Hikmah di Balik Turunnya Al-Qur’an Secara Berangsur-angsur

Hikmah di Balik Turunnya al-Quran secara Berangsur-angsur

Pecihitam.org – Sebagai umat Nabi Muhammad, kita mendapat banyak keistimewaan yang begitu mulai dari Allah. Keistimewaan tersebut salah satunya adalah berupa kitab suci al-Quran. Kitab pedoman yang memiliki fungsi begitu komprehensif, sehingga memberikan banyak maslahat bagi kita.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kedatangan al-Quran menjadi penyempurna risalah atau kitab suci yang diturunkan sebelumnya. Nabi Muhammad sebagai penerima risalah kitab suci ini adalah utusan terakhir, sehingga eksistensi beliau layaknya pamungkas dari tugas mulia yang berasal dari Allah. 

Turunnya al-Quran kepada Nabi Muhammad tidak lain adalah melalui perantara malaikat Jibril. Beliau adalah guru dari Nabi Muhammad, sebagai perantara akan ilmu yang berasal dari Allah. Hal ini bisa kita lihat melalui keterangan ayat di bawah ini,

نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلْأَمِينُ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلْمُنذِرِينَ بِلِسَانٍ عَرَبِىٍّ مُّبِينٍ

“Dia (al-Quran) dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. as-Syuara: 193 – 195).

Proses turunnya al-Quran, oleh ulama dibagi menjadi dua prosedur. 

  • Pertama, al-Quran turun sekali pada satu malam, yakni Lailatul al-Qadr. Al-Quran turun dari Lahul al-Mahfud ke langit dunia. 
  • Kedua, al-Quran turun secara berangsur-angsur dari langit dunia menuju Nabi Muhammad.   

Untuk yang prosedur pertama, bisa dilihat melalui keterangan ayat di bawah ini,

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. al-Baqarah: 185).

Baca Juga:  Mengenal Metodologi Penafsiran Al-Quran Ulama Mutaqaddimin

Keterangan di atas didukung oleh salah satu hadis yang dilansir dari Imam Ibn Abbas,

أُنْزِلَ القُرْأَنُ فِي لَيْلَةِ القَدْرِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا جُمْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ أُنْزِلَ نُجُوْمًا

“Nabi berkata; al-Quran diturunkan pada Lailatul al-Qadr di bulan Ramadan menuju langit sekali secara menyeluruh. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur.” (HR. Imam Thabrani).

Untuk prosedur kedua, yakni turun secara berangsur-angsur, maka hal ini bisa dibuktikan dengan salah satu firman Allah berikut,

وَقُرْءَانًا فَرَقْنَٰهُ لِتَقْرَأَهُۥ عَلَى ٱلنَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَٰهُ تَنزِيلًا

“Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. al-Isra’: 106).

Dalam prosesnya, al-Quran diturunkan selama kurang lebih 23 tahun. Masa tersebut dimulai ketika Nabi Muhammad pertama kali mendapat mandat untuk menyampaikan risalah Tuhan kepada khalayak umum masyarakat Arab. 

Pada pembahasan selanjutnya, kita akan membahas beberapa hikmah di balik proses turunnya al-Quran secara berangsur-angsur. Ulama sudah memberikan beberapa hikmah sebagaimana keterangan berikut,

  • Memantapkan hati Nabi Muhammmad di tengah gempuran kezaliman masyarakat Arab zaman itu.
  • Memberikan kemudahan kepada Nabi Muhammad di saat turunnya wahyu.
  • Bertahap dalam memunculkan hukum syariat bagi umat.
  • Memberikan kemudahan bagi umat muslim saat itu dalam menghapal dan memahami kandungan ayat suci al-Quran.

Beberapa hikmah di atas akan kita perjelas melalui beberapa penjelasan di bawah ini,

Hikmah pertama, memantapkan hati Nabi Muhammmad di tengah gempuran kezaliman masyarakat Arab zaman itu. Hal ini bisa ditilik melalui keterangan ayat sebagaimana di bawah ini,

وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ ٱلْقُرْءَانُ جُمْلَةً وَٰحِدَةً كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَٰهُ تَرْتِيلًا

Baca Juga:  Adab Membaca Al Quran yang Patut Diketahui dan Diamalkan

“Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (QS. al-Furqan: 32).

Diriwayatkan, kaum Yahudi dan kaum Musyrikin tidak mengindahkah penuturan Nabi Muhammad bahwa al-Quran turun secara berangsur-angsur. Mereka sempat memberikan usul bahwa seharusnya al-Quran diturunkan sekali saja seperti halnya kitab-kitab Samawiyah lainnya turun. Akhirnya ayat di atas turun dalam rangka menentang tawaran kaum Yahudi dan kaum Musyrikin di atas.

Cara Allah memantapkan hati Nabi Muhammmad di tengah gempuran kezaliman masyarakat Arab zaman itu bermacam-macam. Salah satunya adalah apa yang sudah dicontohkan di muka. 

Contoh lain, misalnya dengan memberikan kisah-kisah perjuangan Nabi terdahulu. Sehingga dari situ Nabi Muhammad bisa mengambil pelajaran bahwa perjuangan dakwah itu begitu berat. 

Kedua, memberikan kemudahan kepada Nabi Muhammad di saat turunnya wahyu. Mengapa demikian? 

Hal ini dikarenakan keagungan dan kemuliaan al-Quran yang begitu besar. Sehingga, dalam salah satu keterangan, jikalau al-Quran itu diturunkan di atas gunung, maka gunung itu akan tercerai-berai. Allah berfirman,

لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُۥ خَٰشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ ٱللَّهِ

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah.” (QS. al-Hasyr: 21).

Lalu, bagaimana dengan hati Nabi Muhammad yang begitu lembut? Apakah bisa menerima al-Quran dalam sekali turun saja? Dari sini tampaklah bagaimana kasih sayang dan kemudahan yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad.

Ketiga, bertahap dalam memunculkan hukum syariat bagi umat. Hal ini bisa kita lihat dalam konteks turunnya ayat yang mengharamkan minuman keras. 

Baca Juga:  Menjadikan Nilai-Nilai Agama Sebagai Salah Satu Alternative Untuk Psikoterapi

Al-Quran mengharamkan minuman keras dengan empat tahap. Hal ini dikarenakan kondisi masyarakat Arab pada saat itu yang masih menganggap minuman tersebut sebagai kebutuhan utama dalam menyambung kehidupan sehari-hari.

Sehingga jikalau al-Quran diturunkan sekali saja, jelas itu akan menyusahkan masyarakat Arab zaman itu. 

Sehingga turunnya al-Quran dengan cara berangsur-angsur bisa menjadi cara yang efektif dalam memunculkan syariat baru berupa keharaman minuman keras. 

Dari sini, tampak bahwa nilai ajaran Islam begitu indah, sangat mempertimbangkan kemaslahatan umat.

Keempat, memberikan kemudahan bagi umat muslim saat itu dalam menghapal dan memahami kandungan ayat suci al-Quran. 

Jamak diketahui bahwa masyarakat Arab zaman dahulu adalah masyarakat yang tidak pandai baca dan menulis. sehingga mereka sangat mengandalkan kekuatan ingatan dalam mempelajari suatu hal.

Jika al-Quran diturunkan sekali sekaligus, hal ini akan menyusahkan umat zaman dahulu untuk menemukan ajaran inti dari al-Quran. Sehingga turunnya secara berangsur-angsur menjadi cara yang efektif untuk tersampainya ajaran al-Quran kepada umat secara menyeluruh.

Demikianlah beberapa hikmah di balik proses turunnya al-Quran secara berangsur-angsur. Semoga memberikan manfaat!

Penulis: Moch. Vicky Shahrul Hermawan (Mahasantri Semester 5 Mahad Aly An-Nur II Al-Murtadlo Malang)

Referensi: al-Tibyan fi Ulumil al-Quran karaangan Imam Muhammad Ali Shabuni.

Redaksi