Sunan Bonang, Seorang Seniman yang Mengharmoniskan Seni-Budaya Jawa dengan Islam

Sunan Bonang, Seorang Seniman yang Mengharmoniskan Seni-Budaya Jawa dengan Islam

PeciHitam.org Walisongo meninggalkan jejak dakwah berbasis budaya yang menyatu dengan Islam. Dakwah walisongo terbilang salah satu dakwah dengan pendekatan terbaik.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Banyak dari dewan dakwah Walisongo mengakomodir kesenian, kebudayaan, tradisi, tembang atau bahkan seni pertunjukan seperti wayang untuk media Dakwah.

Pendekatan dengan media ini menjadikan Jawa pada Khususnya sangat menerima dengan baik keberadaan Islam menggantikan agama lama mereka. Salah satu penghulu dakwah islam dengan media ini adalah Sunan Bonang.

Profil Sunan Bonang

Beliu adalah putra Sunan Ampel dari Surabaya. Sunan Bonang bernama Asli Raden Maulana Makdum Ibrahim dilahirkan pada tahun 1465 M.

Ibu Beliau bernama Dewi Candrawati atau disebut juga Nyai Ageng Manilla. Sejak kecil beliau belajar kepada ayahnya sendiri dengan pendidikan khas sebagaimana para wali Allah.

Setelah belajar kepada Sunan Ampel, Raden Makdum Ibrahim melanjutkan studi ke Pasai, sekarang Aceh, yang mana menjadi pusat Islam pada masa itu. Beliau berangkat ke Pasai bersama dengan murid Sunan Ampel lainnya yaitu Raden Paku atau Sunan Giri.

Beliau berdua berguru kepada Ayah Sunan Giri yaitu Syaikh Maulana Ishak yang bermukim disana.  Sekembalinya dari Pasai, Raden Makdum Ibrahim mendirikan Pesantren di Kabupaten Tuban.

Pola khusus dakwah beliau adalah dengan melakukan Internalisasi atau penyesuaian adat-adat budaya Jawa dengan Islam. Islam sebagai sebuah sistem nilai mulia menjadi nilai utama dalam tradisi jawa era itu.

Budaya jawa tidak serta merta dibabat habis untuk digantikan dengan budaya Islam, akan tetapi diisi dengan nilai-nilai  Islam agar bisa diterima dengan baik.

Beliau juga memiliki bentuk khusus dalam dakwah yakni mengubah nama-nama Dewa dalam Tradisi Jawa dengan Nama Malaikat dalam Islam. Tentu tujuannya untuk menjadikan Islam lebih mudah diterima oleh orang-orang Jawa dengan menggunakan media tranformasi budaya.

Sunan Bonang juga Guru dari Sunan Kalijaga yang terkenal sangat dekat dengan tradisi Islam Kejawen. Bahkan banyak peneliti menyebut, Sunan Kalijaga hanya meneruskan pemikiran jalan dakwah dari Sunan Bonang yang dekat dengan kebudayaan warga lokal.

Keunikan beliau bukan hanya terletak pada metode dakwah yang mengakomodir local genius atau kearifan lokal. Makam beliau juga diklaim oleh beberapa murid beliau berada di beberapa tempat, di Tuban dan Pulau Bawean serta di Rembang Jawa Tengah.

Baca Juga:  Tidak Belajar Adab, Albani Diserang Oleh Muridnya Sendiri

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M dan diketahui secara umum makam beliau yang asli berada di Tuban. Akan tetapi jejak Pusara beliau  bukan hanya ditemukan di Tuban, tetapi juga di Pulau Bawean dan Rembang Jawa Tengah.

Dakwah dan Istilah Bonang

Bonang adalah nama yang disematkan kepada Raden Makdum Ibrahim. Penyebutan ini untuk mempermudah lidah para santri dan murid beliau.

Istilah Bonang berasal dari salah satu obyek dakwah Sunan Bonang yaitu Desa Bonang Kec. Lasem Rembang. Umum terjadi, nama Wali dinamakan sesuai Nama daerah beliau berdakwah.

Nama Bonang juga dianggap berasal dari nama Marga Keluarga beliau dari Sunan Ampel. Ayah beliau adalah Sunan Ampel yang bergaris keturunan darah Cina, dengan nama Marganya Bong Swi Hoo. Kemudian disebut sebagai Bonang.

Sedangkan pendapat paling kuat yakni Istilah Bonang berasal dari Nama Alat Musik Gamelan Bonang. Yang mana beliau mempergunakan Alat musik untuk berdakwah. Hasil penggubahan alat musik Raden Makdum Ibrahim inilah yang kemudian dinamakan Bonang.

Instrumen Bonang digunakan dalam pagelaran seni wayang dalam tradisi jawa. Suara nyaring membantu beliau menggaet minat orang untuk menonton pagelaran seni yang sudah disisipi nilai-nilai Islam. Dari istilah alat musik inilah beliau mendapat gelar Sunan Bonang.

Makam Sunan Bonang

Perselisihan tempat pusara Sunan Bonang Asli terjadi sesaat setelah beliau meninggal dunia. Beliau menghembuskan nafas terakhis ketika beliau berdakwah di Pulau Bawean, sebuah pulau di Tengah laut Jawa.

Murid-murid beliau dari Jawa menginginkan sang Sunan di Kebumikan di tempat Pesantren beliau, yakni di Tuban. Akan tetapi Murid di Bawean menolaknya dan menginginkan dikebumikan ditempat beliau Wafat.

Perselisihan terjadi dan akhirnya murid beliau dari Jawa “Mencuri” Jenazah Sunan Bonang dan meninggalkan beberapa lembar kafan. Sesampainya di Tuban, Jenazah beliau dikebumikan dengan khidmat.

Keanehannya, kafan yang tertinggal di Bawean juga masih berwujud Jenazah Sunan Bonang dan dikebumikan dengan Khidmat pula. Sejak saat itu, murid-murid beliau berdamai dan masing-masing meyakini makam yang Asli di daerah masing-masing.

Kedua situs pusara Makam Sunan Bonang juga bukan hanya diklaim terletak di Tuban dan Bawean. Desa Bonang Kecamatan Lasem Rembang juga mengklaim sebagai pusara Makam Sunan Bonang. Jika ditelisik, di Desa Bonang ini tidak ditemukan makam Sunan Bonang, hanya ditemuka Pasujudan Sunan Bonang atau tempat Sujud Sunan Bonang.

Baca Juga:  Ulama Nusantara di Haramain Ini Adalah Embrio Nahdlatul Ulama

Situs di Desa Bonang ini berupa tempat sujud yang terbuat dari batu cadas sebagai tempat sujud Sunan Bonang. Dikisahkan Tempat Sujud beliau membekas sampai berlubang mengikuti lekuk sujud beliau. Sehingga pada masa sekarang batu ini dianggap Istimewa sebagai bukti keberadaan dan perjuangan Islam Sunan Bonang.

Jikalau kita hendak mengunjungi Pasujudan beliau di Desa Bonang Kecamatan Lasem Rembang harus naik anak tangga terlebih dahulu, karena tempatnya sangat tinggi sekali. Selain situs peninggalan Pasuujudan Sunan Bonang, di sini juga terdapat Makam Ibu Raden Patah, yakni Dewi Indrawati, Bekas Rumah Sunan Bonang dan Pancing bekas Sunan Bonang.

Sebagai seorang Wali besar dan berjasa, para murid dan muhibbin yang merasa berterima kasih kepada beliau dengan cara memperingati kewafatan beliau. Beliau diHauli pada setiap tahun bertepatan pada malam Jum’at Wage di bulan Muharram atau Sura.

Sunan Bonang, Sunan Seniman

Peran besar Sunan Bonang dalam bidang Seni adalah membuat transformasi kebudayaan Hindu-Budha menjadi berbasis Islam.

Beliau menjadi pengisi nilai-nilai Islam dalam pentas wayang, kesenian jawa, Gamelan. Transformasi nilai-nilai Islam penting dalam mensinkronisasi dan mengharmoniskan Islam dengan Seni-Budaya agar tidak bertentangan.

Tangan beliau menjadi Kreator gamelan jawa yang kita kenal pada era sekarang, dengan penambahan Instrumen Bonang. Sebagai seorang Wali, gubahan tembang dan Seni Jawa diwarnai dengan dzikir kepada Allah SWT sebagai sarana mengingat Tuhan. Secara tidak langsung, beliau dan muridnya berdzikir kepada Allah SWT sebagaimana inti dari dakwah islam.

Selain menggubah Instrumen Gamelan, beliau juga menciptakan tembang Tombo Ati (Lagi Obat Hati). Lagu tombo Ati yang dinyanyikan ulang oleh Penyanyi Religi Opick ternyata milik Sunan Bonang sebagai pengarang Utamanya. Lagu ini selalu mewarnai Bulan-bulan Ramadhan dan acara-acara Islam lainnya di Nusantara.

Gubahan cerita Pandhawa Lima dan Kurawa diplotkan menjadi Alur cerita perang antara Angkara-Murka dengan kebaikan. Cerita yang berlatar cerita perebutan kekuasaan Politik, oleh beliau dibawa kepada Nilai-nilai perjuangan Dakwah Islam. Dengan metode pentas wayang, dakwah beliau dilanjutkan oleh Muridnya, Sunan Kalijaga.

Baca Juga:  Kisah Dibalik NU Menerima NASAKOM, Warga NU Wajib Tahu

Tidak cukup karya Lagu tombo ati, menggubah Gamelan, memasukan nilai-nilai Islam dalam cerita Ramayana, Beliau juga banyak membuat suluk-suluk dan prosa jawa sebagai Nasihat kepada Murid-murid beliau.

Suluk-suluk beliau terkenal dengan nuansa tassawuf tinggi, diantaranya adalah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipringan dan lain-lain.

Karya suluk Sunan Bonang adalah karya Sanstra bercorak tasawuf paling awal dalam sastra Jawa. Peran Suluk Wujil dan suluk-suluk beliau yang lain sangatlah penting.

Sejak awal pengajarannya tentang tasawuf, beliau menekankan bahwa konsep fana’ atau persatuan mistik dalam tasawuf tidak mengisyaratkan kesamaan manusia dengan Tuhan.

Konsep Makhluk dan Khalik tetap diposisikan sebagai peran aslinya, yaitu yang menyembah dan Yang Disembah. Berikut cuplikan Suluk Wujil;

 

Patra 1

Dan warnanen sira ta Pun Wujil

Matur sira ing sang Adinira

Ratu Wahdat

Ratu Wahdat Panenggrane

Samungkem ameng Lebu?

Talapakan sang Mahamuni

Sang Adhekeh in Benang,

mangke atur Bendu

Sawetnya nedo jinarwan

Saprapating kahing agama kang sinelit

Teka ing rahsya purba

Cerita 1

Inilah ceritera si Wujil

Berkata pada guru yang diabdinya

Ratu Wahdat

Ratu Wahdat nama gurunya

Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung

Yang tinggal di desa Bonang

Ia minta maaf

Ingin tahu hakikat

Dan seluk beluk ajaran agama

Sampai rahasia terdalam

Patra 2

Sadasa warsa sira pun Wujil

Angastupada sang Adinira

Tan antuk warandikane

Ri kawijilanipun

Sira wujil ing Maospait

Ameng amenganira

Nateng Majalanggu

Telas sandining aksara

Pun Wujil matur marang Sang Adi Gusti

Anuhun pangatpada

Cerita 2

Sepuluh tahun lamanya Sudah

Wujil Berguru kepada Sang Wali

Namun belum mendapat ajaran utama

Ia berasal dari Majapahit

Bekerja sebagai abdi raja

Sastra Arab telah ia pelajari

Ia menyembah di depan gurunya

Kemudian berkata

Seraya menghormat

Minta maaf

Mochamad Ari Irawan