Kritik Imam al Ghazali Terhadap Pemikiran Para Filsuf (Part 2)

Kritik Imam Ghazali Terhadap Para Filsuf

Pecihitam.org – Dari 20 puluh hal yang disoroti dalam pembahasan filsafat, 3 di antaranya diklaim Imam Ghazali sebagai hal yang membahayakan akidah. Meski demikian, para filsuf -terutama filsuf muslim- melakukan pembelaan terhadap argumen yang telah disusunnya tersebut. Mereka enggan jika pemikirannya tersebut berpotensi pada kekufuran. Inilah lanjutan kritik Imam Ghazali terhadap para filsuf.

Pada tulisan pertama, telah penulis tuturkan bahwa Imam Ghazali menolak mentah-mentah teori para filsuf tentang kadimnya alam. Menurut Imam Ghazali, Allah adalah Tuhan yang tiada satu pun makhluk yang menyamai, baik dalam tabi’at maupun dalam kedudukan-Nya. Dalam hal ini termasuk alam, tentulah ia juga tidak dapat disandingkan dengan Allah dari segi apa pun. Dan karenanya, dia adalah baru.

Pada tulisan ini, penulis ingin menyampaikan poin kedua pemikiran filsuf yang diklaim Imam Ghazali memiliki potensi kufur. Para filsuf -Al Farabi dan Ibnu Sina yang terpengaruh oleh pemikiran Aristoteles- berkeyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala tidak mengetahui hal-hal yang bersifat partikular. Menurut mereka Tuhan hanya mengetahui hal-hal secara universal saja.

Baca Juga:  Apa Maksud Hadits: Wanita Tercipta dari Tulang Rusuk Pria?

Yang menarik dari argumen para filsuf ini adalah karena menurut mereka pengetahuan dan objek pengetahuan adalah dua hal yang saling berkaitan. Pengetahuan akan berubah jika objek pengetahuannya berubah. Nah, sekarang kita masuk pada logika filsuf. Begini, objek pengetahuan tentu selalu berubah, siapa pun tahu itu, maka pengetahuan ikut berubah.

Dalam menyederhanakan terorinya tersebut, para filsuf menggunakan contoh urutan waktu terjadinya gerhana. Saat gerhana belum terjadi maka pengetahuannya “akan”, saat terjadi maka pengetahuannya “sedang”, saat gerhana berlalu maka pengetahuannya “sudah”. Hal ini menandakan bahwa objek pengetahuan yang berubah menyebabkan pengetahuannya juga ikut berubah. Silakan cek Tahafut halaman 213.

Dari sini, mereka menarik kesimpulan. Jika objek pengetahuan yang bersifat partikulara (juz’iyah) tersebut berubah, maka Allah yang mengetahuinya juga berubah, dari yang awalnya D, lantas sesaat setelahnya E. Begitu seterusnya. Inilah yang dimaksud pengetahuan tersebut berubah. Nah berdasarkan ini, Allah mustahil mengetahui hal-hal yang bersifat juz’iyah. Demikian kesimpulan akhir para filsuf.

Baca Juga:  Apakah Ilmu Laduni Benar Ada? Adakah Cara untuk Meraihnya?

Sungguh bukan main. Cara mereka dalam membuat analogi sejatinya adalah cara terbaik yang mereka miliki untuk mendukung argumennya tersebut. Namun, lagi-lagi argumen tersebut hanya mengundang geram Imam Ghazali semata. Dengan sigap Hujjatul Islam tersebut menyanggah bangunan argumen mereka tanpa sisa.

Menurut Imam Ghazali, cara berpikir seperti itu sama sekali tidak bisa dibenarkan. Contoh mengenai urutan waktu terjadinya gerhana di atas hanyalah perubahan pada pola relasi, bukan pada esensi. Sementara perubahan pola ini jauh dari penggantiannya terhadap esensi karena berbedanya kedudukan. Jadi perubahan pada objek sama sekali tidak berpengaruh pada pengetahuan itu sendiri.

Selain itu, Allah adalah Zat yang mengetahui segala apa yang terjadi di alam raya ini. Tak ada satu partikel pun yang luput dari pengetahuan dan kehendak-Nya. Seluruh umat muslim di muka bumi mengetahui dan meyakini hal tersebut -barangkali dikecualikan para filsuf-. Demikian keterangan yang ditulis oleh Muhammad Yusuf Musa dalam Baina al-Diin wa al-Falsafah fii Ra’y Ibn Rusyd wa Falasifah al-Ashr al-Wasith.

Baca Juga:  Kitab Al-Munqidz Min al-Dhalal, Otobiografi Imam Al-Ghazali

Dalam kesimpulannya, Allah tahu akan segala makhluknya dari yang universal maupun partikular. Tidak terbatas pada salah satunya saja. Dengan ini, Imam Ghazali jelas menyanggah pendapat para filsuf tersebut.

Demikian uraian singkat mengenai kritik Imam Ghazali terhadap para filsuf poin kedua. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawab.

Azis Arifin
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG