KH Ahmad Siddiq, Ulama yang Berjasa Terhadap Asas Tunggal Pancasila

KH Ahmad Siddiq, Ulama yang Berjasa Terhadap Asas Tunggal Pancasila

PeciHitam.org Penghormatan kepada Ulama merupakan sendi nafas yang selalu melekat dalam mainset umat Islam di Nusantara. Pemikiran, tindakan dan cara bersikap Ulama-ulama Nusantara memang laksana bidak catur yang tidak selalu tegak lurus untuk menggapai kebenaran.

Ikhtiar pemikiran yang dilakukan Ulama Nusantara sangat penuh kehati-hatian dan pemikiran matang. Kematangan pemikiran inilah yang banyak diwariskan kepada generasi penerus dalam kerangka cinta tanah air.

Ulama yang banyak berperan dalam keberlangsungan asas Negara ‘Pancasila’ untuk diterima sebagai ‘Asas Tunggal di NKRI’ adalah KH Ahmad Siddiq. Beliau memimpin sebuah tim kecil untuk mencari sebuah kebenaran dalam ‘Pancasila’ dan bagaimana cara pandang Islam terhadapnya.

Peran beliau bukanlah sebuah peran kaleng-kaleng yang hanya sekedap isapan jempol belaka. Memimpin ormas terbesar di Nusantara menjadikan beliau sosok kunci untuk menuntaskan hubungan Islam, Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

KH Ahmad Siddiq, Profil dan Kiprah

Ahmad Siddiq merupakan salah seorang mantan Rais ‘Amm Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, ormas islam terbesar terbesar di Nusantara. Beliau putra asli kelahiran Jember Jawa Timur dari seorang ayah Kyai Siddiq dan Nyai Zaqiah.

Ayah beliau merupakan seorang Kiai Lokal yang mengasuh Pesantren Tradisional di Jember. Beliau ditinggal oleh ayahnya ketika menginjak ketika umur 8 tahun, 4 tahun setelah ditinggal oleh ibunya. Kakak beliau, Mahfudz Siddiq mengambil alih tugas mengasuh adik bunsunya tersebut. Tidak heran, pemikiran dan watak KH Ahmad Siddiq beririsan dengannya.

Tumbuh dan besar dalam tradisi pesantren tradisional/ salaf bukan berarti menjadikan KH Ahmad Siddiq menjadi orang puritan, menolak pemikiran modern.

Bahkan KH Ahmad Siddiq sangat revolusioner dalam menerapkan pemikiran. Rujuakan kitab kuning tidak membatasi KH Ahmad Siddiq dan sebagian besar anak pesantren untuk berpikir besar.

Kyai Mahfudz Siddiq mengirimkan adiknya untuk menimba ilmu di Pesantren Tebu Ireng asuhan KH Hasyim Asy’ari. Beliau menempati kamar khusus dengan para putra Kiai Pesantren yang menimba Ilmu di Tebu Ireng. Tujuan Kiai Hasyim mengumpulkannya adalah untuk intenfikasi pembelajaran dan pengawasan.

Kecerdasan KH Ahmad Siddiq dalam akademik dan retorika mendekatkan beliau dengan Putra Sulung Kiai Hasyim, KH Wahid Hasyim. Kiai Wahid pada saat itu merupakan tokoh besar di Indonesia, menjadi Ketua NU, Menteri Agama dan Ketua MIAI (badan setara MUI).

Baca Juga:  Habib Abdullah bin Alawi al Haddad, Pembaharu Tarekat Alawwiyah

KH Ahmad Siddiq dipercaya sebagai sekretaris pribadi Kiai ayahanda Gus Dur tersebut. Beliau banyak belajar Ilmu modern seperti mengetik, membuat sebuah rumusan, membuat konsep dan menajamkan pemikiran kebangsaan. Kesempatan langka seorang santri bisa lansung dididik dari tokoh sekaliber KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim.

Kemudian hari, KH Ahmad Siddiq menjelma menjadi tokoh besar, bahkan menduduki jabatan yang pernah dipangku oleh mentor beliau, Kiai Hasyim dan Kiai Wahid sebagai Rais ‘Amm PBNU.

Peran yang sangat berkesan dan terkenang sampai sekarang adalah membuat konsep ‘Tawassut’ (jalan tengah/ moderat) dalam menempatkan pemikiran Asas Tunggal Pancasila.

Konsep Tawassut atau jalan moderat merupakan salah satu ruh pemikiran dalam Ormas NU yang selalu dipegang dalam menempatkan hukum. Dengan jalan Tawassut, membantu menyelesaikan potensi konflik Negara dan Agama yang mengerucut pada masa itu. Pancasila dan Islam bukan 2 entitas yang berbeda, akan tetapi menjadi entittas yang saling menguatkan.

Islam, NKRI dan Pancasila Menurut KH Ahmad Siddiq

KH Ahmad Siddiq merupakan seorang Kiai yang sangat langka bahkan untuk era semasa dengan beliau. Kemampuan retorika, penguasaan keilmuan yang memadai dan unsur pergulatan dengan perjuangan bangsa dan Negara.

Beliau adalah salah satu konseptor Khittah Nahdlatul Ulama untuk mengembalikan Ormas ini kejalan sosial kemasyarakatan bukan sebagai partai politik. Putusan Muktamar NU tahun 1984 menjadi simbol dikembalikannya ruh perjuangan NU kedalam ranah sosial kemasyarakatan dalam membina umat melalui pendidikan keagamaan.

Muktamar Situbondo Pasuruan tahun 1984 juga menjadi tonggak dalam penegakan dan penegasan bahwa NU menerima Pancasila sebagai Asas Tunggal dalam kerangka NKRI.

Pergulatan pemikiran NU tidak terjadi dengan tiba-tiba atas dorongan oportunis, akan tetapi sebuah pergulatan pemikiran yang bersumber dari 5 pokok cara berpikir dalam NU, Tawazun (seimbang), Ta’adul (berkeadilan) tassamuh (toleransi), Tawassut (Moderat), Taawun (saling menolong).

KH Ahmad Siddiq dalam Muktamar Situbondo terpilih sebagai Rais ‘Amm PBNU, sebuah Jabatan Tertinggi di NU tahun 1984. Dalam Ceramah beliau memaparkan tentang Hubungan Islam, NKRI dan Pancasila,

“Dengan demikian, Republik Indonesia adalah bentuk upaya final seluruh nation (bangsa), teristimewa kaum muslimin, untuk mendirikan negara (kesatuan) di wilayah Nusantara. Para Ulama dalam NU meyakini bahwa penerimaan Pancasila ini dimaksudkan sebagai perjuangan bangsa untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sosial”

Pergulatan pemikiran KH Ahmad Siddiq bukan berasal dari pesanan kekuasaan untuk meredam pergolakan Umat Islam di Indonesia, akan tetapi berasal dari pengalaman dan pemikiran para cendekiawan Nusantara sekelas Abdurrahman Wahid dan Ahmad Musthofa Bisri.

Baca Juga:  Kewalian, Kalam Hikmah dan Karomah Imam Asy Syadzili

Penerimaan Keputusan Tertinggi dalam Ormas NU yakni Muktamar memutuskan untuk menerima prinsip Asas Tunggal Pancasila dalam Wilayah NKRI. Poin-poin prinsip dalam penerimaan KH Ahmad Siddiq terhadap Pancasila setidaknya sebagai berikut;

  1. Negara Kebangsaan dibenarkan dalam Islam sebagaimana Nabi Muhammad SAW tidak mendirikan Negara Islam, akan tetapi sebuah Organisasi yang berasaskan Nilai Islam dengan Shahifah Madinah (Piagam Madinah) sebagai dasar Konstitusinya.

Tidak menjadikan Indonesia sebagai Negara Agama tertentu, akan tetapi mendirikan sebuah Negara yang berasaskan Keagamaan. Mengakomodir agama-agama lain sebagai salah satu kekuatan membangun Negara.

Landasannya adalah sebuah tata nilai yang disebut ‘Pancasila’. Dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menandakan konsep Negara Berketuhanan, bukan Negara Keagamaan.

  1. Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang menyatakan Umat Islam memiliki sebuah keniscayaan untuk menempatkan dirinya dalam perjuangan bersama mempertahankan NKRI. Kiranya Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asy’ari tanggal 22 Oktober 1945 menjadi tanda kesetiaan NU kepada NKRI.
  2. Tujuan asal menerima Asas Tunggal Pancasila dalam kerangka bernegara merupakan sebuah Ijtihad Politik dan Keagamaan untuk mewujudkan sebuah keadilan sosial. Permasalahan yang dihadapi oleh Umat bukan pada Isu tentang siapa penguasanya, akan tetapi bagaimana kesejahteraan sosial bisa terdistribusi dengan baik kepada seluruh eleman bangsa dan Negara.

Penerimaan NU terhadap Asas Tunggal merupakan Inisiatif pertama yang dilakukan oleh sebuah Ormas di Nusantara, bukan atas dasar represi/ paksaan rezim yang berkuasa.

Hal tersebut berasal dari sebuah kesadaran untuk bisa membangun sebuah bangsa yang kuat pada gilirannya bisa menjadi medan dakwah yang aman. Akan sangat mustahil membangun sebuah dakwah Islam yang aman dan damai jika tidak berlandaskan Negara yang makmur.

Wawasan Keislaman dan Kebangsaan

Konsep besar yang dilahirkan dari pemikiran para Ulama dan mengerucut pada Muktamar Situbondo mendorong cendekiawan muda untuk menerjemahkan dalam tataran teknis.

KH Abdurrahman Wahid, KH Achmad Musthofa Bisri (Gus Mus), H. Mahbub Djunaidi, Fahmi Darussalam Saifudin, dan beberapa pemikir muda menuliskan bahwa Nilai Pancasila tidak terlepas dari Nilai Islam.

Baca Juga:  M Quraish Shihab Ulama Tafsir Nusantara dari Tanah Bugis

Pancasila memang tidak terdapat dalam Ajaran Islam, akan tetapi Nilai Pancasila tidak terlepas dari nafas keislaman. Teks pancasila poin pertama menunjukan bahwa,

  1. Pancasila mengakui adanya Eksistensi ketuhanan, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Ikhlas ayat 1-4
  2. Nilai pancasila kedua yakni kemanusiaan, humanity yang dalam wacana keislaman dimaknai sebagai
  3. Nilai Keadailan dalam poin ketiga pancasila mengindikasikan bahwa NKRI menghargai tentang keberadilan. Islam sendiri menghargai nilai Adil sebagi nilai Agung yang harus ditegakkan, bahkan tidak dibenarkan untuk curang kepada mereka yang beda keyakinan.
  4. Nilai keempat adalah Musyawarah untuk menentukan kemaslahatan.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩

Artinya; “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (Qs. Ali Imran: 159)

  1. Poin kelima adalah keadilaan sosial yang merata untuk semua komponen bangsa.

Maksud pemikiran KH Ahmad Siddiq adalah menempatkan Pancasila sebagai Ideologi yang berlandaskan Islam, bukan menggantikan Nilai Islam dalam Negara.

Islam sebagai nilai bisa hidup dalam bentuk Agama apapun. Ideologi Pancasila dalam pandangan KH Ahmad Siddiq merupakan representasi kompromistis dalam Negara Plural untuk mewujudkan cita-cita Ideologi Islam.

KH Ahmad Siddiq meninggal pada usia 64 tahun dan dimakamkan di Pemakan Auliya Tambak Mojo Kediri. Makam beliau berada satu Komplek dengan Sahabatnya yaitu KH Hamim Djazuli atau terkenal dengan Gus Miek.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG