Hadits Shahih Al-Bukhari No. 41 – Kitab Iman

Pecihitam.org – Hadits Shahih Al-Bukhari No. 41 – Kitab Iman ini, menjelaskan bahwa agama (amal) yang paling disukai Allah adalah yang konsisten dilakukan terus menerus meskipun sedikit. Imam Bukhari ingin menjelaskan bahwa amal dapat disebut sebagai “Iman”, karena maksud dari kata Ad-Din (agama) dalam hadits tersebut adalah amal, sebab arti Ad-Din (agama) yang sebenarnya adalah Islam, sedangkan Islam yang hakiki adalah sama pengertiannya dengan iman. Keterangan hadist dikutip dan diterjemahkan dari Kitab Fathul Bari Jilid 1 Kitab Iman. Halaman 182-186.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ هِشَامٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ قَالَ مَنْ هَذِهِ قَالَتْ فُلَانَةُ تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا قَالَ مَهْ عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَادَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] berkata, telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Hisyam] berkata, telah mengabarkan [bapakku] kepadaku dari [Aisyah] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya dan bersamanya ada seorang wanita lain, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “siapa ini?” Aisyah menjawab: “si fulanah”, Lalu diceritakan tentang shalatnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “tinggalkanlah apa yang tidak kalian sanggupi, demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian sendiri yang menjadi bosan, dan agama yang paling dicintai-Nya adalah apa yang senantiasa dikerjakan secara rutin dan kontinyu”.

Keterangan Hadis: Dalam bab ini, Imam Bukhari ingin menjelaskan bahwa amal dapat disebut sebagai “Iman”, karena maksud dari kata Ad-Din (agama) dalam hadits tersebut adalah amal; sebab arti Ad-Din (agama) yang sebenarnya adalah Islam, sedangkan Islam yang hakiki adalah sama pengertiannya dengan iman. Dari sini, maka pemahaman Imam Bukhari tersebut dapat dibenarkan.

Adapun korelasi antara hadits ini “Tetapi kerjakanlah semampumu” dengan hadits sebelumnya adalah, bahwa dalam hadits sebelumnya telah menjelaskan keislaman seseorang yang dapat ditingkatkan dengan melakukan amal shalih, maka di sini Imam Bukhari ingin menekankan bahwa usaha untuk meningkatkan keislaman secara berlebihan tidak dianjurkan. Hal ini telah dijelaskan dalam bab “Agama itu mudah”.

فَقَالَ مَنْ هَذِهِ (Lalu Nabi bersabda, “Siapa wanita itu?”) Dalam riwayat Al-Ushaili disebutkan dengan lafazh, قَالَ مَنْ هَذِهِ tanpa huruf fa’ karena kalimat tersebut merupakan jawaban dari pertanyaan seseorang, “Apa yang dikatakannya ketika masuk?” Maka Aisyah berkata, “Nabi bersabda, “Siapa wanita itu? “

تَذْكُر (Yang terkenal), subyeknya adalah Aisyah. Ada yang meriwayatkan dengan kata يَذْكُرُونَ atau subyeknya tidak diketahui (dalam bentuk pasif), sehingga maksudnya adalah mereka mengingat bahwa shalatnya sangat banyak. Dalam riwayat Ahmad dari Yahya Al-Qaththan lafazhnya, لَا تَنَام ، تُصَلِّي (Tidak tidur, tetapi melaksanakan shalat).

Demikian pula dalam riwayat Imam Bukhari dalam bab “Shalat Malam” dengan sanad muallaq dari Al Qa’nabi dari Malik dari Hisyam. Riwayat tersebut disebutkan secara maushul dalam kitab Al Muwaththa’ dari Al Qa’nabi dengan lafazh, لَا تَنَام بِاللَّيْلِ (Tidak tidur malam).

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 290-292 – Kitab Haid

Perempuan ini, menurut riwayat Malik di atas, berasal dari bani Asad. Sedangkan dalam riwayat Muslim dari Zuhri dari Urwah, bahwa wanita tersebut adalah Al Haula’ binti Tuwait bin Habib Asad bin Abdul Izzi yang termasuk keluarga Khadijah RA.

Dalam riwayat itu, hadits tersebut diriwayatkan dengan lafazh, “Dan mereka mengatakan bahwa wanita tersebut tidak pernah tidur pada malam hari.” Riwayat ini menguatkan riwayat kedua yang mengatakan bahwa kalimat tersebut bukan berasal dari Aisyah.

Jika ada yang mengatakan, bahwa dalam hadits Hisyam pada bab ini disebutkan “ketika Nabi SAW pulang ke rumah Aisyah dan beliau melihat ada seorang wanita di dekatnya”, sedangkan dalam riwayat Az-Zuhri disebutkan “Bahwa Al Haula’ bertemu dengan Rasulullah”, maka kedua riwayat tersebut nampak saling bertentangan. Akan tetapi kedua hadits itu dapat disatukan, yaitu bahwa wanita yang bertemu dengan Rasulullah adalah selain Al Haula’ yang berasal dari bani Asad, atau dimungkinkan juga ada beberapa kisah tentang hal itu.

Pernyataan semacam itu dapat dibantah, karena kisah yang berkenaan dengan hadits di atas hanya satu, seperti yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari Hisyam “Al Haula binti Tuwait lewat di depan Rasulullah”.

Riwayat ini dikeluarkan oleh Muhammad bin Nashr dalam bab “Bangun Malam”. Dari sini dapat dijelaskan bahwa Al Haula’ pada mulanya berada di rumah Aisyah, tetapi ketika Rasulullah SAW pulang ke rumah Aisyah, Al Haula’ bangun seperti yang dijelaskan dalam riwayat Hamad bin Salmah yang akan kita sebutkan nanti. Kemudian ketika wanita tersebut bangun dan hendak pergi, ia bertemu dengan Rasulullah. Maka setelah ia pergi, Rasulullah pun menanyakan kepada Aisyah tentang wanita tersebut. Dengan demikian, riwayat-riwayat tersebut dapat disatukan.

مَهْ (Jangan begitu), maksudnya adalah cukuplah. Teguran ini ditujukan kepada Aisyah dengan maksud untuk melarangnya agar tidak memuji seseorang dengan cara seperti itu, atau untuk melarangnya agar ia tidak melakukan perbuatan seperti itu. Pendapat ini diikuti oleh sebagian ahli fikih, sehingga mereka berpendapat bahwa melakukan shalat sepanjang malam hukumnya makruh, seperti yang akan diterangkan kemudian.

عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ (Kerjakanlah semampumu), maksudnya kerjakanlah amal yang dapat kamu lakukan secara terus menerus. Secara eksplisit, kalimat tersebut mengandung perintah untuk melakukan ibadah sesuai dengan kemampuan. Sedangkan secara implisit, kalimat tersebut mengandung larangan untuk membebani seseorang dengan melakukan ibadah yang berada di luar kemampuannya.

Qadhi Iyadh berkata, “Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah khusus dalam masalah shalat malam atau bersifat umum yang menyangkut seluruh amalan syariah.” Dalam hal ini saya berpendapat, bahwa latar belakang keluarnya hadits tersebut bersifat khusus dalam masalah shalat, akan tetapi lafazhnya bersifat aam (umum), dan inilah pendapat yang kuat.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 472 – Kitab Shalat

Dalam hadits ini Rasulullah SAW menggunakan kata “Alaikum” (atas kamu sekalian), padahal lawan bicaranya adalah kaum wanita. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa hukum tersebut bersifat umum, baik bagi kaum laki-laki maupun wanita.

فَوَاَللَّهِ (Demi Allah). Kalimat ini menunjukkan bahwa bersumpah tanpa diminta adalah dibolehkan, bahkan menjadi sunah jika dilakukan dalam rangka menegaskan atau memberikan dorongan kepada seseorang untuk melakukan suatu perintah agama dan menjauhkan diri dari larangan.

لَا يَمَلّ اللَّه حَتَّى تَمَلُّوا (Dia tidak bosan untuk memberikan pahala, hingga kamu sendiri yang malas berbuat amal). Maksud dari kata malai (bosan) adalah merasa berat atau enggan untuk melakukan suatu perbuatan setelah sebelumnya menyukai perbuatan tersebut. Sifat ini – menurut kesepakatan ulama- adalah mustahil terdapat dalam dzat Allah SWT.

Al Ismaili dan para ulama berpendapat bahwa penggunaan lafazh tersebut dalam arti yang berbeda adalah sebagai bentuk majaz (kiasan), seperti halnya firman Allah SWT, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. “ (Qs. Asy-Syuuraa (42): 40)

Al Qurthubi berkata, “Ungkapan tersebut merupakan majaz karena Allah memutuskan pahala bagi orang yang bosan beribadah, maka Allah pun mengungkapkannya dengan kata malai (bosan), dan hal ini termasuk dalam kategori menamakan sesuatu dengan sebabnya.”

Al Harawi berkata, “Maksudnya adalah, Allah tidak akan menghentikan karunia-Nya kepadamu, kecuali jika kalian merasa bosan untuk memintanya atau tidak menginginkannya.”

Yang lain berkata, “Kewajiban kalian untuk mentaati-Nya tidak akan terputus sampai habis kekuatan kalian.” Hal tersebut berdasarkan bahwa kata “hatta ” dalam hadits tersebut bermakna akhir dari tujuan. Akan tetapi sebagian dari mereka berusaha untuk menakwilkannya. Mereka berkata, “Allah tidak bosan walaupun kalian bosan” dan ungkapan seperti ini telah dipakai dalam percakapan orang Arab. Mereka berkata, “Saya tidak akan mengerjakan pekerjaan ini sampai burung gagak beruban.”

Al Mazari berkata, “Ada pendapat yang mengatakan bahwa kata “hatta” disini berarti “waw”, oleh karena itu arti dari kalimat tersebut menjadi “Laa Yamullu wa Tamullun” (Dia (Allah) tidak jemu dan kalian merasa jemu). Dengan demikian, mereka menghilangkan sifat bosan dari Allah dan menisbatkannya kepada mereka. Kemudian beliau berkata, “Pendapat lain mengatakan bahwa kata “hatta” berarti hina.

Pendapat pertama lebih sesuai dengan kaidah bahasa. Pendapat ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan dari jalur Aisyah dengan lafazh, “Kerjakan amalan sesuai dengan kemampuan kalian karena sesungguhnya Allah tidak akan jemu memberikan pahala sampai kalian yang jemu melakukannya.” Akan tetapi dalam rangkaian sanadnya terdapat Musa bin Ubaidah, dan dia termasuk perawi yang lemah.

Ibnu Hibban berkata dalam shahihnya, “Ini adalah lafazh ta’aruf, yang menjadikan lawan bicara tidak dapat mengerti apa yang dibicarakan kecuali dengan kata tersebut.” Inilah pendapat beliau dalam semua kata yang ada kemiripan.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 128-129 – Kitab Ilmu

أَحَبّ (Paling disukai). Al Qadhi Abu Bakar Al Arabi berpendapat, bahwa makna kecintaan dari Allah adalah kehendak Allah untuk memberikan pahala. Dengan demikian, amal atau perbuatan yang paling banyak mendapat pahala adalah yang dilakukan secara terus menerus.

إِلَيْهِ (Kepada-Nya). Dalam riwayat Al Mustamli disebutkan dengan lafazh إِلَى اللَّه (Kepada Allah), dan juga dalam riwayat Ubdah dari Hisyam yang dikeluarkan oleh Ishaq bin Rahawaih dalam musnadnya. Demikian pula dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari jalur Abu Salmah serta riwayat Muslim dari Qasim dari Aisyah.

Riwayat ini sesuai dengan judul bab, sedangkan para perawi lainnya meriwayatkan dari Hisyam dengan lafazh وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ (Dan sesungguhnya amalan yang paling disukai olehnya). Maksudnya, yang paling disukai oleh Rasuullah SAW. Hal ini disebutkan secara jelas oleh Imam Bukhari dalam bab “Ar-Riqaq”, yaitu riwayat Malik dari Hisyam. Dalam hal ini tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut, karena -pada hakikatnyasesuatu yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling dicintai oleh Rasul-Nya.

Imam Nawawi berkata, “Amal yang sedikit tapi dilakukan secara terus menerus menunjukkan ketaatan seseorang kepada Allah SWT, yaitu dengan mengingat-Nya, melakukan koreksi diri, ikhlas dan menerima apa yang ditakdirkan Allah kepadanya, berbeda halnya dengan amalan yang banyak tapi memberatkan. Sebab amal yang sedikit tapi dilakukan secara terus menerus itu akan bertambah, sedangkan amal yang banyak tapi memberatkan akan terhenti atau terputus di tengah jalan.”

Ibnu Jauzi berkata, bahwa Allah mencintai amal yang dilakukan secara terus menerus karena dua hal: Pertama, karena orang yang meninggalkan amal yang telah dilakukannya adalah seperti orang yang berputar kembali setelah sampai ke tempat tujuan. Orang seperti ini adalah orang yang tercela. Oleh karena itu, Allah memberikan ancaman kepada orang yang hafal Al Qur’an kemudian melupakannya, padahal ancaman itu tidak ditujukan kepadanya sebelum ia menghafal Al Qur’an.

Kedua, karena melakukan kebaikan secara terus menerus adalah menunjukkan pengabdian seseorang. Maka orang yang selalu mengkaji ilmu selama beberapa jam saja tapi dilakukan setiap hari, tidaklah sama nilainya dengan orang yang melakukannya dalam satu hari penuh tapi setelah itu ia berhenti dan tidak meneruskannya. Kemudian Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari jalur Abu Salmah dari Aisyah, “Sesungguhnya amal yang paling disukai oleh Allah adalah yang terus menerus walaupun sedikit.”

M Resky S