Mengenal Istilah Tawajud, Wijdu dan Wujud Beserta Hubungannya

Mengenal Istilah Tawajud, Wijdu dan Wujud Beserta Hubungannya

Pecihitam.org- Tawajud, Wijdu dan Wujud, memiliki makna masing-masing, Tawajud merupakan panggilan rasa cinta yang didapat melalui cara ikhtiyar (usaha).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Orang yang mempunyainya atau mengalami tawajud tidak memperoleh wijdu (rasa cinta yang sesungguhnya), sebab apabila dia mendapatkan wijdu, berarti dia merupakan seorang al-wajid atau pecinta (pecinta Allah sejati).

Sebagian kaum sufi meyampaikan, “Tawajud bukanlah orang yang menyerahkan nilai ke-tawajud-annya yang memang mengandung unsur pemaksaan atau dibuat-buat, serta jauh dari kenyataan.

Sekelompok sufi yang lain juga menyampaikan, “Sesungguhnya tawajud merupakan rasa cinta bagi orang-orang polos, yang memang butuh dan menunggu-nunggu kehadiran arti cinta. Menunggu kehadiran cinta juga termasuk ikhtiyar dan ikhtiyar termasuk katagori pemaksaan.”

Abu Muhammad Al-Jariri, menuturkan dalam kisahnya yang terkenal: “Ketika saya bersama Imam Al-Junaid di dalam sebuah majelis dan di sebelahnya ada Ibnu Masruq yang sudah lebih dulu menemaninya, tiba-tiba Ibnu Masruq dan lainnya berdiri menyambut sebab kehadiran sesuatu, akan tetapi Imam Al-Junaid diam pada posisi semula. Saya pun heran kemudian saya bertanya,’Wahai Tuan­ku, tidakkah engkau memiliki sesuatu yang dapat dipakai untuk men­dengar?’ Imam Junaid menjawab dengan melantunkan sebuah peti­kan ayat Al-Qur’an: “Dan engkau melihat gunung-gunung yang engkau kira (diam) membeku artinya tidak bergerak, padahal gunung-gunung itu bergerak (seperti) gerakan awan.” (QS. An-Naml: 88).

Baca Juga:  Macam Kaidah Dzikir dalam Tarekat, Bagaimana Sajakah?

Kemudian dia melanjutkan, “Dan engkau, wahai Abu Muhammad, tidakkah kamu juga memiliki sesuatu yang bisa digunakan untuk mendengar?” Saya pun menjawab, “Wahai Tuanku, jika aku melihat di suatu tempat yang di dalamnya terdapat sesuatu yang bisa didengar, dan juga terdapat orang-orang yang merasa nikmat dengan tidak tahu malu, yaitu orang-orang yang mencari perhatian, maka aku mencegah wijdu atau rasa cinta untuk tidak menguasai saya. Dan apabila aku sendirian (kosong), maka aku mengirimkan rasa cintaku sehingga aku menjadi tawajud (orang yang pura-pura punya rasa cinta).” Pada waktu itu juga, saya mengucapkan istilah tawajud, dan Al-Junaid diam tidak mengomentarinya artinya, dia membenarkan secara diam.”

Baca Juga:  Mengenal Tuhan Melalui Ma'rifah Syuhudi, Bukan Konsepsi Semata (Bag I)

Sedangkan wijdu atau rasa cinta merupakan sesuatu yang menghantam hati­mu dan datang kepadamu atau bisa diartikan dengan kedatangan rasa cinta ke dalam hati dengan tanpa unsur sengaja dan pemaksaan atau dibuat-buat.

Oleh sebab itu, para guru sufi menyampaikan, “Wijdu merupakan hantaman atau sentuhan rasa yang datang dari luar. Wijdu-wijdu ini adalah buah dari wirid-wirid atau amalan bacaan ayat tertentu. Setiap orang yang jumlah pengamal­an wiridnya bertambah, maka akan bertambah pula rahasia-rahasia wirid yang diperolehnya dari Allah.”

Abu Ali Ad-Daqaq meyampaikan bahwa, “Adanya waridat atau sesuatu yang datang berbentuk rasa atau prestasi batin itu berkaitan dengan wirid-wirid yang diamalkan. Barangsiapa secara zhahir tidak tidak melaksanakan wirid, maka secara batin tidak ada warid yang datang.”

Adapun wujud keberadaannya ada setelah kenaikan dari wijdu, maksudnya, tidak ada wujud Al-Haqq kecuali sesudah padamnya sifat kemanusiaan, sebab ketika kekuasaan yang sesungguhnya yakni kekuasaan Allah muncul, maka tidak ada sifat kemanusiaan yang tetap.

Baca Juga:  Perjalanan Pemikiran Tasawuf Ibn Athaillah

Inilah maksud dari ucapan Abu Husin An- Nuri: “Aku semenjak dua pu­Iuh tahun yang lalu antara wijdu dan faqdu (sirna), maksudnya, jika aku mendapati Tuhanku, maka aku tidak mendapati hatiku (sirna atau faqdu). Jika aku mendapati hatiku, maka aku tidak mendapati Tuhanku.

Istilah tersebut paralel dengan pendapat Imam Al-Junaid: “Ilmu tauhid berbeda-beda menurut keberadaan wujud (seseorang). Wujud-nya juga berbeda-beda menurut ilmunya.”

Mochamad Ari Irawan