Kisah Dzulkarnain, Raja Shaleh yang Membangun Tembok Ya’juj Ma’juj

dzulkarnain

Pecihitam.org – Mungkin dari kita ada yang pernah membaca kisah Dzulkarnain. Kisahnya yang spektakuler termaktub dalam Alquran, tepatnya dalam surah al-Kahfi, diantaranya yaitu perjalanannya berkeliling dunia mencari Ainul Hayat dan membuat tembok Ya’juj dan Ma’juj.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Siapakah Dzulkarnain?

Dzulkarnain ( ذو القرنين ) adalah julukan seorang raja yang disebutkan di dalam kitab Al-Quran. Seperti Imam Baqir pernah berkata, “Dzulkarnain bukan seorang nabi, melainkan ia adalah hamba yang saleh dan dicintai Allah SWT.”

Di dalam Al_Quran telah diuraikan cukup detail mengenai sifat-sifat utama Dzulkarnain. Ia adalah pribadi bertauhid dan bertakwa, serta menjunjung tinggi nilai-nilai belas kasih dan keadilan.

Seperti diterangkan Al-quran, ia mempunyai tiga ekspedisi besar, yakni perjalanan ke bumi belahan barat, timur, hingga akhirnya ke daerah-daerah yang terdapat barisan pegunungan. Ia senantiasa berhadapan dengan berbagai kaum pada setiap ekspedisinya.

Kisahnya selalu di sangkut pautkan dengan bangsa Ya’juj dan Ma’juj. Bangsa yang dipercaya akan turun ke bumi saat hari kiamat nanti dan melawan Nabi Isa di Bukit Thursina. Dalam kisahnya Dzukarnain telah membangun tembok besi yang tinggi untuk melindungi kaum lemah dari serangan Ya’juj dan Ma’juj.

Petualangan Dzulkarnain Hingga Ujung Dunia

Kisah perjalanan-perjalanan Dzulkarnain berikut ini sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Kahfi 83-98. Berikut adalah kisah-kisah yang ditanyakan oleh Rabi Yahudi kepada Rasulullah Muhammad Saw yang di wahyukan melalui malaikat Jibril kepadanya.

Menemukan Umat Tak Beragama

Dulkarnain melakukan perjalanan kearah barat, disana ia melihat matahari terbenam di dalam laut yang memiliki lumpur berwarna hitam. Disana pula ia melihat sekelompok umat yang beragama, kemudian Allah Swt memerintahkannya. boleh untuk menghukum atau mengajarkan agama kepada umat ini.

“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.” Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka bumi), maka dia pun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat.

Kami berkata: “Hai Dzulqarnain, kamu boleh menghukum atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka. Berkata Dzulqarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya.” Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” (Al-Kahfi 83-88)”

Menemukan Umat yang Sangat Miskin

Perjalanan berlanjut, berikutnya Dzulkarnain pergi kearah timur. Ia lalu menemukan umat lain yang sangat miskin. Begitu miskinnya mereka tidak bisa melindungi diri mereka sendiri dengan tempat untuk berteduh dari sinar matahari.

Baca Juga:  Amalan Harian Nabi Muhammad Yang Harus Kita Tiru

“Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, demikianlah dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya. (Al-Kahfi 89-91) ”

Membangun Tembok Ya’juj Ma’juj

Ini adalah kisahyang paling spektakuler, karena setelah melanjutkan perjalanan kembali, sampailah ia di daerah pegunungan. Di antara dua gunung ia menemukan suatu kaum yang tidak ia mengerti bahasanya.

Umat itu meminta tolong kepada Dzulkarnain untuk membuat pembatas untuk menghalau dua kelompok umat perusak, yaitu Ya’juj dan Ma’juj. Mereka lantas menjanjikan bayaran kepada Dzulkarnain, jika telah selesai pembuatan dinding pembatas tersebut. Akan tetapi Dzulkarnain menolak bayaran dari mereka.

Pada akhirnya Dzulkarnain memberikan syarat kepada mereka untuk membantu ia dan pasukannya dalam membangun dinding pembatas tersebut.

Menurut riwayat, Dzulkarnain akhirnya berhasil membangun dinding berupa potongan-potongan besi yang disusun sama rata dengan kedua gunung, kemudian dituangkan tembaga panas ditumpukkan besi tersebut.

Kemudian ia pun mengatakan bahwa kedua bangsa perusak itu tidak akan bisa mendaki atau melubanginya. Sampai waktu yang telah dijanjikan oleh Allah tembok itu akan berlubang dan runtuh, kemudian Ya’juj dan Ma’juj akan keluar dari celah tersebut seperti air bah.

“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.

Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”

Dzulqarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.”

Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu).” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu. Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya.”

Dzulqarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.” (Al-Kahfi 92-98)”

Namun demikian, hingga kini tidak diketahui secara persis di daerah mana keberadaan dinding tersebut. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu juga menyebutkan sebuah kisah tentang Khalifah Al-Watsiq yang konon mengirimkan sebagian utusan untuk meneliti dinding tersebut, namun ia menyebutkan riwayat ini tanpa sanad yang jelas.

Baca Juga:  Memahami Ahlul Halli Wal Aqdi dalam Tinjauan Fikih dan Wewenangnya di Era Modern

Perjalanan Mencari Air Kehidupan

Menurut sebuah riwayat dari Ats-Tsa’Labi dari Ali, Dzulkarnain pernah mencari Ainul Hayat (Air Kehidupan) dengan didampingi Nabi Khidir. Dzulkarnain adalah seorang raja yang disegani dan ditakuti orang di seluruh dunia pada zamannya. Ia juga raja yang sangat taat kepada Allah sehingga oleh Allah ia diberi pendamping seorang malaikat yang bernama Rofa’il.

Sebab ia terus bersama malaikat membuatnya selalu bertanya tentang dunia dan akhirat. Malaikat Rofa’il pun lalu mengatakan bahwa sebenarnya Allah Swt menciptakan di bumi Ainul Hayat. Siapa pun yang minum air itu, maka ia tidak akan mati sampai hari kiamat atau jika ia memohon kepada Allah SWT untuk dimatikan. Kisah lengkapnya bisa dibaca disini.

Pertemuan dengan Nabi Ibrahim

Menurut Ibnu Katsir Dzulqarnain hidup di masa Nabi Ibrahim, atau 2.000 tahun sebelum masa Aleksander Agung orang Macedonia, Yunani. Dalam Kitab Al-Bidayah an-Nihayah, Ibnu Katsir juga menuliskan bahwa Nabi Khidir adalah menterinya dan pergi haji dengan berjalan kaki.

Baca Juga:  Inilah Keutamaan Bulan Rajab yang Wajib Kamu Tahu!

Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir, juga dituliskan kisah dari Adzraqi bahwa Dzulkarnain melakukan thawaf dengan nabi Ibrahim kemudian melaksanakan kurban. Al-Adzraqi menyebutkan bahwa Raja Dzulkarnain beragama Islam atas ajakan Khalilullah Ibrahim Alaihissalam dan pernah melakukan tawaf di Ka’bah bersama nabi Ismail.

Diriwayatkan dari Ubaid bin Umair dan anaknya Abdullah dan lainnya bahwa Dzulkarnain melakukan ibadah Haji dengan jalan kaki. Ketika nabi Ibrahim mengetahui kehadirannya, ia menemuinya, mendoakannya dan meridhoinya. Kemudian Allah Swt. menundukkan untuknya awan yang bisa membawanya ke mana saja ia mau.

Pandangan Ulama Tentang Kisah Dzulkarnain

Dari semua kisah tersebut diatas menjadi refleksi betapa Dzulkarnain adalah seorang Mukmin sejati. Ia bertauhid, penyayang, dan tidak menyimpang dari jalan keadilan. Sifat-sifat tersebut membuatnya mendapat perhatian khusus dari Allah SWT.

Menurut Dr Yusuf Qardhawi, kisah Dzulkarnain melukiskan tentang contoh seorang raja shaleh yang diberi kekuasaan di bumi, meliputi belahan timur dan barat, oleh Allah SWT. Segenap manusia tunduk pada kekuasaannya. Meski demikian, Dzulkarnain tetap menjadi orang yang beriman dan takwa kepada Allah SWT.

Hal ini tergambar ketika dia membangun tembok Ya’juj dan Ma’juj. “Dzulkarnain berkata, ini (tembok) adalah suatu rahmat dari Tuhanku. Maka, apabila sudah tiba janji Tuhanku, Dia pun akan menjadikannya rata dengan bumi (hancur lebur). Dan janji Tuhanku itu adalah benar.” (QS al-Kahfi: 98)

Syekh Yusuf Qardhawi mengatakan, ada tujuan tersendiri mengapa Allah SWT meriwayatkan kisah Dzulkarnain dalam Al Quran. Salah satunya adalah sebagai contoh dan pelajaran kepada seluruh umat manusia di bumi agar mereka tidak sombong dan angkuh ketika memiliki kekuasaan yang besar di tangannya. Apalagi, dengan kekusaannya tersebut, ia menyepelekan dan mendustakan Allah SWT.

“Sesungguhnya kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS Yusuf: 111).

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik