Kitab Tafsir Jalalain Karya Jalaludin Al Mahali Dan Jalaludin As Suyuti

tafsir jalalain

Pecihitam.org – Kitab Tafsir Jalalain,mungkin ini adalah satu-satunya kitab tafsir yang penyusunnya dua orang. Menariknya mereka tidak mengerjakannya secara bersamaan. Setiap pengkaji tafsir Al-Quran pasti mengenal kitab tafsir ringkas yang disusun dua orang maestro ilmu tafsir yaitu Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuti. Jalaluddin, artinya orang yang mengagungkan agama, adalah gelar yang diberikan kepada seorang ulama yang dianggap sangat ahli dalam bebarapa ranah ilmu. Dalam bidang tasawuf contohnya, nama Jalaluddin dinisbatkan kepada sufi besar Maulana Jalaluddin Rumi.

Karena disusun oleh dua Jalaluddin itulah kitab tafsir yang sudah berusia empat abad ini selalu menjadi rujukan wajib di banyak pesantren. Kitab ini dinamakan Tafsir Jalalain (Tafsir Dua Jalal).

Jika dlihat dari model penafsiran, Tafsir Jalalain cenderung menonjolkan analisis kebahasaan atau nahwu dan sharaf, dari sisi susunan kalimat dan asal-usul kata, serta analisis tajwid dan qiraah atau tata cara membaca Al-Quran. Penguasaan ilmu-ilmu ini merupakan syarat mutlak untuk bisa membaca dan memahami dan menafsirkan Al-Quran dengan benar.

Meski disebut-sebut penyusun kitab Tafsir Jalalain adalah dua orang, uniknya Al-Mahalli dan As-Suyuthi tidak mengerjakannya dalam waktu yang bersamaan. Masing-masing dari mereka yang berbeda generasi itu hanya menulis tafsir separuh Al-Quran pada masanya masing-masing. Karena saat sang mufassir pertama menulis bagian pertama Tafsir Jalalain, mufassir kedua baru saja memulai perjalanannya mencari ilmu.

Sekali tempo lika-liku arah pengembaraan membuat keduanya bertemu dalam hubungan guru dan murid. Namun setelah itu mereka berpisah lagi. Dan sekian tahun setelah sang guru wafat, sang murid kembali meneruskan pekerjaan besar gurunya yang belum usai.

Baca Juga:  Alasan Ibnu Asyur Tertarik Menulis Kitab Tafsir al-Balaghah al-Quraniyyah

Jalaluddin Al-Mahalli, penulis awal Tafsir Jalalain ialah tokoh kelahiran Kairo, Mesir, tahun 791H/1389 M, nama lengkapnya ialah Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Ahmad bin Hasyim Al-Mahalli Al-Mishri Asy-Syafi’i. Menariknya entah mengapa, ulama besar yang juga termasyhur karena kealimannya dibidang fiqih,ilmu kalam, nahwu dan manthiq dan karya-karya besarnya, itu mengawali penulisan tafsirnya dari Surah Al-Kahfi yang terletak di pertengahan juz lima belas lalu terus ke belakang hingga surah terakhir, An-Nas.

Usai menulis tafsir Surah An-Nas, Al-Mahalli lalu kembali ke halaman depan Al-Quran dan menafsirkan surah Al-Fatihah. Rencananya setelah selesai menafsirkan surah al Fatihah itu ia akan melanjutkan dengan surah Al-Baqarah, Ali Imran dan seterusnya hingga surah Al-Isra. Namun taqdir berkata lain, ketika baru selesai menulis tafsir Al-Fatihah, beliau berpulang ke haribaan Allah pada tahun 864 H/1459 M.

Melanjutkan Tafsir Awal

Merasa sayang dengan karya besar gurunya yang hampir terbengkalai, sekian tahun kemudian, pekerjaan mulia itu pun dilanjutkan oleh murid Al-Mahalli yang kala itu telah menjadi ulama besar yang sangat alim yaitu Abdurrahman bin Kamaluddin Abi Bakar bin Muhammad Sabiquddin bin Fakhrudin bin Utsman bin Nashiruddin Muhammad bin Saifudin Khidhir Al-Khudhairi As-Suyuthi Al Mishri Asy-Syafi’i, atau Jalaluddin As-Suyuthi. Secara luar biasa, Imam Suyuthi melanjutkan tafsir dari Surah Al-Baqarah sampai akhir Surah Al-Isra di juz 15. Beliau menggunakan metodologi serta pola dan gaya bahasa yang nyaris sama persis dengan tulisan awal gurunya.

Baca Juga:  Simpanan Berharga, Warisan Tuan Guru Bangil untuk Aswaja

As-Suyuthi lahir ba’da Maghrib, malam Senin bulan Rajab 849 H, enam tahun sebelum ayahnya wafat. Ia berasal dari lingkungan cendekiawan. Tak heran sejak dini ayahnya berusaha mengarahkannya menjadi ilmuwan dan orang shalih.

Jika bukan karena terdapat keterangan bahwa kitab tafsir itu ditulis oleh dua orang mufassir, orang-orang pasti akan mengira penyusun Tafsir Jalalain hanya satu orang saja. Bahkan, untuk menyamakan metodologi dengan gurunya, Imam Suyuthi juga meletakkan surah Al-Fatihah berikut tafsirnya di akhir kitab.

Imam As-Suyuthi juga menyusun kitab Lubabun Nuqul untuk melengkapi penjelasan dalam kitab-kitab tafsirnya, Isinya menjelaskan asbabun nuzul (sebab turunnya sebuah ayat) setiap surah. Pada edisi cetak modern, kutipan asbabun nuzul setiap surah Al-Quran tersebut tertera sebagai hasyiyah (catatan pinggir) kitab Tafsir Jalalain. Selain itu juga dimuat kutipan kitab Nasikh wal Mansukh, karya Imam Ibnu Hazim.

Pemuatan asbabun nuzul tersebut dimaksudkan untuk menuntun pemahaman akan makna tafsir yang benar sesuai dengan konteks sosial dan masalah ketika ayat tersebut turun. Sedangkan nasakh wal mansukh (yang membatalkan dan yang dibatalkan) merupakan salah satu sarana untuk memahami kesimpulan yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Quran.

Baca Juga:  Kitab Mukhtashar Al Muzani Karya Yahya Al Muzani Murid Imam Syafii

Meski dibilang sangat ringkas, namun kualitas kandungan dari Tafsir Jalalain membuat kitab itu terus menjadi rujukan para ulama, bahkan hingga saat ini. Keringkasan pemaparannya juga mengundang minat banyak ulama sesudahnya untuk menyusun komentar atas kitab tafsir ini. Sebut saja Majma’ Al-Bahrain Wa Mathla’ Al-Badrain karya Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Karkhi, Al-Futuhat Al-Ilahiyyah atau Hasyiyah Al-Jamal dan Hasyiyah Ash-Shawi karya Syaikh Ahmad bin Muhammad Ash-Shawi Al-Mishri Al-Maliki Al-Khalwati.

Kebesaran dua tokoh penyusun Tafsir Jalalain sangat melegenda. Di samping dikenal karena pembahasannya yang luas dalam setiap kitab, Jalaluddin Al-Mahalli dan As-Suyuthi juga telah menghasilkan karya yang jumlahnya cukup banyak. Dalam bidang tafsir dan ilmu-ilmu Al-Quran, misalnya, As-Suyuthi telah menghasilkan sedikitnya dua puluh kitab, seperti Al-Itqan fi Ulumil Quran dan Ad-Durrul Mantsur fi Tafsir Bil Ma’tsur.

Silahkan download kitab tersebut pada link dibawah ini:

Kitab Tafsir Jalalain

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *