Karakter Muslim yang Hijrah: Shaleh Personal dan Sosial

Karakter Muslim yang Hijrah: Shaleh Personal dan Sosial

Pecihitam.org – Di awal tahun baru Hijriah kali ini, jadi teringat salah satu hadis yang diajarkan semasa awal-awal nyantri. Dalam 101 Hadis Budi Luhur, M. Said mengutip salah satu hadis yang bersumber dari sahabat Abdullah bin Umar dengan redaksi sebagai berikut:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Muslim sejati adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Orang (yang benar-benar hijrah) adalah orang yang meninggalkan yang Allah cegah”.

Sekilas matan hadis di atas sederhana dan merupakan pelajaran dasar yang semua orang mafhum. Namun, jika direnungkan, hadis ini sungguh luar biasa. Hadis yang ditakhrij oleh Imam al-Bukhari dalam Kitab Al-Iman ini, merupakan rumus sukses baik secara sosial maupun personal.

Ada dua poin dalam hadis shahih tersebut. Pertama, muslim sejati. Kedua, hakikat hijrah.

Sukses secara sosial bisa diraih dengan mengamalkan poin pertama, yakni menjadi seorang muslim dengan karakter lisan dan perbuatannya membuat muslim yang lain merasa aman dan damai.

Kita akan melejit sukses dalam organisasi, karier, usaha, dan sebagainya jika bisa tampil sebagai muslim yang lisannya terjaga dari perkataan dusta yang akan merusak integritas kita dengan sahabat; dari menggunjing kekurangan sahabat yang akan menodai solidaritas dengannyaa; dari meremehkan yang akan melukai sahabat.

Baca Juga:  Fenomena Hijrah dan Proses Pencarian Identitas Diri

Apalagi, dalam era teknologi saat ini. Sekalipun lisan kita bisa terjaga, kadang tulisan berisi cemooh, sentimen terhadap orang lain justru dengan mudah terekspos di medsos. Padahal dalam qa`idah fiqhiyyah, kita diajarkan wayuqasu billafdzi alkitabah (tulisan dihukumi sama dengan ucapan).

Lebih jauh… jika dikaitkan dengan konsep dosa dan pahala, maka setiap ucapan kita akan jadi objek catatan malaikat Raqib jika positif – atau Atid jika negatif.

Lalu, bagaimana mungkin kita akan sukses dalam organisasi, karier, niaga, dan sebagainya jika bersalah atau berdosa pada sahabat kita? Sedangkan ada sabda Rasul yang dinukil Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad

مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فِي اللهِ فَيُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا إِلَّا بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا

“Tidaklah dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, kemudian keduanya dipisahkan (tidak harmonis kembali) kecuali karena dosa yang dilakukan oleh salah satu dari keduanya.”

Selanjutnya… Kita akan tetap berada dalam garis kesuksesan, jika “tangan” kita, perbuatan kita membuat orang yang ada di sekitar kita merasa aman, damai dan tentram.

Lebih dahsyat, jika kita bisa mengambil keputusan, membuat kebijakan, melakukan tindakan dengan peduli dan membantu saudara kita yang tertindas dan terabaikan haknya.

Maka, kesuksesan pun merupakan jaminan yang akan kita dapat dari Allah, sebagaimana tegas nabi-Nya dalam banyak riwayat, salah satunya dalam Shahi Muslim pada hadis nomor 2.699.

Baca Juga:  Membayangkan Hijrah Bersama Gus Baha’

وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ

“Allah senantiasa menolong hamba-Nya selagi ia membantu kebutuhan saudaranya”.

Sukses secara personal akan kita rengkuh bila mengamalkan poin kedua, yakni mengamalkan hakikat hijrah.

Hijrah yang dimaksud dalam hadis ini adalah hijrah bathin, bukan hijrah ke Habsyah atau ke Yatsrib sebagaiman tulis sejarah. Hijrah bathin adalah berhijrah atau menjauhi segala yang Allah larang.

Sebenarnya, hakikat hijrah yang disampaikan Rasul dalam hadis di atas juga mengisyaratkan, bahwa hijrah itu bukan merubah kepribadian kita secara total. Jika demikian, kita cepat bosan, menganggap berubah menjadi lebih baik itu melelahkan.

Seorang pedagang nakal yang ingin hijrah, lalu ia meninggalkan usaha dagangnya dan berfokus hanya pada ibadah shalat, baca Al-Qur`an, puasa, dzikir siang-malam. Lelah.

Seorang mahasiswa yang salah pergaulan, kemudian mau bertaubat dan menempuh jalan hijrah. Jadilah ia mahasiswa yang kaku, tidak senyum pada orang, eksklusif, anti TV, anti FB, dan sebagainya. Tersiksa sekali. Memangnya, Satria Baja Hitam. Berubah. Jreng… dari manusia menjadi rider.

Berubah itu adalah merubah yang perlu dirubah saja. Tidak merubah semuanya. Capek!.

Hijrahlah dengan meninggalkan yang dilarang saja, bukan dengan meninggalkan jati diri dan semua yang kau miliki. Naif!.

Isyarat dari hijrah dalam hadis di atas adalah sebagaimana bayan firman Allah hajaru wa jahadu fi sabilillah (berhijrah dan melakukan kebaikan dengan sungguh-sungguh).

Baca Juga:  Inilah Hikmah Diperintahkannya Shalat yang Wajib Kamu Tahu!

Jika kita sudah menjauhi semua larangan Allah dengan sungguh-sungguh – dengan mafhum mukhalafahnya – juga melakukan semua perintah-Nya secara sungguh-sungguh, maka saat itulah, Allah akan mencukupi semua kebutuhan kita, memberikan solusi dari setiap problema.

Ringkasnya, poin pertama mengajarkan kita shaleh secara sosial, sedangkan poin kedua shaleh secara personal.

Inilah luhurnya agama kita, rahmah pada semua. Di sinilah komprehensifnya nilai Islam, hablun minallah sekaligus hablun minannas.

Mari jadi muslim sejati dan tempuh sebenar-benar hijrah.

Faisol Abdurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *