Hadits Shahih Al-Bukhari No. 36-38 – Kitab Iman

Pecihitam.org – Hadits Shahih Al-Bukhari No. 36-38 – Kitab Iman ini, menjelaskan kepada kita untuk melaksanakan shalat, puasa dan jihad. Dan dalam melakukan perbuatan-perbuatan (amalan-amalan) tersebut sebaiknya tidak berlebihan, akan tetapi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan perlahan-lahan sehingga dapat melaksanakannya secara terus menerus. Keterangan hadist dikutip dan diterjemahkan dari Kitab Fathul Bari Jilid 1 Kitab Iman. Halaman 166-170.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hadits Shahih Al-Bukhari No. 36

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [Isma’il] berkata, telah menceritakan kepadaku [Malik] dari [Ibnu Syihab] dari [Humaid bin Abdurrahman] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menegakkan Ramadlan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Hadits Shahih Al-Bukhari No. 37

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Salam] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] berkata, telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa’id] dari [Abu Salamah] dari [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Hadits Shahih Al-Bukhari No. 38

حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ مُطَهَّرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ مَعْنِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْغِفَارِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [Abdus Salam bin Muthahhar] berkata, telah menceritakan kepada kami [Umar bin Ali] dari [Ma’an bin Muhammad Al Ghifari] dari [Sa’id bin Abu Sa’id Al Maqburi] dari [Abu Hurairah] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit). Maka berlakulah lurus kalian, mendekatlah (kepada yang benar) dan berilah kabar gembira dan minta tolonglah dengan Al Ghadwah (berangkat di awal pagi) dan ar-ruhah (berangkat setelah zhuhur) dan sesuatu dari ad-duljah ((berangkat di waktu malam) “.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 576 – Kitab Adzan

Keterangan Hadis: الدِّينَ يُسْرٌ (Agama itu mudah) Maksudnya, agama Islam adalah agama yang memiliki kemudahan, atau disebut dengan agama yang mudah karena berbeda dengan agama-agama lainnya, dimana Allah telah menghilangkan kesulitan-kesulitan seperti yang dibebankan kepada umat-umat terdahulu. Sebagai contoh, cara taubat umat terdahulu adalah dengan jalan bunuh diri, sedangkan taubat umat ini hanya dengan meninggalkan perbuatan tersebut dan menyesalinya serta bertekad untuk tidak mengulangi lagi.

أَحَبّ الدِّين (agama yang paling disukai) Yang dimaksud adalah karakter agamanya, karena seluruh karakter agama -pada dasarnya- disukai, akan tetapi yang paling disukai Allah adalah yang paling mudah. Hal ini diperkuat oleh hadits Ahmad dengan sanad yang shahih dari seorang badui -tidak disebutkan namanya- bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Yang paling baik dari agamamu adalah yang paling mudah.” Atau yang dimaksudkan, agama yang paling disenangi Allah adalah agama yang lurus.

Pengertian agama di sini adalah, seluruh syariat pada masa lalu sebelum mengalami perubahan dan penghapusan. (الْحَنِيفِيَّة) adalah sebutan bagi agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS. Sedangkan الْحَنِيف (menurut bahasa) adalah orang yang memeluk agama Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim dijuluki dengan Al Haniif (orang yang lurus) karena kecenderungannya kepada kebenaran, sebab asal kata “hanafa” berarti cenderung.

Kata السَّمْحَة artinya mudah, maksudnya adalah agama Islam didasarkan atas kemudahan berdasarkan firman Allah, “Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama sesuatu kesempitan, (ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.” (Qs. Al Hajj (22): 78)

وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ (maka orang yang menyusahkan dirinya dalam agama ia tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna) Seseorang yang terlalu tenggelam dalam amalan-amalan agama (spiritual) dan tidak memperhatikan aspek kemudahan dalam agama, maka ‘ia tidak akan mampu melakukannya dengan sempurna.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 134 – Kitab Wudhu

Ibnu Mundzir berkata, “Dalam hadits ini terdapat ilmu para nabi. Kita dan para pendahulu telah melihat, bahwa setiap orang yang bersikap konservatif dalam agama, maka ia tidak akan dapat melaksanakan ajaran agamanya secara sempurna. Pernyataan ini tidak dimaksudkan untuk menghalangi seseorang dalam menyempurnakan ibadahnya, karena hal itu termasuk perbuatan yang terpuji. Akan tetapi, dimaksudkan untuk mencegah sikap mengasingkan diri yang dapat menyebabkan rasa bosan atau berlebihlebihan dalam melaksanakan ibadah sunah, sehingga ibadah yang wajib ditinggalkan. Atau tidak melaksanakan yang fardhu pada waktunya, seperti seseorang yang tidak tidur sepanjang malam untuk melakukan shalat sunah. Akan tetapi kemudian ia merasa ngantuk ketika akhir malam tiba, sehingga ia tertidur dan tidak dapat melaksanakan shalat subuh dengan berjamaah, bahkan tidak melaksanakannya sampai matahari terbit. Dalam hadits Mahjan bin Al Adra’ dari Ahmad, “Kalian tidak akan mendapatkan perkara ini dengan berlebih-lebihan, karena sebaik-baiknya agama kalian adalah yang mudah.”

Hadits ini merupakan anjuran untuk melaksanakan rukhshah (keringanan atau dispensasi) yang diberikan dalam agama, karena melaksanakan Azimah (hukum asal) pada waktu dibolehkan melakukan rukhshah adalah perbuatan yang memberatkan. Sebagai contoh, orang yang tidak melaksanakan tayammum pada saat tidak mampu menggunakan air, maka akan membahayakan dan memberatkan dirinya.

فَسَدِّدُوا (kerjakan sebagaimana mestinya), yaitu kerjakanlah dengan baik dan benar (tidak berlebihan dan tidak menguranginya).

وَقَارِبُوا (atau yang mendekati semestinya). Jika kamu tidak dapat mengerjakannya dengan sempurna, maka kerjakanlah yang mendekati kesempurnaan. وَأَبْشِرُوا (dan bergembiralah) Bergembiralah, karena akan mendapat balasan (pahala) atas amal yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit. Kabar gembira itu adalah bagi orang yang tidak mampu mengerjakannya dengan sempurna. Karena ketidakmampuan seseorang dalam melaksanakan perintah dengan tidak adanya unsur kesengajaan, maka tidak akan mengurangi pahalanya.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 506 – Kitab Waktu-waktu Shalat

اسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ (serta beribadahlah (mohon pertolongan Allah) pada waktu pagi) mohonlah pertolongan kepada Allah dengan melaksanakan ibadah secara kontinu pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Kata الْغَدْوَةِ artinya permulaan siang. Al Jauhari berkata, “yaitu waktu di antara shalat ghadah (zhuhur) dan terbitnya matahari.”

Sedangkan kata “Ar-Rauhah” artinya waktu setelah terbenamnya matahari, dan kata الدُّلْجَةِ artinya pada akhir malam. Ada yang berpendapat, bahwa kata tersebut berarti seluruh maiam, maka hadits tersebut menggunakan kata “min “yang menunjukkan arti sebagian. Hal ini disebabkan karena amalan yang dilakukan pada malam hari lebih berat bila dibandingkan dengan amalan pada siang hari.

Waktu-waktu ini merupakan yang paling baik bagi para musafir. Seakan-akan Rasulullah SAW mengingatkan kepada seorang musafir agar ia mempergunakan waktunya dengan baik dan tepat, karena seorang musafir jika berjalan sepanjang siang dan malam maka ia tidak akan sanggup. Akan tetapi jika ia memilih untuk berjalan pada sebagian waktu tersebut, maka ia akan sanggup meneruskan perjalanannya tanpa ada kesulitan.

Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa dunia -pada hakikatnya- adalah sebagai tempat persinggahan menuju akhirat, dan waktu-waktu tersebut adalah waktu yang paling nyaman bagi fisik untuk melaksanakan ibadah.

Korelasi antara hadits ini dengan hadits-hadits sebelumnya, bahwa hadits-hadits tersebut mengajak kepada kita untuk melaksanakan shalat, puasa dan jihad. Sedangkan dalam hadits ini, Imam Bukhari ingin menjelaskan bahwa dalam melakukan perbuatan-perbuatan (amalanamalan) tersebut sebaiknya tidak berlebihan, akan tetapi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan perlahan-lahan sehingga dapat melaksanakannya secara terus menerus. Berikutnya, Imam Bukhari kembali membahas tentang haditshadits yang menjelaskan perbuatan baik yang merupakan bagian dari iman.

M Resky S