Abu Musa Al Asy’ari, Sahabat yang Indah dan Merdu Suaranya Ketika Membaca Al-Qur’an

Abu Musa Al Asy'ari, Sahabat yang Indah dan Merdu Suaranya Ketika Membaca Al-Qur'an

Pecihitam.org – Abu Musa Al Asy’ari dikenal sebagai sahabat yang sangat fasih dan indah melantunkan bacaan Al-Qur’an. Dengan suaranya yang sangat merdu dan indah, ia menerima pujian dari Nabi dan para sahabat radiyallahu anhum

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pada suatu malam ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi berdiri dengan tenang di dekat pintu, istri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, Siti Aisyah Radiallahu anha bertanya kepada beliau, “Ya Rasulullah, apa gerangan yang sedang engkau lakukan.?”

Baginda Nabi berkata, “Datang kemari dan dengarkan!” Ketika istrinya mendekat pada Rasulullah, dia mendengar bacaan Al-Qur’an yang demikian indah dari Abu Musa Al Asy’ari.

Ia dan orang-orang Asy’ary pada umumnya memang dikenal memiliki suara merdu, telebih saat membaca Al-Qur’an. Hingga Nabi bersabda dalam salah satu hadisnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari

إني لأعرف أصوات رفقة الأشعريين بالقرآن حين يدخلون بالليل، وأعرف منازلهم من أصواتهم بالقرآن بالليل، وإن كنت لم أر منازلهم حين نزلوا بالنهار

Sungguh aku mendengar suara kelembutan orang-orang Asy’ari dengan bacaan Al-Qur’annya ketika mereka memasuki malam hari, dan aku mengetahui rumah-rumah mereka karena kemerduan suara mereka dengan Al-Qur’an di malam hari sekali pun aku tidak pernah melihat rumah-rumah mereka ketika siang. (HR. Bukhari)

Baca Juga:  KH Munawwir dan Sanad Keilmuan Al-Quran di Nusantara

Dikatakan dari para sahabat, bahwa Abu Musa memiliki jiwa Al-Qur’an. Ia sangat senang membaca Al-Qur’an bahkan setelah perjalanan yang sulit dan melelahkan pun beliau tetap konsisten membaca Al-Qur’an di malam hari.

Setelah kebanyakan sahabat lainnya beristirahat dan kelelahan, mereka merasa segar kembali ketika mendengar lantunan Al-Qur’an yang indah dibaca oleh Abu Musa Al-As’yari.

Sifat istiqomah luar biasa Abu Musa tidak bisa ditiru oleh para sahabat. Ia selalu tepat waktu, tanpa ada satu halpun yang ia tiggalkan dalam masalah ibadah.

Semisal pernah dalam suatu perjalanan, waktu itu kebanyakan dari sahabat hanya membicarakan sesuatu yang kurang bermanfaat, waktu hanya terbuang sia-sia, tidak dimanfaatkan dengan baik.

Sehingga Abu Musa mengingatkan kepada para sahabat radhiyallahu anhum, “Mengapa kita tidak membicarakan tentang agama dan iman? Mengapa kita tidak membicarakan tentang surga dan neraka saja agar lebih kuat keimanan kita?”

Baca Juga:  Mengenal Imam Asy-Syaukani, Ulama Sunni dengan Produktifitas Tinggi

Saat itu, para sahabat merasa malu atas waktu yang terbuang sia-sia itu, dan perjalananpun dilanjutkan sembari mereka berbincang-bincang masalah yang berbau religius guna memperkuat pemahan dalam keagaman.

Singkat cerita, Setibanya Abu Musa Al Asy’ari di Yaman, Nabi Mummad Sallallahu Alaihi Wasallam berkata kepada Abu Musa, “Teruskanlah mengajarkan Al-Qur’an pada orang-orang.”

Dengan rasa gembira, amanah itu diterimanya, meskipun tangung jawabnya berat karena perintah itu tidak pernah dilakukan oleh para petinggi-petinggi terdahulu.

Pada saat itu, Abu Musa Al Asy’ari, tidak pernah meninggalkan perintah yang telah diamanahkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Karena Abu Musa sadar yang mengajarkan membaca Al-Qur’an dengan baik adalah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Saat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam wafat, beliau pergi ke Masjid untuk sholat dhuhur. Iapun kembali di waktu Ashar. Setelah sholat Ashar selesai, Abu Musa Al Asy’ari akan berbalik arah dan berkata kepada jamaah, “Saudara-saudara sekalian, mohon duduk sebentar bersamaku dan akan aku ajarkan kalian membaca Al-Qur’an sebagaimana aku telah belajar dari Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Baca Juga:  Imam Sibawaih, Ulama Persia Pakar Gramatika yang Masuk Surga Berkah Ilmu Nahwu

Pada waktu Azdan dikumandangkan, iapun kembali kemasjid untuk melakukan sholat Maghrib berjamaah.
Setelah sholat Maghrib, beliau akan mengulang kembali pertanyaan yang sama. Beliau akan terus mengajar selama ada orang yang ingin belajar. Hidup beliau dipadati dengan membaca Al-Qur’an dan mengajarkannya.

Abu Musa Al Asy’ari mengabdikan hidupnya untuk mentaati perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, hingga ia wafatnya. Semoga Allah SWT menganugerahi kita kemuliaan dan menjadikan hidup kita senantiasa selalu membaca Al-Qur’an serta memahami isi kandungan ayatnya untuk diamalkan. Amin ya Rabbal alamin!

Faisol Abdurrahman