Berhentilah Saling Menghujat! Jangan Tunggu Allah Kirim Musuh Besar, Baru Kalian Mau Bersatu

Berhentilah Saling Menghujat!

PECIHITAM.ORG – Berhentilah saling menghujat! Jangan sampai perbedaan, mulai dari hal terkecil hingga sesuatu yang serius membuat kita tidak akur. Memalingkan wajah ketika berpapasan, tidak saling bertegur sapa saat satu majelis pertemuan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Yang satunya membaca qunut Shubuh, satunya lagi tidak, nikmati saja. Jangan jadikan sebagai pemicu untuk saling menghujat.

Gara-gara perbedaan tentang mengucapkan Selamat Natal dan Merayakan Tahun Baru, tidak sedikit sesama muslim saling merasa paling Islami dan paling paham tentang agama.

Pendeknya, perbedaan-perbedaan yang sudah tuntas dibahas para ulama klasik yang mestinya menjadi rahmat di tengah ummat hari ini, jangan masih dicari-cari celahnya untuk keabsahan melaknat dan menuruti kepuasan meghujat .

Ummat Islam adalah bersaudara. Harus bersatu meskipun banyak berbeda pendapat dalam banyak hal yang tidak prinsip. Dan perbedaan itu, mestinya menjadi rahmat, sebagaimana sabda Nabi

اختلاف بين أمتي رحمة

Perbedaan diantara umatku adalah rahmat.

Para ulama kita dahulu sangat memahami betul dan menjadi teladan dalam mempraktekkan hal ini, sehingga salah satu dari mereka ada yang menulis jitab dengan judul رحمة الأمة في اختلاف الأئمة yang di dalamnya memuat beberapa perbedaan pendapat dalam permasalahan hukum Fqih. Ada juga yang menulis kitab dengan judul إثمد العينين في اختلاف الشيخين yang memuat beberapa perbedaan pendapat seputar Fiqih antara Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli.

Itulah teladan nyata dari para ulama kita, bagaimana mereka menyikapi perbedaan. Perbedaan bukan menjadi alasan untuk kita saling menghujat dan mengeluarkan sumpah serapah. Perbedaan itu semestinya menjadi rahmat.

Berhentilah saling menghujat! Kalaupun kita dihadapkan dengan beberapa kelompok yang saling menghujat, mencaci-maki, menyesatkan dan saling menghina, maka seharusnya posisi kita adalah di tengah-tengah, sebagai mediator, sebagai penengah yang mendamaikan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم

Baca Juga:  Ilmu Filsafat itu Haram, Tapi Berfilsafat Tidak!

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara, maka damaikanlah kedua saudaramu yang saling bertikai.

Ada kisah menarik yang harus kita jadikan bahan renungan dalam rangka merajut persatuan umat muslim hari ini.

Pada masa lalu, setelah salah seorang khalifah Islam wafat, maka Kaisar Romawi mempunyai rencana, menyusun strategi untuk menyerang pasukan muslim yang sedang berduka karena ditinggal khalifah. Selain sedang berduka, pada waktu itu kaum muslimin sedang sibuk dengan urusan masing-masing.

Kemudian Kaisar Romawi menetapkan kesepakatan untuk menyerang kaum muslimin dengan harapan mereka akan bisa meraih kemenangan. Tetapi pada saat penetapan keputusan itu, seorang penasehat kekaisaran yang sangat kritis dan dikenal tajam analisanya sedang tidak menghadiri pertemuan.

Sehingga nasihat atau saran darinya tidak didapatkan oleh sang Kaisar. Pada hari berikutnya Kaisar mengirimkan utusan kepada sang penasehat untuk dimintai pendapat perihal rencana untuk menyerang kaum muslimin. Kemudian sang penasehat tidak menyetujui pendapat itu dengan mengatakan, “Aku tidak mendapati rencana ini sebagai sesuatu yang benar”.

kemudian Kaisar meminta alasannya. Penasihat pun berjanji akan memberikan alasannya esok hari. Setelah tiba waktu yang dijanjikan, maka datanglah utusan Kaisar untuk menagih janji perihal alasan dari sang penasehat tidak menyetujui rencana sang Kaisar.

Bukan menjawab, justru sang penasehat menyuruh anak buahnya untuk mendatangkan dua ekor anjing. Kemudian dua ekor anjing itu diletakkan saling berhadapan. Terjadilah pertengkaran antara kedua anjing tersebut, saling cakar, saling gigit. Hingga kedua anjing tersebut lelah dan hampir saja mati.

Baca Juga:  Imam Al Ghazali Bergelar Pembela Islam, Samakah dengan Nama yang Melekat di FPI?

Dalam kondisi seperti itu, maka penasihat cerads itu meminta anak buahnya untuk mendatangkan seekor serigala. Melihat serigala yang siap menerkam, kedua anjing itu kaget dan menyerang serigala. Dengan segala kelemahan, kelelahan dan sakit karena bekas luka, kedua ekor anjing itu menyerang serigala.

Dari kisah yang tersebut dalam Qashash al-‘Arab Juz II karya Syaikh Ibrahim Syamsuddin ini dapat disimpulkan bahwa memang kadang perlu adanya musuh yang lebih besar untuk menyatukan konflik-konflik kecil yang terjadi di dalam internal.

Tapi yang paling penting dari semua itu adalah kenapa kedua anjing itu menghabiskan waktu untuk bertengkar, sementara mereka tahu bahwa serigala adalah musuh mereka bersama.

Beginilah jadinya saat serigala itu datang mau memangsa, mereka sudah kelelahan untuk melawannya. Tenaga sudah dihabiskan untuk berantem karena sesasama anjing.

Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa kadang kita lebih sibuk menghabiskan waktu bertengkar sesama saudara, sesama muslim, sesama keluarga, sesama tetangga, padahal ada musuh yang lebih besar yang harus kita hadapi bersama.

Daripada capek-capek menghabiskan waktu dan tenaga serta pikiran untuk saling bertengkar, menghujat dan menyalahkan sesama saudara, alangkah lebih baik jika semua itu kita tampung, kita simpan untuk menghadapi musuh-musuh yang lebih besar.

Memang, pada zaman sekarang ini, kita tidak akan berhadapan dengan musuh yang membawa pedang, membawa senjata. Karena musuh besar kita hari ini adalah bencana alam seperti banjir longsor, bencana kemanusiaan, ataupun kesenjangan seperti kemiskinan, korupsi dan lain-lain.

Itulah musuh kita, musuh besar kita. Maka gunakanlah ilmu, tenaga, pikiran, waktu, teknologi dan biaya untuk memikirkan cara saling menyelamatkan saudara kita, membantu yang masih hidup dalam kekurangan, yang tertimpa musibah dan mungkin tidak sedikit juga dari mereka yang sedang sakit dengan penyakit yang susah disembuhkan, butuh biaya berjuta-juta bahkan ratusan juta.

Baca Juga:  Peran dan Provokasi Media Massa Sejak Zaman Nabi Hingga Sekarang

Tidakkah semua potensi yang kita miliki; ilmu, uang, jaringan dan sebagainya, sebaiknya kita gunakan untuk itu semua, untuk membantu dan menolong sesama. Kalau kita selalu menghabiskan waktu untuk bertengkar dan saling menghujat, saat musibah banjir datang, Tsunami melanda, kita sudah kelelahan. Uang sudah dihabiskan untuk biaya saling bertengkar sama saudara, saling memfitnah dan sebagainya.

Saat musibah, musuh yang sebenarnya datang, kita sudah loyo, kehilangan segalanya. Apakah kita akan terus seperti itu, akan terus saling menghujat hingga kemudian Allah datangkan musuh, musibah, bencana, kesenjangan yang betul-betul akan mencelakakan kita atau saudara kita.

Semoga tulisan ini menjadi renungan bagi kita. Maka, mulai hari ini, berhentilah saling menghujat! Jangan menunggu Allah kirimkan musibah dan bencana sehingga kita jadi kelimpungan dan kelabakan.

Faisol Abdurrahman