Kiai Said: Kesatuan Bangsa Arab Jadi Senjata Utama Bela Palestina

Pecihitam.org – Kunjungan Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Selasa lalu diterima langsung Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj.

Kiai Said pada kesempatan tersebut, menyampaikan bahwa perjuangan untuk Palestina harus dilakukan mengingat hal tersebut merupakan amanat negara dan agama.

“Membela hak warga Palestina ini amanat negara dan agama juga. Harus kita bela dan perjuangkan,” ujar Kiai Said, dikutip dari situs NU Online.

Kiai Said menegaskan bahwa senjata utama dalam membela Palestina adalah kesatuan bangsa Arab. 

“Walaupun senjata yang paling utama adalah negara Arab bersatu dulu. Senjata paling ampuh adalah kesatuan persatuan negara Arab,” ujar Kiai Said.

Baca Juga:  PBNU Gandeng Kementerian Desa Ciptakan Masyarakat Mandiri

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini jugabmengapresiasi sikap tegas Menlu Retno yang senantiasa berjuang untuk kemerdekaan bangsa Palestina.

“Bagaimanapun Ibu Menteri kita tidak pernah bosan membela Palestina,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Menlu Retno Marsudi menyampaikan bahwa pertemuan tersebut fokus pada satu hal terkait Palestina, bahwa Indonesia konsisten terus menyuarakan perjuangan Palestina.

“Kita terus konsisten pada titik ini,” ujar Menlu.

Menurutnya, melihat perjuangan Palestina dari waktu ke waktu akan lebih sulit.

“Namun, perjuangan tersebut merupakan perjuangan keadilan yang merupakan hal prinsip,” ujar Retno.

“Saya kira masalah keadilan prinsip itu harus terus disuarakan,” sambungnya.

Retno Marsudi juga mengapresiasi PBNU yang telah bersama berjuang menyuarakan keadilan untuk Palestina.

Baca Juga:  Modus Kawin Kontrak, Praktik Prostitusi di Puncak Bogor Terbongkar

Sebab, kata Retno, perjuangan tidak bisa dilakukan sendirian karena tidak akan maksimal.

“Kita akan konsisten terus berjuang bersama, untuk Palestina. PBNU bersama kita membentengi, berjuang untuk Palestina. Perjuangan besar perlu kesatuan di antara kita,” ujar perempuan yang pernah menjadi duta besar Indonesia untuk Belanda ini.

Muhammad Fahri