Inilah Pembagian Macam-Macam Khauf Menurut Para Ulama Tasawuf

Inilah Pembagian Macam-Macam Khauf Menurut Para Ulama Tasawuf

Pecihitam.org- Menurut al-Ghazali ada banyak macam-macam khauf, dan tidak semua rasa takut itu terpuji, semakin banyak rasa takut seseorang itu baik. Anggapan seperti ini ditegaskan Al-Ghazali sebagai kekeliruan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebab khauf yang sesungguhnya merupakan ”cambuk Allah” yang menggiring seorang hamba untuk lebih giat dalam beribadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Tanpa itu, maka keberadaan khauf tidak akan sempurna.

Al-Tusi menyebutkan macam-macam khauf ada tiga, yaitu:

  • Khauf Ajillah ialah khauf yang hanya dimiliki oleh golongan orang yang mulia (kelas tinggi) dan telah dibarengi oleh iman yang kuat.
  • Khauf Ausat yang berarti pertengahan, sehingga khauf ausat merupakan perasaan takut akan terputusnya hubungan dengan Allah dan tercemarnya kejernihan ma’rifat, dimana mereka takut murka dan siksa Allah.
  • Khauf Ammah dimiliki orang-orang awam dimana rasa takut mereka dicerminkan pada kegelisahan dan kegoncangan hati mereka karena mengetahui betapa Adikuasa-Nya dzat yang disembahnya.

Sedangkan menurut Al-Ghazai dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin membagi macam-macam khauf dalam tiga macam, yaitu:

  1. Khauf al- awam, yaitu takutnya orang awam terhadap hukuman dan keterlambatan pahala.
  2. Khauf al-khashah, yaitu takutnya orang khusus atas keterlambatan teguran dari Allah kepadanya.
  3. Khauf khashah al-khashah, yaitu takutnya orang yang paling khusus yang takut akan ketertutupan dengan nampaknya keburukan budi pekerti.
Baca Juga:  Wara', Suatu Maqam yang Harus Dilalui Oleh Seorang Pengamal Tasawuf

Al-Ghazali juga membagi khauf dalam tiga tingkatan, yaitu:

Pertama, Khauf yang singkat adalah perasaan takut yang biasa terjadi disebabkan oleh sesuatu sebab tertentu yang bersifat sementara. Seperti halnya jika sebab itu tidak ada maka rasa takut pun juga tidak ada.

Kedua, Khauf yang Berlebihan, adapun Khauf yang berlebihan ialah Khauf yang sangat kuat dan melampaui batas sedang, sehingga dapat menimbulkan putus asa dan hilang harapan.

Khauf yang demikian ini mencegah dari amal perbuatan. Maka yang dimaksudkan dari rasa Khauf adalah seperti juga apa yang dimaksudkan dengan cambuk yang menggiring kepada amal perbuatan.

Ketiga, Khauf Sedang. Bagi Al-Ghazali, tingkatan ini adalah khauf yang baik karena berada di tengah-tengah antara khauf singkat dan berlebihan. Orang yang memiliki khauf ini tetap beramal dan menetapnya perasaan khauf itu sendiri.

Baca Juga:  Sejarah Tarekat Naqsabandiyah dan Kedekatannya dengan Penguasa

Imam al-Ghazali juga menyampaikan tentang sebab-sebab khauf sebagai berikut:

  • Disebabkan ma’rifah kepada Allah dan sifat-sifat-Nya.
  • Takut karena banyaknya penganiayaan hamba dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan maksiat.
  • Menurut pengetahuan akan kekurangan dirinya dan ma’rifah akan keagungan Allah dan Allah tidak memerlukan kepadanya. Dan ma’rifah itu di atas ketakutannya. Maka, manusia yang paling takut kepada Tuhannya adalah mereka yang lebih mengenal akan dirinya dan Tuhannya.

Seperti yang dikatakan oleh seorang Faqih, yaitu Abu Laits bahwa tanda-tanda khauf pada seorang hamba yaitu:

  • Lisan yang tidak berbohong, tidak mengghibah, tetap melanggengkan dzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an, dan mempelajari ilmu pengetahuan.
  • Hatinya bersih dari hasad dan dengki
  • Penglihatannya tidak pernah digunakan untuk melihat hal-hal yang haram
  • Perutnya tidak dimasuki makanan-makanan yang haram
  • Tangannya tidak melakukan hal-hal yang haram dan menyakiti makhluk lain, melainkan digunakan untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT.
  • Kakinya tidak digunakan untuk kemaksiatan, melainkan digunakan dalam beribadah kepada Allah SWT.
  • Ketaatannya murni karena Allah.
Baca Juga:  Imam Ja’far Ash Shadiq: Zuhud Bukan Berarti Anti Dunia

Allah berfirman dalam Q.S. Al-Maidah ayat 44:

فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”

Mochamad Ari Irawan