Makna dibalik Ritual Kematian dalam Tradisi Kejawen

Makna dibalik Ritual Kematian dalam Tradisi Kejawen

Pecihitam.org – Tradisi ritual kematian di Indonesia sudah tidak asing lagi di mata para pemangku adat masyarakat pedalaman. Indonesia yang mempunyai banyak sekali suku, ras dan agama, ternyata menyimpan banyak sekali tradisi-tradisi yang unik dan jarang sekali ditemui di luar Indonesia. 

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kematian dalam tradisi kebudayaan khususnya yang ada di Indonesia, hampir semuanya terdapat ritual. Ritual-ritual tersebut bermacam-macam, seperti pengawetan jenazah, pembakaran jenazah, dan masih banyak lagi yang lainya.

Kejawen adalah salah satu kepercayaan suku Jawa yang segala sesuatu selalu di hubungkan dengan tradisi dan budaya. Hal tersebut dapat kita lihat ketika masyarakat Jawa yang selalu bersinggungan dengan laku (prilaku) dan agama menjadi satu kesatuan utuh yang tidak bisa dilepaskan. Seperti memahami alam ketika ingin bercocok tanam, lahiran, dan ritual kematian.

Di dalam masyarakat Jawa, ritual kematian dipandang bukan sebagai peralihan status baru bagi orang yang mati. Segala status yang disandang semasa hidup ditelanjangi digantikan dengan citra kehidupan luhur. Dalam hal ini makna kematian bagi orang Jawa mengacu kepada pengertian kembali ke asal mula keberadaan sangkan paraning dumadi.

Dalam ritual tradisi kematian Jawa, Setelah orang meninggal biasanya dilakukan upacara doa, sesaji, selamatan, pembagian waris, pelunasan hutang dan sebagainya.

Hal tersebut bertujuan untuk supaya sang arwah yang sudah meninggal diberikan ketenangan.  Dalam sudut pandang Islam sesungguhnya Allah swt adalah dzat yang menciptakan manusia yang memberikan kehidupan dengan dilahirkannya ke dunia, kemudian menjemputnya dengan kematian untuk mengahadap kembali kepada-Nya.

Baca Juga:  Sejarah Wali Songo dan Proses Islamisasi Melalui Seni dan Budaya Nusantara

Itulah garis yang telah ditentukan oleh Allah kepada makhluk-Nya, tidak ada yang dilahirkan ke dunia ini lantas hidup untuk selamanya.

Sehingga dengan penjelasan di atas, maka penulis mempunyai pandangan bahwa kematian adalah sebuah fenomena yang di alami oleh semua manusia.

Sadar atau tidak sesungguhnya setiap hari manusia sudah diberikan gambaran dan pelajaran oleh Allah swt tentang kelahiran dan kematian yang akan dialami oleh semua manusia. Simak saja aktifitas manusia dari mulai bangun tidur kemudian tidur kembali. Sehingga dalam konsep kematianpun setiap daerah mempunyai istilah sendiri-sendiri.

Dalam tradisi Jawa konsep kematian di sebut dengan istilah pejah. Konsepsi orang Jawa tentang kematian dapat dilihat dari konsepsi mereka tentang kehidupan. Bagaimana cara orang Jawa melihat kehidupan akan sangat terkait dengan bagaimana orang mempersepsikan tentang kematian.

Orang Jawa seringkali merumuskan konsep aksiologis bahwa urip iki mung mampir ngombe (hidup ini cuma sekedar mampir minum). Atau dengan konsep yang lain, urip iki mung sakdermo nglakoni (hidup ini cuma sekedar menjalani) atau nrima ing pandhum (menerima apa yang menjadi pemberianNya).

Baca Juga:  Tiga Peran Penting Nahdlatul Ulama dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia

Baik atau buruk, bahagia atau duka, kaya atau miskin adalah buah dan ketentuan takdir yang harus diterima dengan sikap legawa. Sedangkan sikap legawa adalah situasi batin yang muncul karena suatu sikap nrima ing pandhum itu sendiri, kemampuan diri untuk menerima segala bentuk kehidupan yang ada sebagaimana adanya.

Selain  istilah pejah dalam konsep kematian. Tradisi Jawa juga sering menyebut kematian dengan istilah mulih (pulang ke asal mulanya ). Orang Jawa sangat menyakralkan orang-orang yang sudah meninggal.

Tradisi nyekar, ziarah kubur, dan genduren menjadi tradisi yang dilakukan oleh orang Jawa ketika salah satu dari keluarganya ada yang meninggal dunia.

Dalam tradisi kematian Jawa filosofi “kawruhana sejatining urip ana jeruning alam donya/bebasane mampir ngombe/umpama manuk mabur/lunga saka kurungan niki/pundi pencokan benjang/awja kongsi kaleru/njan sinanjan ora wurung ba/cal mulih/umpama lunga sesanja/ mulih mula mulanira.”

(ketahuilah sejatinya hidup, hidup di alam dunia, ibarat perumpamaan mampir minum, ibarat burung terbang, pergi dan kurungannya, di mana hinggapnya besok, jangan sampai keliru, umpama orang pergi bertandang, saling bertandang, yang pasti bakal pulang, pulang ke asal mulanya).

Jika berbicara tentang hakikat kematian adalah merupakan persoalan yang sangat rumit. Karena persoalan hakekat itu adalah ranah ontologis dalam dimensi filosofi.

Namun, penulis mempunyai pandangan bahwa hakikat kematian itu sendiri, tidak hanya dalam ranah filosofi namun juga bisa masuk dalam ranah tasawuf. Karena kematian adalah merupakan fase dan sebuah perjalanan hidup manusia ketika masih di dunia. Perjalanan tersebutlah yang nantinya menentukan bahagia atau tidaknya seseorang yang sudah meninggal dunia.

Baca Juga:  Reformulasi Pendidikan Kepemimpinan Di Pondok Pesantren

Poinnya adalah setiap manusia akan mengalami kematian dan ritual kematian Jawa adalah sebagai salah sati sarana untuk berkomunikasi dalam bentuk ruhaniah. Komunikasi tersebut dilakukan oleh masyarakat Jawa dengan berbagi bentuk. Seperti yang sudah penulis paparkan di atas, tradisi ritual kematian ( ngirim dungo ) bagi masyarakat Jawa ternyata dipercaya dapat mengurangi siksaan.

Tidak hanya itu, ritual yang bersamaan dengan sedekah ternyata dipercaya juga dapat membuat bahagia bagi saudara yang sudah meninggal dunia.

M. Dani Habibi, M. Ag