Bagaimana Menjaga Akhlak Berkomentar di Media Sosial

Menjaga Akhlak Berkomentar di Media Sosial

Pecihitam.org – Di antara dampak buruk dari lahirnya media sosial adalah banyak orang lebih tertarik untuk sekedar berkomentar daripada memahami kandungan kebenaran dari isi status dan berita yang dishare.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Padahal, untuk membuat sebuah status yang bermutu dan berita yang disebarkan, selalu membutuhkan jerih payah yang lebih dari sekedar komentar asal-asalan yang kosong makna.

Apalagi sekarang, cukup hanya mengklik saja, seluruh berita bisa tersalin dan tersebar sebanyak mungkin. Dengan berbagai kemudahan itu, kita justru berlomba-lomba menjadi penerus kabar daripada memahami substansinya secara jernih.

Tapi apa boleh buat, begitulah perkembangan media sosial saat ini, kita menjadi seseorang yang “uptodate” dan sibuk dengan banyak sekali pekerjaan untuk mengikuti simpang siur  peristiwa di sekitar kita.

Tapi perlu diingat, bahwa media sosial juga sangat cepat melahirkan budaya “komentar”. Siapapun dan dari latarbelakang mana saja bisa berkomentar dan memang tidak ada larangan. Tidak peduli apakah komentar itu melukai atau bahkan yang lebih tragis lagi dapat menyingkirkan orang lain.

Media sosial, dengan demikian, juga bisa melahirkan sejenis setan yang membuat kita mampu saling membenci dan saling membuat orang lain menjadi korban.

Di titik ini, sebenarnya bukan media sosialnya yang menjadi sasaran kekeliruan, tapi pola pemanfaatan media itulah yang boleh dibilang kurang berkualitas.

Saya sering bertanya-tanya, mengapa budaya bermedia sosial membuat kita menjadi saling membenci dan menyebar kemarahan? Lalu, apakah media sosial harus dilarang?

Saya kira tidak mungkin, yang perlu dilakukan adalah bagaimana kita mampu bermedia sosial secara bijak, santun, dan berakhlakul karimah.

Baca Juga:  New Normal dan Dilema Penerapan Sangsi Pesantren di Jawa Barat

Tulisan ini akan sedikit mengurai tips dan cara-cara agar kita tetap menjaga akhlak dalam berkomentar di media sosial dan sebisa mungkin meninggalkan ujaran-ujaran kebencian yang justru akan menyulut emosi dan konflik yang tidak sehat.

Ini penting lantaran media sosial seringkali menjadi faktor berbagai macam kegaduhan, mulai kegaduhan politik, agama, dan berinteraksi sosial secara langsung.

Medsos yang sejatinya adalah tempat berbagi, bersilaturahim, dan membangun relasi, justru malah menjadi tempat meluapkan emosi, kebencian, komentar negatif yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam.

Menurut saya, ada empat akhlak Islami yang bisa dilakukan agar kita terhindar dari budaya komentar yang negatif dan mulai berinteraki secara sehat dan bermanfaat;

Pertama, memberikan komentar atau pendapat dalam bentuk kritik, tanggapan, dan saran merupakan hak setiap orang, tidak bisa dibatasi atau dihalang-halangi. Dalam berkomentar, harusnya seseorang lebih mengedepankan  cara-cara yang halus, santun, dan bijak.

Apapun komentarnya, bila tidak disampaikan secara hati-hati, orang yang dikomentari akan cenderung sakit hati, bahkan komentarnya malah tidak akan berguna bagi orang lain.

Ini penting dilakukan, karena tidak semua orang suka dikritik, ada yang suka dikritik tapi disampaikan dengan cara yang baik. Dan, hampir tidak ada orang yang mau dikritik dengan cara-cara yang kasar dan negatif.

Kedua, menghargai pandangan atau pendapat orang lain. Dalam hal ini, sebagai muslim yang baik hendaknya seseorang dapat menghargai dan menghormati pendapat orang lain, betapapaun pendapat dan pemikirannya amat berbeda dengan kita.

Baca Juga:  Media Sosial; Sekedar Berinteraksi, Edukasi, Hingga Menambah Ketaqwaan

Sebab, bila berkaitan dengan hak-hak yang dimiliki oleh orang lain, hak berpendapat dan mengutarakan pemikirannya, kita tidak boleh serta-merta menghujatnya begitu saja.

Secara Islam, perbedaan adalah sunatullah atau sesuatu yang telah digariskan oleh Allah. Kita mesti memahami perbedaan pandangan dari sisi ini, sehingga tidak ada upaya untuk menjatuhkan komentar yang buruk terhadap orang yang berbeda dan berseberangan dengan kita.

Ketiga, bila kita mengomentari sesuatu, ungkapkanlah sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Bila yang dikedepankan adalah emosi dan perasaan tidak suka, maka orang cenderung keluar dari batasannya, keluar dari cara pandangan yang objektif, dan tidak mampu memahami duduk perkaranya secara berimbang.

Di media sosial, sudah terlalu banyak orang berkomenar di luar batas kemampuannya. Misalnya begini, ada berita atau tulisan dishare, bila berita itu secara tema dan judul sudah dianggap tidak sesuai dengan isi pikirannya, orang cenderung akan mengomentari negatif, padahal dia belum baca tulisan itu. Dengan kata lain, banyak orang menilai sesuatu tanpa dilandasi pengetahuan yang memadai.

Allah berfirman dalam al-Qur’an: “Dan, janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS. al-Isra’: 36).

Bila melihat kondisi terkini dari keadaaan media sosial kita, banyak umat Islam yang mengabaikan perintah Allah sebagaimana tertuang dalam ayat di atas. Apa yang kita lihat dan saksikan justru berbanding terbalik dengan akhlak Islami yang telah digariskan oleh Allah.

Karenanya, dengan berpijak pada seruan Allah ini, kita perlu lebih banyak belajar dan memahami daripada sekedar komentar dan perbendapat yang tidak berguna.

Baca Juga:  Kontroversi Fatwa Al-Bani, Setiap Orang yang Tinggal di Palestina adalah Kafir?

Keempat, jadilan pribadi yang rendah hati dan suka meminta maaf. Di sini banyak orang mengabaikan kepribadiannya dan suka tidak mau minta maaf bila ternyata komentarnya keliru bahkan sampai menimbulkan polemik.

Perilaku memaafkan dan meminta maaf, merupakan tindakan yang sangat terpuji dalam Islam, karena seseorang telah dianggap mampu bersikap rendah hati, menundukkan egoisme, dan mengakui keterbatasaanya sebagai manusia yang penuh salah dan lupa.

Sebagaimana sabda Nabi, “Manusia adalah tempat salah dan lupa”. Tak seorang pun bisa luput dari kedua hal ini, maka kita sebagai umat Islam perlu berhati-hati dalam berkomentar.

Bila tak didasari oleh argumen yang jelas dan pengetahuan yang mumpuni, orang cenderung keliru dalam berkomentar. Bila kekeliruan itu diterus-teruskan, maka tidak ada lagi jalinan komunikasi yang baik, bahkan silaturahim pun bisa terputus lantaran egoisme seseorang.

Kiranya, keempat standar akhlak ini bisa menjadi pedoman bagi umat Islam dalam bermedia sosial. Kita tidak perlu tim ahli atau ilmuwan untuk memastikan kondisi media sosial kita sedang baik atau buruk, sebab kitalah pengguna media sosial itu, maka dari kitalah perilaku-perilaku baik itu bisa mulai praktikkan, dan mulai menghindari gesekan-gesekan negatif yang pada akhirnya akan merugikan umat Islam sendiri.

Rohmatul Izad

Leave a Reply

Your email address will not be published.