Kontekstualisasi Ajaran-Ajaran Islam Walisongo dalam Masyarakat Jawa

Kontekstualisasi Ajaran-Ajaran Islam Walisongo di Dalam Masyarakat Jawa

Pecihitam.org – Penyebaran dan perkembangan Islam di Nusantara dapat dianggap sudah terjadi pada tahun-tahun awal abad ke-12 M. Berdasarkan data yang telah diteliti oleh pakar antropologi dan sejarah, dapat diketahui bahwa penyiaran Islam di Nusantara tidak bersamaan waktunya, demikian pula pengaruhnya berbeda-beda di suatu daerah. 

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hal tersebut dapat kita lihat dalam sejarah ketika para ulama menggunakan strategi pendekatan budaya ketika menyebarkan dakwah Islam. Tidak menutup kemungkinan bahwa dengan menggunakan strategi dakwah tersebut banyak masyarakat yang masuk Islam.

Berdasarkan konteks sejarah kebudayaan Islam di Jawa, kurang lebih waktu abad ke-15 sampai ke-16 ditandai dengan mulai tumbuhnya suatu kebudayaan baru yang menampilkan alkulturasi kebudayaan Hindu-Budha dengan unsur kebudayaan Islam.

Kebudayaan baru di dalam kepustakaan antara lain dikenal sebagai kebudayaan masa peralihan. Dimana pada masa peralihaan tersebut masyarakat mulai menjalankan budaya yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh masyarakat Jawa.

Berdasarkan temuan bukti-bukti arkeologis Islam di daerah pantai dan pedalaman menunjukan bahwa apa yang digambarkan sebagai kebudayaan tersebut sebagaian besar adalah hasil kebudayaan Islam yang tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya pada masa kejayaan hingga surutnya kerajaan Majapahit dan tumbuhnya Demak sebagai kesultanan Islam pertama di Jawa.

Baca Juga:  Sekilas Sejarah Masuknya Kelompok Islam Trans-Nasional ke Indonesia

Perkembangan dan hadirnya alkulturasi budaya dengan ajaran Islam menjadi sangat penting. Oleh karnanya, Mohammad Habib Mustopo mempunyai dua pendapat mengenai hal itu.

Pertama , untuk melacak proses penyiaran Islam di lingkungan masyarakat, di bandar-bandar dan dilingkungan keraton yang mayoritas beragama Hindu-Budha.

Kedua, untuk mengetahui latar belakang sejarah pertumbuhan seni bangunan dan tradisi sastra tulis Islam yang masih memperlihatkan unsur-unsur budaya pra-Islam. Hasil budaya tersebut sebagai kreatifitas yang berakar dan pengalaman kolektif sejak mengalami interaksi dengan dan luar sekitar abad ke-4 M.

Sedangkan penulis mempunyai pendapat bahwa para Wali dapat disamakan perannya dengan seorang tokoh perubahan dalam kebudayaan. Dalam kondisi semacam itu komunitas muslim Jawa yang sudah masuk Islam, secara tidak langsung mereka akan pendukung budaya Islam yang telah membentuk budaya dengan unsur-unsur budaya pra-Islam. Namun tidak meninggalkan subtansi dalam ajaran-ajaran Islam.

Unsur budaya lokal tersebut masih tetap bertahan, dan masyarakat muslim diberbagai kawasan dengan setia dan secara sadar berpegang teguh pada pola-pola perilaku sosial yang lama serta dapat diselaraskan dengan nilai-nilai Islam. Seperti penyelarasan konsep kerohanian Muslim oleh para Wali di Jawa.

Sementara itu tokoh sentral dalam penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa, para penulis sejarah sepakat menunjuk para Ulama yang kemudian dikenal dengan julukan Walisongo (Sembilan Wali).

Baca Juga:  Hubungan Perkembangan Majlis Taklim di Indonesia dengan Metode Pengajaran Islam

Menurut kebanyakan penulis atau sejarahwan, yang dimaksud dengan Walisongo adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunun Kudus, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga dan Sunan Muria.

Seorang cendikiawan dan sekaligus budayawan Kuntowijoyo berpendapat bahwa, Islam di Jawa juga berangkat dari daerah pesisir. Proses pergeseran menuju pedalaman, ditengarai oleh Kuntowijoyo sebagai pergeseran Islam kosmopolit menuju Islam agraris dan Islam yang mistik.

Kemudian Simuh menambahkan bahwa, mistisme Islam Jawa adalah sebuah wadah atau jalan menuju ditrimanya ajaran Islam di dalam masyarakat animisme dan dinamisme.

Dengan demikian, ajaran para walisogo tidak menutup kemungkinan sangat erat kaitanya dengan budaya hindu dan budha baik dalam bangunan, tradisi atau ritual-ritual tertentu.

Jika melihat budaya dan tradisi Islam yang ada di Jawa saat ini, maka tidak heran banyak sekali tradisi-tradisi leluhur yang saat ini masih dilakukan. Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan sebagai wujud syukur maka masyarakat Jawa banyak yang melakukan tradisi slametan, nyekar, genduren, dan lain-lain.

Dari pemaparan isi tulisan ini, di atas penulis sudah menjelaskan bahwa para walisongo melakukan dakwah atau menyebarkan agama Islam dengan melakukan alkulturasi budaya dengan ajaran-ajaran Islam.

Baca Juga:  Sunan Ampel, Guru Para Wali Songo dalam Dakwah Islam di Pulau Jawa

Dengan demikian, jelas kurang benar menurut saya ketika Wertheim yang mengatakan bahwa masa penyebaran Islam yang paling dominan adalah pendapat yang menyatakan bahwa Islam disebarkan melalui perdagangan.

Pendapat seperti ini diangkat oleh para sarjana Barat khususnya Belanda. Kemungkinan Wertheim mengatakan demikian ketika masuknya VOC di Nusantara baru Islam mulai berkembangan melalui proses perdangan.

Namun mengenai masuknya Islam di Jawa, saya kira kurang benar sebab Islam masuk di Nusantara sudah sejak abad ke-12. Namun dalam perkembangannya, pada abad ke-13 masuknya Syekh Subakir untuk menyebarkan Islam di bumi Nusantara.  

M. Dani Habibi, M. Ag