Surah Maryam Ayat 73-74; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Maryam Ayat 73-74

Pecihitam.org – Kandungan Surah Maryam Ayat 73-74 ini, Allah menerangkan sikap orang-orang kafir itu apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (Al-Qur’an) yang nyata kebenarannya dan tidak dapat disangkal lagi, ucapan yang keluar dari mulut mereka untuk menentang kebenaran ayat-ayat itu adalah cemoohan dan olok-olok.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Maryam Ayat 73-74

Surah Maryam Ayat 73
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَيُّ الْفَرِيقَيْنِ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا

Terjemahan: Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang (maksudnya), niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuan(nya)?”

Tafsir Jalalain: وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ (Dan apabila dibacakan kepada mereka) yaitu mereka orang-orang Mukmin dan orang-orang kafir آيَاتُنَا (ayat-ayat Kami) dari Alquran بَيِّنَاتٍ (yang terang) jelas keadaan dan maksudnya

قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَيُّ الْفَرِيقَيْنِ (niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Manakah di antara kedua golongan) kami dan kalian خَيْرٌ مَّقَامًا (yang lebih baik tempat tinggalnya) yaitu, tempat menetap dan rumahnya. Lafal Maqaaman berasal dari kata kerja Qaama, kalau dibaca Muqaaman berarti berasal dari kata kerja Aqaama.

وَأَحْسَنُ نَدِيًّا (dan lebih indah tempat pertemuannya”). Lafal Nadiyyan bermakna An-Naadi artinya tempat berkumpulnya kaum, yang mereka berbincang-bincang di dalamnya. Mereka bermaksud bahwa kamilah yang lebih baik daripada kalian. Kemudian Allah berfirman,.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah mengabarkan tentang orang-orang kafir, ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mereka menghalangi dan berpaling darinya. Mereka berkata bahwa mereka:

خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا (“Adalah kelompok yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih baik tempat pertemuan[nya].”) Yaitu yang lebih baik kedudukannya, paling tinggi tempatnya dan paling baik pertemuannya, tempat berkumpul beberapa orang untuk bercerita, tempat pertemuan mereka lebih permanen dan lebih banyak ruang dan jalannya.

Bagaimana keberadaan kita yang dengan kedudukan ini berada dalam kebathilan, sedangkan mereka (mukminin), orang-orang yang bersembunyi di rumah al-Arqam bin Abil Arqam dan rumah-rumah lain itu berada di atas kebenaran? Allah mengabarkan tentang mereka:

Baca Juga:  Surah Asy Syu'ara Ayat 111-115; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

“Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: Kalau sekiranya dia (al-Qur an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya.’” (QS. Al-Ahqaaf: 11).

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan sikap orang-orang kafir itu bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Al-Qur’an yang nyata kebenarannya dan tidak dapat disangkal lagi, ucapan yang keluar dari mulut mereka untuk menentang kebenaran ayat-ayat itu adalah cemoohan dan olok-olok.

Mereka mengatakan kepada orang mukmin siapa di antara kita yang paling senang hidupnya, paling tenang pikirannya, paling bagus rumahnya, paling tinggi kedudukannya dan paling banyak jumlahnya. Bagaimana kami yang jauh lebih tinggi dan lebih mulia dari kamu semua, akan berada dalam kebatilan dan menempuh jalan yang sesat. Hal ini adalah sesuatu yang mustahil.

Maka kami menganggap kamulah yang berada dalam kesesatan karena golongan kamu selain lemah, sengsara dan sedikit jumlahnya, kamu hanya dapat berkumpul dengan sembunyi-sembunyi membicarakan hal ihwalnya di tempat-tempat yang tersisih dan sepi seperti Darul Arqam dan sebagainya.

Tidak mungkin agama yang kamu anut itu agama yang benar dan tidak mungkin ayat-ayat Al-Qur’an itu baik dan berguna. Karena kalau demikian halnya tentu kamilah yang lebih dahulu beriman dan mempercayainya. Hanya itulah alasan dan keterangan yang dapat dikemukakan oleh orang kafir kepada orang mukmin dan keterangan mereka seperti ini terdapat pula pada ayat yang lain:

Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Sekiranya Al-Qur’an itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak pantas mendahului kami (beriman) kepadanya.” Tetapi karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata, “Ini adalah dusta yang lama.” (al-Ahqaf/46: 11).

Surah Maryam Ayat 74
وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّن قَرْنٍ هُمْ أَحْسَنُ أَثَاثًا وَرِئْيًا

Terjemahan: Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap di pandang mata.

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 184; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: وَكَمْ (“Berapa banyak) alangkah banyaknya أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّن قَرْنٍ (umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka) yaitu umat-umat di masa silam هُمْ أَحْسَنُ أَثَاثًا (sedangkan mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya) yakni harta bendanya lebih banyak dan perabotan rumah tangga mereka jauh lebih bagus

وَرِئْيًا (dan lebih sedap dipandang mata”) lebih indah dipandang mata. Lafal Ri’yan berasal dari kata Ar-Ru’yah. Maksudnya, sebagaimana Kami telah membinasakan umat-umat dahulu disebabkan kekafirannya, maka Kami pun akan membinasakan mereka pula.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman menolak kerancuan pemikiran mereka: وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّن قَرْنٍ (“Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka,”) yaitu, berapa banyak umat dan kurun para pendusta yang telah Kami binasakan dengan sebab kekufuran mereka.

هُمْ أَحْسَنُ أَثَاثًا وَرِئْيًا (“Mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata,”) yaitu dahulu mereka berada dalam keadaan yang lebih baik daripada keadaan mereka sekarang ini, baik harta, barang-barang, pemandangan dan bentuk-bentuknya.

Al-A’masy berkata dari Abu Dzabyan, dari Ibnu ‘Abbas, “Lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuannya,” kata al-Maqam adalah rumah tempat tinggal. An-Nadiy adalah majelis, atsaatsan adalah alat-alat rumah tangga, dan ar-Ri ‘ya adalah pemandangan.

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu Abbas, bahwa al-Maqam adalah rumah, an-Nadiy adalah majelis, kenikmatan dan keelokan yang mereka miliki. Hal itu sebagaimana firman Allah kepada Fir’aun ketika mereka dihancurkan. Kisah mereka diceritakan dalam al-Qur’an, Alangkah banyaknya taman dan air mata yang mereka tinggalkan, dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah.” (QS. Ad-Dukhaan: 25-26).

Al-Maqam adalah tempat tinggal dan kenikmatan, an-Nadiy adalah majelis dan tempat pertemuan mereka. Allah berfirman tentang sesuatu yang di kisahkan kepada Rasul-Nya berkenaan dengan urusan kaum Luth: “Dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” (QS. Al-‘Ankabuut: 29). Orang Arab menamakan majelis dengan an-Nadiy.

Qatadah berkata: “Tatkala mereka melihat para Sahabat Muhammad dalam kehidupan mereka yang begitu menderita dan sempit, maka orang musyrik mengemukakan apa yang mereka dengar: أَيُّ الْفَرِيقَيْنِ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا (“Manakah di antara kedua golongan itu yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuannya.”)

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 77-80; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Demikian pendapat Mujahid dan adh-Dhahhak. Ar-Ri’ya adalah pemandangan, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid dan selain keduanya. Malik berkata: أَثَاثًا وَرِئْيًا; yakni paling banyak hartanya dan paling baik bentuknya. Seluruhnya memiliki anti yang saling berdekatan dan benar.

Tafsir Kemenag: Allah menolak cemoohan orang-orang kafir itu dengan menjelaskan bahwa Dia di masa yang lalu telah banyak membinasakan beberapa kaum karena kedurhakaan mereka, seperti kaum Ad dan samud padahal mereka itu lebih kaya dan lebih mewah dari kaum kafir Mekah dan negeri mereka pun adalah negeri yang subur, dan mempunyai panorama yang indah.

Jadi kekayaan, kemewahan panduduk dan keindahan suatu negeri bukanlah acuan untuk menilai suatu kaum bahwa ia adalah di pihak yang benar dan menjadi kesayangan Allah. Yang menjadi ukuran ialah keimanan kepada Allah serta ketaatan dan kepatuhan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Kalau benar kekayaan dan kemewahan itu yang menjadi ukuran, tentulah mereka tidak dibinasakan Allah.

Sebenarnya ayat ini adalah suatu ancaman dari Allah terhadap kaum musyrik Mekah, kalau mereka tidak juga sadar dan insaf dan tetap membangkang tidak mustahil mereka akan dihancurkan pula seperti umat-umat terdahulu.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Maryam Ayat 73-74 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S