimat tersebut harus menyatu dalam hati, pikiran dan terimplementasi dalam seluruh prilaku kita sehari-hari.

Bilal bin Rabbah ketika diketahui masuk Islam, oleh tuannya ia dipanaskan dibawa terik matahari, ditindis batu serta tanpa diberi makan dan minum namun ia tetap dalam pendiriannya. Sebab ia telah mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah. Kalimat tersebut ia lafazkan melalui lisannya, hatinya membenarkan dan meyakininya, dan ia jadikan pegangan hidupnya dalam setiap tingkah lakunya.

Ammar bin Yasir pun mengalami yang sama ia rela disiksa dengan kepedihan yang tak bisa dibayangkan, ia dengan anak dan istrinya disiksa oleh tuannya, karena telah mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah. Kematian tidak berarti baginya bila dibandingkan dengan kalimat laa ilaaha illallah.

Oleh karena itu, ulama memahami bahwa kalimat laa ilaaha illallah itu memiliki makna, antara lain:

Laa maujuda illallah. Tidak ada eksistensi hakiki selain Allah. Eksisnya kita saat ini tidak lain karena eksisten Allah swt. Antara Makhluk dengan Khaliq, seperti matahari dengan sinarnya. Sinarnya tidak memiliki eksistensi jika tidak ada matahari. Manusia bukan wujud yang mandiri tetapi ia adalah wujud yang tergantung.

Baca Juga:  Renungan dari Abu Nawas; Kebohongan Bisa Menjadi Kebenaran

Laa maqshuda illallah. Tidak ada tujuan selain Allah. Berbagai kebahagian yang didapatkan manusia tetapi selalu saja ada yang kurang dari kebahagiaan tersebut, sebab kebahagiaan yang hakiki hanyalah ketika berjumpa dengan Allah Swt.

Karena itu salah satu makna Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun adalah kita dari Allah dan kepadanya kita akan kembali. Jika tempat kembali kita satu-satunya adalah Allah swt maka tentu saja kita akan mempersiapkan diri dengan pertemuan itu. Sesuatu yang dikejar, dicari dengan segala cara tidak akan mengantarkan pada kebahagiaan yang sebenarnya jika tidak menjadikan gerakan itu karena mencapai ridha Allah swt.

Laa ma’buda illallah. Tiada sembahan yang layak selain Allah. Sebab sembahan selain Allah penuh dengan keterbatasan. Menyembah matahari, mataharipun terbatas, menyembah api, apipun terbatas cukup disiram dengan air ia akan padam, menyembah air, airpun terbatas. Ia akan hanyut bila bertemu dengan tanah.

Sebutlah sesuatu selain Allah, maka sesuatu itu penuh dengan keterbatasan. Karena ia terbatas maka tentu saja tidak layak untuk disembah. Allah itu ghani, ia tidak membutuhkan yang lain, manusia itu faqir, ia sangat butuh kepada yang lain. Manusia hanya akan tunduk pada objek yang tidak terbatas dan satu-satunya yang tak terbatas hanyalah Allah swt.

Baca Juga:  Mengatasi Krisis Kebahagiaan dengan Berdzikir

Laa mahbubah illallah. Tidak ada yang layak dicintai selain Allah. Setiap kecintaan kepada selain Allah swt akan melahirka kekecewaan sebab yang kalian cintai memiliki kekurangan. Secantik dan seindah apapun sesuatu akan memiliki kekurangan. Satu-satunya objek yang tidak memiliki kekurangan hanyalah Allah swt.

Ia adalah awal tanpa permulaan, ia adalah akhir tanpa akhir. Pemberian-Nya tak akan pernah habis betapapun banyaknya makhluk yang ia beri, sebab ia adalah Yang Maha Tak Terbatas. Rasa cinta hanya layak diberikan kepada yang tak terbatas akan cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan semata.

Oleh karena itu, kalimat laa ilaaha illallah itu ringan tetapi timbangannya sangat berat, kalimat itu sederhana tetapi pahalanya luar biasa, kalimatnya pendek tetapi balasannya tak terhingga bila diucapkan dengan penuh ketulusan hati, kesucian jiwa. Wa Ma Taufiqi Illa Billahi ‘Alaihi Tawakkaltu wa Ilaihi Unib. 

Muhammad Tahir A.