Ini Tiga Langkah Kapolda Menghadapi Radikalisme di Sulawesi Selatan

Radikalisme di Sulawesi Selatan

Pecihitam.org – Sejak pertama kali menjabat sebagai Kapolda Sulsel tepatnya pada penghujung Januari 2019 lalu, Irjen Pol Hamidin menjadikan penanganan terorisme dan radikalisme di Sulawesi Selatan sebagai Program utamanya.

Memang sebelum ia menjabat, jenderal yang menggantikan Irjen Pol Umar Septono ini adalah seorang Perwira Tinggi Densus 88 AT Polri yang sebelumnya bertugas di BNPT.

Selama kurang lebih dua tahun bergelut di Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, Hamidin langsung diangkat kembali menjadi Kapolres Metro Tangerang, kemudian menjadi Kapolres Metro Jakarta Pusat. Dan singkat cerita, Hamidin juga pernah menjabat sebagai Irwasda Polda Sumbar pada tahun 2014.

Di tahun 2015, Hamidin kembali dipercayakan sebagai Pamen Densus 88 Anti Teror Polri atas penugasan PD BNPT dan ditahun yang sama kembali diangkat sebagai Pati Densus 88 Anti Teror Polri.

Baca Juga:  Pengakuan Kiai Maman Imanulhaq, Didatangi dan Dianiaya Oknum FPI

Saat ditanya soal progres program kerja andalannya itu, Irjen Hamidin memaparkan tiga komponen utama penekan radikalisme yang sedang berjalan di Sulawesi Selatan, sebagaimana dilansir sulselsatu.com (13/7/2019)

“Terkait dengan radikalisme, terorisme, itu programnya sudah berjalan. Saya beberapa kali selama ini sudah dua kali bekerja sama dengan BNPT, menjadikan narasumber,” kata Hamidin, Sabtu (13/7/2019).

“Dan menarik memang bahwa untuk menekan radikalisme di sulawesi selatan, ada tiga komponen yang dijalankan dalam program deradikalisasi,” imbuhnya.

Menurutnya, deradikalisasi tidak mungkin jalan sendiri, namun juga harus dibarengi rehabilitasi.

Yang pertama, kata dia, tokoh agama. Karena tidak bisa kita pungkiri bahwa gerakan gerakan radikal selalu mengusung simbol simbol agama.

Baca Juga:  Viral, Kyai di Sukabumi Dipukul Hingga tersungkur

“Tetapi tidak semua ulama itu bisa digunakan, serta merta ia bisa menjadi orang bisa masuk ke kelompok-kelompok yang kita sebut radikal. Ada ulama ulama tertentu yang bisa diterima. Ini konponen komponen pertama,” ujarnya.

“Yang kedua kita sebut komponen insider. saya berbahagia Sulsel ini banyak sekali mantan-mantan teroris yang sudah lepas dari penjara kemudian itu berdialog dengan saya. Ia menjadi bagian daripada keseharian bekerja saya, jadi dia banyak memberikan informasi,” tambah dia.

Sementara yang ketiga, Irjen Hamidin mengatakan disebut aparatus.

“Aparatus itu yang konsen dan banyak berdialog dengan para mantan teroris dan para kelompok radikal. Jadi ini bagian penting,” katanya.

Ia pun yakin ketiga komponen itu bakal memainkan peranan penting jika terus dimaksimalkan.

Baca Juga:  Kisah Santri Pesantren Gus Mus Asal Papua, Rutin Adzan dan Shalawat

“Kalau tiga pokok ini dijalankan maka insya Allah kita akan menekan radikalisme dengan lebih baik,” pungkasnya.

Redaksi
Latest posts by Redaksi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *