Anak Yatim, Mereka yang Sering Terlupakan

anak yatim

من اكرم فيه يتيما اكرمه الله يوم يلقاه

Artinya: “Barang siapa yang memuliakan anak yatim di bulan ini, maka Allah memuliakan-Nya saat berjumpa dengan Allah swt.

Pecihitam.org – Hadis diatas masih seputar tentang khotbah Nabi saw menjelang memasuki bulan Ramadhan. Khotbahnya singkat namun penuh makna, sederhana namun mengandung banyak hikmah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam al-Qur’an surah al-Ma’un ayat 1-2 Allah berfirman:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2)

Artinya: Tahukah Engkau orang yang mendustakan agama? Yaitu orang yang menghardik anak yatim.

Jadi sepintas dapat dipahami bahwa orang yang mendustakan agama bukan sekedar yang meninggalkan shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah lainnya tetapi al-Qur’an secara tegas menyebutkan orang yang mendustakan agama Allah swt adalah menghardik anak yatim.

Bila rajin shalat, puasa, zakat, haji namun suka menghardik anak yatim kita digolongkan sebagai pendusta agama. Seakan-akan ibadah yang dilakukan tidak memiliki nilai dihadapan Allah swt bila suka menghardik, menyatikit, mengabaikan anak yatim.

Baca Juga:  Benarkah Penulisan Sejarah Terbentuk atas Kepentingan Politik Semata?

Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi saw bersabda, “Carilah aku ditengah-tengah orang yang hancur hatinya. Yang hancur hatinya yang dimaksud Nabi saw adalah anak yatim, orang miskin dan fuqara. Bila Nabi saw masuk ke masjid beliau mencari tempat duduk yang dekat dengan orang-orang miskin.

Apa tujuan Nabi saw melakukan itu? Sebab Nabi saw ingin memberi semangat kepada mereka agar tidak minder di tengah-tengah orang kaya. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah menyebutkan bahwa:

«شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الوَلِيمَةِ، يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الفُقَرَاءُ، وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

Artinya: seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah (pesta), ia mengundang orang-orang kaya dan mengabaikan orang-orang fuqara, siapa yang tidak mengundang orang-orang fuqara maka sungguh telah mendurhakai Allah dan rasul-Nya.

Nabi saw pernah berkata kepada Ali. “Hai Ali, barang siapa yang menyentuhkan tangannya kepada anak yatim dengan penuh kasih sayang. Allah berikan kepadanya untuk setiap lembar rambut yang disentuhnya cahaya pada hari kiamat.”

Baca Juga:  Gagasan Jaminan Kebebasan Beragama ala Gus Dur

Seorang sahabat mengeluh dihadapan Nabi saw karena ia memiliki sifat keras kepala, hatinya membatu. Maka Nabi saw menyuruhnya untuk mendatangi anak yatim dan menyentuh rambutnya agar hatinya menjadi lembut.

Anak yatim dalam al-Qur’an dan hadis begitu dimuliakan sehingga terlarang bagi kita untuk menyakitinya baik dengan ucapan apalagi dengan tindakan. Meminta-minta itu dicela oleh agama, tetapi manusia tidak dibolehkan mencela para peminta-minta.

Dalam hadis Qudsi disebutkan: pada hari kiamat nanti, Allah swt berkata kepada hamba-hamba-Nya, dahulu aku lapar, engkau tidak memberi aku makan pada-Ku, dahulu aku sakit, engkau tidak menjenguk-Ku. Dahulu aku telanjang, engkau tidak memberiku pakaian.

Si hamba berkata, “Bagaimana mungkin aku memberikan itu semua sementara Engkau Pemilik Alam semesta?

Dahulu ada hamba-Ku sakit, sekiranya engkau jenguk, kau akan temukan Aku di situ. Dahulu ada hamba-Ku lapar, andai kamu beri makanan pada dia, kau akan temukan Aku di situ. Dahulu ada hamba-Ku telanjang, bila engkau memberinya pakaiain, kau akan temukan Aku di situ.

Baca Juga:  Begini Cara Islam Mengistimewakan Anak Yatim Seperti yang Dicontohkan Nabi dan Sunan Drajat

Hadis qudsi ini ingin mengenaskan bahwa memberi makan orang lapar, menjenguk orang sakit, memberi pakaian kepada orang yang telanjang itu sama halnya memberi kepada Alla swt.

Allah terlalu jauh untuk dijangkau, ditemui, apalagi mencintainya. Maka sebelum mencintai Allah maka terlebih dahulu cintainya hamba-hamba-Nya sebab mencintai mereka pada hakikatnya mencintai Allah.

Wallahu a’lam bisshawab.

Muhammad Tahir A.