Lika-Liku Aliran Fundamentalis yang Hanya Memahami Hadis Nabi Secara Tekstual

Aliran Fundamentalis

Pecihitam.org – Terorisme merupakan faham pergerakan yang beraliran radikal. Biasanya terorisme ini muncul dalam bentuk aliran-aliran agama tertentu yang bersifat keras dan dilatarbelakangi oleh faktor politik. Teror berbasis agama ini lahir bersamaan dengan proyek kebangkitan agama.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pada dasarnya ada dua pola besar dalam fenomena kebangkitan ini. Pertama, kebangkitan semangat beragama yang menggunakan saluran-saluran kultural. Kebangkitan jenis ini cenderung apolitis, lebih mengedepankan edukasi dan pengkayaan pengalaman rohani.

Kedua, kebangkitan yang menggunakan saluran politik. Dalam beberapa kasus kebangkitan model ini melibatkan kekerasan dalam mengekspresikan semangat ber-agamanya. Partai Islam, gerakan yang mengkampanyekan negara Islam, anti-sekulerisme, dan yang paling akhir terorisme agama merupakan dampak dari kebangkitan agama pola kedua ini.

Dengan demikian, pada dasarnya, terorisme agama merupakan sejenis aksi politik untuk memperoleh tujuan-tujuan politis ketimbang pemuasan hasrat rohani masyarakat. Kebangkitan agama-agama yang bertemu dengan kepentingan politik yang kemudian melahirkan kekerasan dan banyak memakan korban jiwa.

Bisa  kita lihat seperti ketika gerakan ISIS, gerakan ini bisa dikatakan gerakan radikal yang banyak makan korban jiwa atas pemberontakan yang dilatarbelakangi oleh pemahaman agama yang fundamental. Peristiwa seperti ini memang sangat meresahkan masyarakat lebih-lebih ketika meneror dan berakhir pada peperangan.

Baca Juga:  Inilah 9 Tradisi dan Amaliyah NU yang Umum di Masyarakat

Munculnya aliran-aliran radikal tidak terlepas pada pemahaman sumber ajaran Islam yang kurang benar, terutama ketika memahami hadis. Mereka mempunyai pandangan bahwa kehidupan yang terbaik adalah  kehidupan pada zaman Nabi, kemudian tiga zaman setelahnya.

Pandangan hidup seperti ini biasanya di gunakan oleh kalangan salafi, Hizbut Tahrir Indonesia, dan Wahabi. Pergerakan  mereka melalui dakwah yang dimulai dari masjid ke masjid. Sehingga dalam pergerakan tersebut membentuk suatu perkumpulan yang selalu mengatas namakan muslim yang paling benar dan tak jarang mengafir-ngafirkan muslim yang lainya karena berbeda pandangan.

Di Indonesia, aliran seperti salasfi, hizbut tahrir dan wahabi muncul setelah para jama’ah haji asal Indonesia pulang setelah melaksanakan ibadah haji. Para jama’ah haji tersebut mencoba untuk melakukan upaya permurnian agama dan menentang adat-adat yang dinilai melenceng dari ajaran agama. Seperti tradisi tahililan, sholawatan dan maulidan

Proses dalam tahapan-tahapan yang mereka lakukan sangat perlahan dan selalu menyertakan Al-Qur’an dan hadis. Dua sumber hukum final dalam menjalankan syari’at Islam. Pengambilan keputusan tersebut yang kemudian tidak diimbangi dengan konteks.

Baca Juga:  Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam Terhadap Arus Globalisasi

Maka tidak mengerankan bahwa hadirnya kaum Islam fondamentalis tersebut mendapatkan penolakan di masyarakat. Tidak hanya sampai disitu, gesekan-gesakan di masyarakat mulai bermunculan, lebih-lebih ketika berbicara persoalan syari’at Islam.

Dibutuhkan pemahaman yang kontekstual ketika memahami sebuah hadis bukan sekedar tekstual. Artinya pemahaman tekstual adalah pemahaman yang secara mutlak sesuai dengan isi teks hadis tanpa melihat konteksnya.

Berbeda dengan pehaman hadis secara kontekstual, yaitu melibatkan banyak unsur seperto teks, arti, makna, sosial politik dan budaya. Sehingga pemahan tersebut dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat.

Pemahaman hadis secara tekstual inilah yang megakibatkan munculnya aliran-aliran Islam yang radikal. Pemahanan dari luar yang dipaksakan untuk bisa masuk kedalam masyarakat tanpa melihat budaya masyarakat terlebih dahulu. Hal tersebutlah yang mengakibatkan banyak konflik di masyarakat.

Oleh sebab itu, pentingnya memahami hadis tidak hanya sekedar memahi teks saja. Melainkan juga dengan beberapa aspek seperti konteksnya. Seperti yang di sampaikan oleh Suryadi Guru besar hadis Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga, “Sebuah hadis akan kelihadan tumpul mana kala jika hanya sekedar dipahami dengan cara tekstual.”

Baca Juga:  Latar Belakang Munculnya Hadis Palsu, Bagian 1

Butuh kontekstual hadis dengan melihat budaya, tradisi di masing-masing daerah. Supaya hadirnya pemahaman tentang hadis tidak mengkikis tradisi namun justru menjadikan tradisi tersebut menjadi lebih baik lagi dalam pandangan Islam.  

M. Dani Habibi, M. Ag