Mengenal Suhrawardi Al-Maqtul, Sang Ulama Berbasis Tasawuf dan Filsafat

Mengenal Suhrawardi Al-Maqtul, Sang Ulama Berbasis Tasawuf dan Filsafat

Pecihitam.org.- Membahas tentang tokoh tokoh filsuf ataupun para sufi terdahulu, tentu tidak jarang dari mereka yang hidupnya Kontroversi bahkan kematiannya pun terbilang tragis. Salah satunya ialah tentang kematian Abu Manshur al Hallaj, ataupun kehidupan Abu Yazid al Busthami dengan kalimat wahdatul wujudnya. Dan kali ini kita akan mencoba menoreh pada kisah hidup serta pemikiran Suhrawardi al Maqtul yang bisa juga disebut sebagai sang guru yang terbunuh (Asy Syaikh al Maqtul)

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dialah yang bernama lengkap Syihabuddin Yahya Ibn Habbasy Ibn Amir Abu al Futuh Suhrawardi, lahir di kota kecill Suhrawardi di Persia Barat Laut pada tahun 549 H. Sedangkan jika menoreh pada masa kecil beliau, maka seperti tokoh tokoh hebat terdahulu ialah dengan mengisi masa kecil mereka dengan ketekunan dalam proses belajar.  

Selain itu beliau juga dikenal senang mengembara demi berguru dari satu guru ke guru yang lainnya. Seperti beliau belajar filsafat dan teologi pada seorang faqih dan teolog terkenal yang bernama Majduddin Al-Jaili (guru Fakhruddin Al-Razi).

Kemudian beliau ke Isfahan untuk belajar logika kepada ‘Umar Ibn Sahlan Ash Shawi (1540 H/ 1145 M). Selain itu beliau pun sempat berguru kepada  Fakhr Ad Din al Mardini (w. 594H/1198 M) yang kononnya telah meramalkan kematian dari Suhrawardi.

Tidak hanya sampai pada proses pemburuannya terhadap ilmu Filsafat dan logika, melainkan beliau pun ikut dalam mendalami ilmu makrifat dengan mengisi waktu luangnya untuk bertafakur, dan zuhud serta memperbanyak  ibadah dan ‘Uzlah bersama dengan para sufi tempat dimana beliau berguru dan belajar.

bahkan Menurut Husein Nasr, Suhrawardi memasuki putaran kehidupannya melalui jalan sufi dan cukup lama berkhalwat untuk mempelajari dan memikirkannya

Baca Juga:  Katanya Walisongo Fiktif, Ustadz Ini Bercanda??

Dari sinilah, beliau dianggap sebagai tokoh yang berbasis Filsafat  dan Tasawuf, sehingga selain berdiri sebagai seorang sufi pun juga merupakan seorang filsuf.

Karya karya Suhrawardi

Tidak lengkap rasanya jikalau seorang bijaksanawan atau tokoh berpengaruh hidup tanpa karya tulisan, maka begitu pun dengan Suhrawardi, disamping dari kecintaannya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya,

Maka dia pun tak keberatan dengan mengisi waktunya dengan menulis, bahkan beliau tercatat sebagai penulis produktif terutama pada persoalan filsafat. Bahkan beliau mampu menyintesiskan Filsafat Peripatetik sampai pada Filsafat Iluminasi.

Adapun jika kita melihat karya karyanya rupanya dibagi atas tiga bagian,

Pertama, Kitab Induk Filsafat Ilmuniasi

  1. At Talwihat (pemberitahuan)
  2. Al Muqawamat (yang tepat)
  3. Al Masyari’ wa al Mutarahat (jalan dan pengayoman)
  4. Al Hikmah al Isyraq (Filsafat pencerahan)

Kedua, Risalah ringkas Filsafat

  1. Hayakil an Nur (rumah suci cahaya)
  2. Al Alwah al Imadiyah (Lembaran Imadiyah)
  3. Bustan al Qulub (taman Qalbu)
  4. Partaw-namah (Uraian tentang Tajalli)

Ketiga, Kisah perumpamaan

  1. Ruzi ba Jama’at i Sufiyan (sehari dengan para sufi)
  2. Lugah al Muran (Bahasa Semit)
  3. Fi Haqiqah at ‘Isyq (Hakikat cinta Ilahi)
  4. Risalah ath Thair (Risalah burung)
  5. Qishshah al Gurbah al Garbiyyah (Kisah pengasingan ke Barat)

Dalam beberapa sumber dikatakan bahwa banyak naskah karangan Suhrawardi yang hilang bahkan beberapa diantaranya di musnahkan. Sedangkan karyanya yang di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan bahasa orang muslim di luar bahasa Arab dan Persia dinilai sangat sedikit. Serta kebanyakan manunskrip beliau disimpan di perpustakaan di Iran, India dan Turki.

Mengenal pemikiran Isyraqi dari Suhrawardi

Adapun akar dari pemikiran Filsafat dari Suhrawardi al Maqtul ialah kembali pada penjelmaan purba yang mengutamakan Intuisi intelektual tanpa mengesampingkan pemikiran Diskursif yakni Filsafat Israqiyah. Dan Menurut Husein Nasr, sumber-sumber pengetahuan yang membentuk pemikiran isyraqi Suhrawardi, terdiri atas lima aliran.

Baca Juga:  Kritik Imam al Ghazali Terhadap Pemikiran Para Filsuf (Part 2)

Pertama, pemikiran-pemikiran sufisme, khususnya karya-karya al-Hallaj dan al-Ghazali. Salah satu karya al-Ghazali “Misykat al-Anwâr” yang menjelaskan adanya hubungan antara nûr (cahaya) dengan iman mempunyai pengaruh langsung pada pemikiran illuminasi Suhrawardi.

Kedua, pemikiran filsafat paripatetik Islam khususnya filsafat Ibnu Sina. Meski Suhrawardi mengkritik sebagian pemikiran Ibnu Sina tetapi beliau memandangnya sebagai azas penting dalam memahami keyakinan isyraqi.

Ketiga, pemikiran filsafat sebelum Islam yakni aliran Pythagoras, Platonisme dan Hermenisme sebagaimana yang tumbuh di Alexanderia, kemudian dipelihara dan disebarkan di Timur Dekat oleh kaum Syabiah Harran, yang memandang kumpulan aliran Hermes sebagai kitab samawi mereka.

Keempat, pemikiran-pemikiran (hikmah) Iran-Kuno. Dari sini  Suhrawardi mencoba membangkitkan kembali keyakinan-keyakinan baru dan memandang para pemikir Iran-kuno sebagai pewaris langsung hikmah yang turun sebelum datangnya bencana taufan yang menimpa kaum nabi Idris (Hermes).

Kelima, bersandar pada ajaran Zoroater dalam menggunakan lambang lambang cahaya dan kegelapan, khususnya dalam ilmu malaikat yang kemudian ditambah dengan istilah-istilahnya sendiri.

Kematian Suhrawardi

Hal ini bermula mula ketika beliau melanjutkan perjalanannya ke Anatolia (Asia kecil), usai menulis kitab Al Hikmah al Isyraq, beliau melewati Aleppo dan pada akhirnya ke Damsyik (Damaskus). Disanalah beliau diterima sebaag penasehat kerohanian  di Istana bagi sang pangeran Malik az Zahir Ghazi, yakni putra Sultan Salahuddin al Ayyubi.

Dengan menjadi seorang penasehat, ternyata Suhrawardi al Maqtul dengan mudahnya dapat mengambil hati sangat pangeran, bahkan Suhrawardi memperkenalkan ajaran ajaran filsafatnya ke Pangeran. Disinilah secara perlahan memperlihatkan kedekatan Suhrawardi dengan sang Pangeran hingga membuat beberapa pihak istana waktu itu merasa tidak senang.

Baca Juga:  Prof Nasaruddin Umar, Santri Bugis yang Menjadi Tokoh Nasional

Bahkan beberapa surat yang ditulis oleh Hakim Qadhi al Fadhil yang dikirimkannya kepada sultan Salahuddin al Ayyubi menuntut Suhruwardi dieksekusi untuk mengakhiri hidup sang penasehat pangeran.

Seperti yang dikutip oleh penulis dari tulisan Abdu Hadi dalam bukunya yang berjudul Filsafat dalam Ensiklopedia Tematis Dunia Islam bahwa kematian sang Ulama yang berbasis Tasawuf dan Filsafat ini diawali dengan pemintaan para ulama kepada Malik az Zahir (Pangeran) untuk menjatuhkan hukuman mati kepada As Suhrawardi. Karena di tolak maka ulama kemudian menemui Sultan Salahuddin al Ayyubi untuk menyampaikan Dakwaan tersebut.

Berangkat dari sinilah sang Sultan mengancam sang putra bahwa akan diturunkan tahta apabila tidak menghukum sang gurunya tersebut. kononnya beliau dimasukkan ke dalam penjara pada tahun 587 H/1191 M, Sekaligus disanalah beliau menutup usia.

Ada yang mengatakan bahwa beliau tidak diberi makan hingga kelaparan dan pada akhirnya meninggal, dan adapula yang mengatakan bahwa beliau di cekik, dan sumber yang  lain  mengatakan bahwa beliau digantung.

Wallahu A’lam Bissawab.

Sumber Bacaan: Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009) dan Filsafat Isyraqi Suhrawardi oleh A Khudori Soleh (Journal)

Rosmawati