Keabadian Para Alim Ulama di Dunia yang Fana

Keabadian Para Alim Ulama di Dunia yang Fana

PeciHitam.org Peran Jasa syuhada dan orang—orang penyebar Islam masa lalu sampai sekarang masih bisa menjadi wasilah banyak kebaikan. Sebagai contoh sederhana adalah situs makam Walisongo yang pada masa Normal ratusan bahkan ribuan Muslim memanjatkan doa dipusaranya.

Paralel dengan banyaknya peziarah yang mengunjungi, maka kegiatan ekonomi juga berputar disekeliling makam orang-orang shaleh tersebut. Anggapan bahwa ziarah Makam Wali adalah syirik, sesat, bid’ah oleh salafi wahabi namun tidak sama sekali menggebosi antusiasme pengunjung tradisi ziarah tersebut.

Dalam pandangan orang salafi wahabi memang orang shaleh yang meninggal sudah tidak memiliki berkah dan pelajaran untuk digali namun sebenarnya, hakikat orang shaleh masih bisa menjadi wasilah berkat jasa dan peran selama hidupnya.

Pelajaran dari Ziarah

Golongan salafi wahabi memang sering buta atas realitas yang  terjadi di masyarakat akibat dari tradisi mereka yang hanya memahami agama hanya dari teks belaka. Mereka menolak sama sekali tafsir Maqasidhi atau tafsir tekstual untuk melihat realitas dunia lebih baik.

Sebagaimana penolakan mereka terhadap tradisi kebiasaan ziarah Makam Wali atau orang shaleh, bahwa mereka tidak bisa memberi manfaat sama sekali kepada orang yang hidup. Padahal perintah ziarah dikatakan sendiri oleh Nabi SAW;

Baca Juga:  Mengenal Lebih Dekat Sosok KH Anwar Zahid Bojonegoro

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا، فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرً

Artinya; “Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah),” (HR. Hakim).

Isi kandungan Hadits di atas dengan jelas mengatakan bahwa sebenar ziarah Kubur memiliki manfaat kepada orang hidup. Bisa dari segi I’tibar atau memperoleh pelajaran, bisa melunakan hati dan larangan untuk berkata kotor ketika berziarah.

Berbeda dengan salafi wahabi bahwa Ziarah Makam orang shaleh dan para Wali hanya membawa dampak negatif, yaitu syirik, bid’ah, dan menjadikan kuburan sebagai sesembahan. Barangkali penolakan terhadap amalan ziarah kubur oleh salafi wahabi menjadikan hati mereka keras untuk menerima hikmah.

Sebagaimana kekerasan pendapat Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas ketika melihat tradisi Ziarah Makam Walisongo dengan mengatakan amaliah tersebut adalah sarang bid’ah, syirik dan kesesatan. Mengesampingkan bahwa dalam ziarah kubur bisa menjadikan I’tibar, pelajaran dan melunakan hati manusia untuk mengingat kematian.

Baca Juga:  Mengenal Sosok Pencetus Maulid Adhiya Ulami

Apakah Orang Shaleh Benar-benar Mati?

Hakikat orang meninggal memang secara dzahir tidak bisa beramal sebagaimana orang yang masih hidup. Namun jasa, karya, dan peran orang Shaleh serta para Walisongo tidak lekang dimakan oleh zaman.

Maklum kiranya bahwa Makam Walisongo dan orang Shaleh menjadi perantara untuk menghidupi para penjual makanan, souvenir, oleh-oleh dan jasa travel.

Semuanya berkat peran dan jasa para Wali dan orang  shaleh selama hidupnya, yang terus mengalir bahkan setelah kematian mereka. Catatan fakta bahwa Makam KH Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah.

Bahkan makam beliau yang terletak di Jombang menyumbangkan APBD Kabupaten Jombang sebesar 340 Juta Rupiah hanya dari retribusi parkirnya saja.

Belum pedagang, biro travel, kotak infak makam yang  pastinya akan sangat banyak jika diakumulasikan dengan angka-angka. Bahwa beliau meninggal pada tahun 2009 masih mampu memberikan manfaat tidak langsung kepada orang disekelilingnya.

Bahkan kepada mereka yang kurang suka atau membenci tradisi ziarah Makam orang Shaleh tetap mendapat manfaat baik langsung atau tidak. Sebuah riwayat mengatakan dituliskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim;

Baca Juga:  Mbah Muqoyyim, Kyai Pejuang Pendiri Pesantren Buntet Cirebon

“Umar (semoga Allah berkenan dengan dia) bertanya: ‘Di mana bahwa anak muda yang sering datang ke Masjid untuk beribadah? “Mereka menjawab: “Dia meninggal dan kami menguburkannya ‘Umar (semoga Allah berkenan dengan dia) pergi ke kuburnya dan memanggilnya dan membacakan ayat dari Al-Qur’an:”. Tapi bagi orang yang ketakutan untuk berdiri di hadapan Tuhannya ada dua surga ‘(Sura al-Rahman, 46) pemuda menjawab dari kuburnya’ Sesungguhnya Allah telah memberi saya dua surga ‘

Tafsir tersebut dengan jelas bahwa orang shaleh masih dapat menjawab pertanyaan orang yang hidup. Dan secara tidak langsung, hakikat kematian orang shaleh adalah tidak benar-benar meninggal dunia.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG