Nalar Kekerasan Kaum Islam Radikal dan Utopia Kejayaan Masa Lalu

kaum islam radikal

Pecihitam.org – Seorang teroris, melakukan tindakan kekerasannya tidak datang secara tiba-tiba. Semua perilaku manusia memiliki sebab, itulah yang oleh ilmuwan psikologi dinamai sebagai motivasi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jadi ada dasar yang menggerakkan perilaku seseorang. Lantas, darimana datangnya motivasi tersebut? Yakni dari cara berfikir, kognitif.

Jika manusia selalu digerakkan oleh motivasi, dan motivaasi dibentuk oleh kognisi seseorang. Maka demikian juga yang terjadi pada pelaku teror, mereka digerakkan oleh sebuah motivasi dan cara berfikir (kognitif).

Sisi kognitif ini memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana para teroris berperilaku. Terkait dengan kasus terorisme yang belakangan ini sering terjadi di negeri kita, sebagian besar dilatari oleh penafsiran ajaran Islam yang keliru. Penafsiran ajaran Islam yang keliru tersebut kehilangan sisi kemanusian dan tidak kontekstual dengan situasi zaman.

Dalam sejarah Islam klasik ada kelompok-kelompok Islam yang mempunyai nalar kekerasan. Munculnya kelompok Islam radikal yang mempunyai nalar kekerasan ini dimulai dari peristiwa tahkim, pertempuran antara sahabat Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Pada peristiwa itu, sahabat Ali bin Abi Thalib ditipu kelompok Mu’awiyah saat peristiwa tahkim. Dari peristiwa tersebut muncul kelompok yang bernama Khawarij.

Baca Juga:  Khatib Masjidil Haram: Atheisme di Arab Saudi Meningkat, Peneliti: Ini Akibat Ajaran Wahabi

Kelompok ini mempunyai doktrin bahwa seorang muslim yang pemahaman keagamaannya berbeda dengan kelompok mereka akan dianggap sebagai kafir dan wajib diperangi.

Kemudian, seiring perkembangan zaman, doktrin-doktrin kelompok khawarij tersebut dilanjutkan oleh kelompok salafi wahabi dengan pemahaman keislaman yang kaku dan sempit.

Kelompok salafi wahabi ini pertama-tama muncul dan berkembang di Arab Saudi. Kelompok salafi wahabi tersebut lahir merupakan hasil persekutuan agama dan kekuasaan antara Muhammad bin Abdul Wahhab (1699 M) dengan raja Sa’ud.

Bahkan doktrin keislaman yang sempit ala wahabi tersebut juga memiliki sumbangsih besar bagi perkembangan kelompok-kelompok terorisme.

Awal mulanya kelompok teroris yang ada di Timur Tengah, seperti al-Qaeda, al-Nusra, hingga ISIS merupakan persekutuan antara ajaran salafisme wahabi dengan Ikhwanul Muslimin yang saat itu diusir dari Mesir oleh rezim Sosialisme Arab pimpinan presiden Gamal Abdul Naser.

Kemudian, doktrin Islam dengan nalar kekerasan tersebut mulai masuk di Indonesia ketika zaman orde baru. Saat itu eksponen Partai Masyumi yang dilarang oleh orde baru mulai berinteraksi dengan gerakan terorisme di Afganistan.

Baca Juga:  Fatwa Wahabi Tentang Haramnya Sepakbola dan Paradoks Penguasa Klub-klub Eropa

Dari alumni Afganistan tersebutlah kemudian pemahaman Islam fundamentalis yang sempit dan kaku tersebut berkembang di Indonesia hingga saat ini.

Dari sekian banyak kelompok Islam radikal baik nasional meupun global tersebut pertama-tama didahului oleh aktifitas penalaran keislaman mereka yang sempit. Penalaran keagamaan yang sempit mereka dimuali dari utopia berlebihan mereka akan orientasi masa lalu (salaf) yang penuh kejayaan.

Cara penalaran keagamaan yang berlebihan dalam mengorientasikan kejayaan masa lalu tersebutlah yang kemudian menyebabkan kebutaan mereka akan situasi zaman ini.

Mereka dalam melihat kejadian saat ini akan selau dikembalikan kepada sejarah masa lalu. Padahal, pada dasarnya setiap wilayah dan zaman memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri.

Misalnya, dahulu zaman awal perkembangan Islam, interaksi antar bangsa dan agama tidak seluwes dan secair saat ini. Dahulu, dunia dikelompok-kelompokkan oleh kerajaan dan kekuasaan agama tertentu. Misalnya kerajaan Romawi yang dihegemoni oleh agama katolik.

Dengan situasi peta dunia yang dipenuhi oleh dominasi-dominasi kerajaan dan agama tersebutlah yang kemudian membuat strategi dakwah Islam zaman awal menjadi cukup keras dalam membicarakan setiap permasalahan perbedaan agama.

Baca Juga:  Haidar Alwi: Wahabisme Harus Ditetapkan Terlarang Seperti Paham Komunis

Akan tetapi, jika situasi peta dunia saat ini di mana antar bangsa dan agama sangat cair tentunya harus mempunyai implikasi nalar keagamaan yang berbeda pula.

Kebutaan kaum Islam radikal dalam membaca perbedaan zaman dan selalu terburu-buru untuk mengembalikan segala pesoalan untuk dicarikan pembenaran dari sejarah kejayaan masa lalu tersebutah yang menjadi penyebab dari aksi kekerasan mereka terhadap setiap orang yang memiliki keyakinan yang berbeda.

Dengan demikian, cara berfikir kaum Islam radikal yang melihat perbedaan secara sempit tersebutlah sangat jauh dari visi Islam yang rahmatan lil alamin. Dimana spiritnya adalah harmoni dan perdamaian seluruh umat manusia. Wallahua’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.