Unsur-Unsur Nasionalisme dalam Al-Quran Menurut Penafsiran Quraish Shihab

Unsur-Unsur Nasionalisme dalam Al-Quran Menurut Penafsiran Quraish Shihab

Pecihitam.org- Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Quran menyatakan bahwa unsur-unsur nasionalisme dapat ditemukan dalam Al-Quran:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pertama. Persamaaan keturunan Al-Quran menegaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia terdiri dari berbagai ras, suku dan negara agar tercipta persaudaraan dalam rangka menggapai tujuan bersama yang dicita-citakan.

Al-Quran sangat menekankan kepada pembinaan keluarga yang merupakan unsur terkecil terbentuknya masyarakat, dari masyarakat terbentuk suku, dan dari suku terbentuk bangsa.

Sebagaimana dalam Al-Quran 7:160 dan mereka kami bagi menjadi 12 suku yang masing-masing menjadi kaum (bangsa), dan ketika kaumnya (bangsanya) Nabi Musa meminta air kepadanya, kami wahyukan kepada Musa ”pukullah batu itu dengan tongkatmu” maka memancarlah darinya dua belas mata air.

Rasulullah sendiri mendapat pembelaan dari keluarga besarnya dalam perjuangannya menyebarkan agama Islam di Makkah. Sejalan dengan itu Rasulullah SAW bersabda: sebagus-bagusnya kamu adalah pembela keluarga besarnya selama pembelaannya itu bukan dosa (HR Abu Daud dari Suroqoh bin Malik).

Hanya saja tidak boleh menyebabkan fanatisme buta, dalam pengelompokan suku bangsa, sikap superioritas dan penghinaan terhadap bangsa lain. Nabi bersabda:

Baca Juga:  Masjid Raya Mujahidin, Masjid Megah Kebanggaan Masyarakat Kalbar

Tidaklah termasuk dalam golongan kita orang yang mengajak kepada ashobiyyah (fanatik buta terhadap kelompok), bukan pula yang berperang atas dasar ashobiyyah, bukan pula yang mati dengan mendukung ashobiyyah” (HR Abu Daud dari Jubair bin Muth’im).

Kedua. Persamaan bahasa Bahasa pada hakikatnya bukan hanya sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan isi pikiran dan tujuan, tapi untuk memelihara identitas dan sebagai pembeda dari komunitas lain.

Jadi bahasa dapat merupakan perekat terjadinya persatuan umat atau bangsa. Para sahabat Nabi Muhammad ketika meremehkan sahabat Salman (berasal dari Persia), Suhaib (berasal dari Romawi) dan Bilal (dari Ethiopia) maka Nabi pun bersabda:

“Dari bahasalah kebangsaan Arab yang ada pada diri kalian itu muncul, bukan karena bapak atau ibumu yang melahirkan, maka barang siapa berbicara bahasa Arab maka dia adalah bangsa Arab.”

Ketiga. Menurut pakar hukum Islam, persamaan adat istiadat selama tidak bertentangan dengan hukum Islam dapat dipertimbangkan sebagai hukum. Allah menandaskan dalam QS 3:104 hendaklah ada sekelompok diantara kamu yang mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.

Baca Juga:  Implikasi Ajaran Sunan Kalijaga Terhadap Tradisi Sekaten di Yogyakarta

Demikian pula dalam QS 7:199 jadilah engkau pemaaf, perintahkan yang ’urf (adat istiadat yang baik), dan berpalinglah dari orang jahil Pada kedua ayat tersebut kata ’urf dan alma’ruf dimaksudkan sebagai kebiasaan serta adat istiadat yang baik, dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Jadi sudah jelas bahwa sebagai salah satu pembentuk bangsa, adat istiadat tidaklah bertentangan dengan Islam.

Keempat. Persamaan sejarah Persamaan sejarah masa lalu, persamaan senasib dan sepenanggungan masa kini serta persamaan tujuan masa akan datang merupakan salah satu faktor yang mendominasi terbentuknya suatu bangsa.

Sejarah yang gemilang masa lalu selalu dibanggakan generasi berikutnya, demikian pula sebaliknya. Al-Quran pun sangat menonjol dalam menguraikan sejarah dengan tujuan untuk diambil pelajaran guna menentukan langkah berikutnya. Jadi unsur kesejarahan sejalan dengan Al-Quran.

Kelima. Unsur Nasionalisme dalam Al-Quran yang terakhir ini adalah Cinta tanah air tidaklah bertentangan dengan Al-Quran, bahkan inklusif dalam ajarannya dan praktik Rasulullah SAW. Cinta beliau kepada tanah air tampak pula ketika beliau meninggalkan kota Makkah seraya berucap:

Baca Juga:  Mitos dan Budaya dalam Tradisi Potong Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng

Demi Allah, sesungguhnya adalah bumi Allah yang paling aku cintai, seandainya orang yang bertempat tinggal di sini tidak mengusirku niscaya aku tidak meninggalkannya. Demikian pula pada saat beliau sudah tinggal di Madinah dan menjadi warga kota, beliau memohon kepada Allah: Ya Allah cintakan kota Madinah kepada kami, sebagai mana engkau mencintakan kota Makkah kepada kami” (HR Bukhari, Malik dan Akhmad).

Mochamad Ari Irawan