Menghindari Sifat Sombong ala Syaikh Hamdun Al-Qashshar

Syaikh Hamdun Al-Qashshar

PeciHitam.org – Seseorang tidak akan masuk surga apabila di dalam hatinya masih terdapat sifat sombong. Begitulah kiranya riwayat suatu hadis mengenai sifat sombong. Kesombongan (kibr/takabur) ini merupakan salah satu sifat yang amat menjerumuskan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sifat ini juga lah yang menjadikan iblis yang sebelumnya ahli ibadah dikeluarkan dari surga. Ia merasa dirinya lebih baik dari pada Adam. Banyak sekali redaksi hadis yang mewanti-wanti kita agar menjauhi sifat sombong ini. Nabi Muhammad SAW bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di hatinya ada sebiji dzahrrah dari kesombongan.” (HR. Muslim)

Adanya kesombongan dalam diri seorang hamba dapat menjadikannya merendahkan manusia lainnya. Bahkan tidak jarang ditemui bahwa ketika seseorang memiliki sifat sombong, ia tak mau menerima suatu kebenaran dari orang yang ia anggap lebih rendah (hina). Hal tersebut terekam jelas dalam Hadis Nabi Muhammad SAW berikut:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Baca Juga:  Karomah Kyai Kholil, Sebab KH Hasyim Asyari Ngaji 120 Tahun

 “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)

Mengenai sifat sombong ini, ada kisah menarik yang datang dari seorang sufi yang bernama Abu Shalih Hamdun bin Ahmad bin ‘Imarah al-Qashshar. Beliau merupakan seorang sufi yang bermadzhab fiqih mengikuti Imam Sufyan ats-Tsauri yang terkenal dengan perpaduan solid dan utuh antara rasionalitas serta normativitas.

Dalam dunia sufisme sendiri, beliau merupakan panutan tarekat Malamatiyyah. Tarekat ini biasanya menganjurkan penganutnya agar tidak menampakkan kesufiannya. Mereka dapat membaur seperti kebanyakan orang. Bahkan tidak jarang pula yang menutupi kesufiannya dengan berpakaian ala preman.

Syaikh Hamdun al-Qashshar merupakan tokoh yang amat terkenal di Irak, ia wafat di kota yang bernama Nisapur pada tahun 271 Hijriah dan  di makamkan di sebuah tempat yang disebut Hirat.

Bahkan beberapa ulama besar seperti Syaikh Junaid al-Baghdadi dan Syaikh Sahal at-Tustari, tidak segan-segan memberikan penilaian yang begitu kredibel tentang beliau dengan mengatakan: “Seandainya setelah Nabi Muhammad masih akan ada nabi lagi, maka Syaikh Hamdun al-Qashshar salah satunya.”

Penilaian tersebut berdasarkan kejernihan dan ketajaman penglihatan spiritual keduanya yang dapat dibilang samat kredibel. Mereka memandang bahwa kedudukan Syaikh Hamdun dalam ranah spiritual merupakan cahaya dari Allah SWT.

Baca Juga:  Badiuzzaman Said Nursi, Tokoh Pembaharu Islam Turki

Syaikh Hamdun dikenal sebagai pribadi yang mampu menekan segala tipu daya nafsunya hingga akhir hayat. Beliau juga mampu memandang tajalli hadirat-Nya yang menjelma sebagai serpihan-serpihan kebaikan yang mampu diimplementasikan dalam tiap amal kesehariannya.

Beliau merupakan tokoh sufi yang begitu menghindari sifat sombong. Segala kebaikan yang ada pada dirinya maupun orang lain, tak lain hanyalah bersumber dari Allah ta’ala. Seorang hamba takkan mampu berbuat kebaikan apapun tanpa kehendak dari-Nya.

Bahkan beliau pun tak pernah merasa bahwa dirinya lebih baik dari pada Fir’aun, tokoh yang dikisahkan memiliki kesombongan luar biasa dan ditenggelamkan oleh Allah karena kesombongannya tersebut.

Syaikh Hamdun menilai bahwa ketika di dalam hati seseorang masih merasa lebih baik dari pada Fir’aun, maka ia masih mengidap penyakita hati, yaitu kesombongan.

Begitulah kehati-hatian yang luar biasa dari Syaikh Hamdun al-Qashshar. Hal tersebut tercantum dalam kitab Hilyah al-Awliya karya Syaikh Abu Nu’aim al-Ashfihani.

Syaikh Hamdun menjelaskan tentang puncak rasa syukur seorang hamba yaitu ketika ia menyadari bahwa di dalam dirinya tidak ada satupun kebaikan yang dapat ia banggakan, karena pada hakikatnya seluruh kebaikan tersebut datangnya dari Allah. Semua hamba dimata-Nya sama.

Baca Juga:  Abdullah bin Saba', Antek Yahudi Biang Kerok Aliran Syia'h dan 3 Ajaran Sesatnya

Demikian secuil kisah dalam menghindari sifat sombong ala Syaikh Hamdun al-Qashshar. Semoga dapat diambil hikmah dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai seorang hamba memang tidaklah patut ada sifat sombong di dalam dirinya, karena pada hakikatnya ada Dzat Yang Maha Agung dan Maha Segalanya, yaitu Allah Ta’ala. Wallahu A’lam.

Mohammad Mufid Muwaffaq