Karakteristik Metode Dakwah Sunan Bonang Tuban

Karakteristik Metode Dakwah Sunan Bonang Tuban

Pecihitam.org – Diantara sembilan wali, hanya hasil metode dakwah Sunan Bonang yang sampai sekarang diketahui karakteristik ajaran, dan keasliannya dapat dipegang. Sedangkan ajaran walisongo yang lain masih samar-samar belum tersingkap.

Metode Dakwah atau ajaran Sunan Bonang ini menggambarkan bagaimana corak ajaran Islam dari Walisongo secara umum yang tersebar di Pulau Jawa. Ajaran yang terdapat dalam primbon Sunan Bonang yaitu mengajarkan ilmu fiqih, tauhid dan tasawuf yang lengkap dan tersusun rapi menurut ajaran aqidah Ahlussunnah wa al-Jamaah dengan mazhab Syafi’i.

Primbon tersebut disamping berisikan tauhid juga melarang pembaca berbuat syirik. Primbon tersebut ditutup oleh Sunan Bonang dengan nasihat “hendaklah perjalanan lahir batinmu menurut jalan-jalan syariat, cinta, serta meneladani Rasulullah SAW.“ Dengan demikian jelas Sunan Bonang dapat digolongkan dalam golongan Ahlussunnah wa al-Jamaah.

Konon ia dan Raden Paku bermaksud naik haji ke Mekah, dan sebelumnya berguru kepada Abdulisbar atau Dulislam di Pasai (versi lain Wali Lanang, kali ini Ayah Raden Paku, di Malaka, tetapi kemuduan diminta ke Jawa oleh gurunya. Menurut Abdul Hadi WM dalam Sunang Bonang, perintis dan pendekar Sastra Suluk (1993) :

Pada tahun 1503, setelah beberapa tahun jabatan imam masjid dipegangnya, dia bersilisih paham dengan Sultan Demak dan meletakkan jabatan, lalu pindah ke Lasem. Di Lasem dia memilih Desa Bonang sebagai tempat tinggalnya. Di Bonang dia mendirikan pesantren dan pesujudan (tempat tafakur), sebelum akhirnya kembali ke kampung halamannya, Tuban.”

Baca Juga:  Islam dan Pancasila, Mengapa Tak Perlu Dipertentangkan?

Sangat terkenal kisahnya sebagai Wali yang memberikan Raden Sahid alias Brandal Lokajaya suatu pencerahan, sehingga kelak menjadi pendakwah sinkretis ulung bernama Sunan Kalijaga.

Namun dalam serat Dermagandul yang baru ditulis tahun 1879, yang bersifat negatif terhadap para wali, seperti diteliti Denys Lombard (Lombard, 1990), Sunan Bonang “digambarkan sebagai tokoh kasar dan tidak tahu malu” tentu saja ini bagian dari “politik dongeng” yang sering bisa dilacak atas sebagai legenda, mengingat tokoh Sabdopalon dan Nayagenggong dalam karya itu digambarkan menolak masuk Islam.

Lain hal nya dengan riwayat Sunan Bonang terdapat keunikan tersendiri, dikarenakan terdapat tiga lokasi pemakaman Sunan Bonang. Jika tiga lokasi tersebut ditanggapi secara serius oleh juru kuncinya, tentu akan menjadi bingung karena tidak ada bukti kebenarannya.

Kerancuan ini disebabkan antara lain karena sejak awal tidak terbedakan, mana yang makam dan mana yang petilasan: tempat para wali pernah tinggal, mengajar atau sekedar lewat saja. Apabila petilasan yang menjadi ukuran, maka jumlah lokasi yang berhubungan dengan Sunan Bonang menjadi empat.

Lokasi pertama, dan yang paling populer, adalah makam dibelakang Masjid Agung Tuban. Barang siapa berkunjung ke sana akan melihat suatu kontras, antara Masjid Agung tuban yang arsitekturnya megah dan berwarna-warni itu, dengan astana Masjid Sunan Bonang di belakangnya yang sederhana. Di dekat astana masjid terletak makam Sunan Bonang. Untuk mencapainya harus menyusuri gang sempit disamping masjid besar.

Baca Juga:  Masjid Raya Mujahidin, Masjid Megah Kebanggaan Masyarakat Kalbar

Lokasi kedua adalah petilasan disebuah bukit di pantai utara Jawa, antara Rembang dan Lasem, tempat yang dikenal sebagai bonang, dan dari sanalah memang ternisbahkan nama Sunan. Di kaki bukit konon juga terdapat makam Sunan Bonang, tanpa cungkup dan tanpa nisan, hanya ditandai oleh tanaman bunga melati.

Namun di atas bukit, terdapat batu yang dugunakan sebagai alas untuk shalat di batu itu terdapat jejak kaki Sunan Bonang, konon karena kesaktiannya membuat batu itu melesak.

Lokasi ketiga adalah makan Sunan Bonang di Tambak Kramat, Pulau Bawean. Ketika Intisari melacak pulau terpencil antara Jawa dan Kalimantan tersebut, terdapat dua makam Sunan Bonang di tepi pantai.

Salah satu makam memang tampak lebih terurus, karena dibuatkan “rumah” dan diberi kelambu sedang makam satunya masih harus bersaing pengakuan dengan spekulasi lain bahwa itu sebenarnya makam seorang pelaut dari Sulawesi yang kapalnya karam di sekitar Bawean.

Lokasi keempat adalah sebuah tempat bernama Singkal di tepi Sungai Brantas di Kediri. Konon dari tempat itu, seperti dituturkan dalam Babad Kadhiri, Sunan Bonang melancarkan dakwah tetapi gagal mengislamkan Kediri.

Ketika laskar Belanda-Jawa pada 1678 menyerang pasukan Trunajaya didaerah itu, mereka menemukan masjid yang digunakan sebagai gudang mesiu, seperti dilaporkan Antonio Hurdt. Menurut Graaf dan Pigeaud, “ adanya masjid yang cukup penting di Singkal pada abad ke -17 menyebabkan legenda yang mengisahkan tempat itu sebagai propaganda agama Islam pada permulaan abad ke-16 menjadi agak lebih dapat dipercaya”.

Baca Juga:  Tradisi Rajaban Pembacaan Kitab Arja Syafaat di Temanggung Jawa Tengah

Sunan Bonang dalam dakwahnya berusaha memasukan pengaruh Islam ke dalam kalangan bangsawan keraton Majapahit. Sunan Bonanglah yang memberikan didikan Islam kepada Raden Patah, sultan Demak pertama. Raden Patah ini adalah putra Brawijaya V (Raja Majapahit).

Pada masa hidupnya Sunan Bonang termasuk penyokong dari kerajaan Demak dan ikut pula membantu pendirian masjid di kota Bintoro Demak. Filsafat ketuhanan Sunan Bonang yaitu iman, tauhid dan makrifat terdiri dari pengetahuan yang sempurna.

Maksudnya bahwa kesempurnaan barulah akan tercapai hanya dengan terus menerus mengabdi kepada Tuhan. Seseorang tidak mempunyai gerakan sendiri, begitu pula tidak mempunyai kemauan sendiri dan segala geraknya itu datang dari Allah.

Sunan Bonang adalah pencipta gending Darma. Sunan Bonang berusaha mengganti nama-nama hari nahas menurut kepercayaan Hindu dan nama-nama dewa Hindu dan nama-nama malaikat dan nabi-nabi menurut agama Islam. Demikian adalah beberapa Metode dakwah sunan bonang yang populer kalangan muslim.

Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG