Biografi Ibn al-Arabi, Seorang Ulama Ahli Tafsir Dari Sevilla

Biografi Ibn al-Arabi, Seorang Ulama Ahli Tafsir Dari Sevilla

PeciHitam.org – Dalam khazanah intelektual Islam ada dua nama Ibn Arabi yang terkenal. Pertama Ibn Arabi, dan yang kedua Ibn al-Arabi (dengan alif-lam). Yang pertama bernama Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah al-Hatimi al-Andalusi, yang bergelar Muhyiddin. Lahir di Marsia, Andalusia, Spanyol, pada tahun 560 H.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ia dikenal dengan nama Ibn Arabi, seorang sufi dan filsuf. Ia sempat bermukin di Mekah selama beberapa tahun, dan selama di sana, ia menulis karyanya yang terkenal, al-Futuhat al-Makkiyah. Selain itu, karyanya yang terkenal adalah Fusus al-Hikam.

Sedangkan yang kedua adalah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad al-Ma’arifi al-Andalusi al-Ishbili. Lahir pada malam kamis, tanggal 22 Syaban tahun 468 H/1076 M, di Sevilla. Ia berasal dari keluarga terhormat dan cinta ilmu. Kakek dan ayahnya merupakan tokoh terkemuka di Andalusia.

Ayahnya terkenal sebagai ulama di Sevilla, dan merupakan salah satu tokoh mazhab Zahiri (pengikut Abu Muhammad bin Hazm al-Zahiri) yang terkenal dengan ilmunya, seorang sastrawan, penyair yang cerdas.

Pamannya, Abu al-Qasim al-Hasan bin Abi Hafsh al-Hawzani juga merupakan ulama besar di Sevilla. Di lingkungan keluarga seperti inilah Ibn al-Arabi tumbuh. Pada usia 9 tahun, Ia telah hafal al-Quran, di bawah bimbingan Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad al-Sarqusti dan pada usia 16 tahun ia juga telah menguasai bahasa Arab, matematika, dan ilmu qira’ah.

Baca Juga:  Umar bin Khatthab, Sahabat Nabi Bergelar Al-Faruq yang Ditakuti Setan

Ia dikenal sebagai seorang yang haus akan ilmu. Hal itu terbukti dari kunjungan-kunjungannya ke berbagai wilayah seperti, Mesir, Syam, Baghdad, dan Makkah. Di setiap negeri yang dikunjunginya, ia selalu mengambil manfaat dengan berguru dari ulama-ulama yang ditemuinya.

Pada tahun 485 Hijriyah, ia berangkat ke Mesir melalui pantai Tunis. Di sana ia menetap beberapa waktu dan menyempatkan diri berguru di bawah bimbingan Abu al-Hasan Ali bin Muhammad selama beberapa bulan. Selain itu, ia juga berguru pada Abu Abdullah Muhammad bin Ali al-Maziri.

Ia tiba di Mesir pada ahkir tahun 485 H. Di sana ia bertemu dengan Mahdi al-Warraq, Abu al-Hasan bin Syarf, Abu al-Hasan bin Dawud al-Farisi, dan berguru pada mereka. Dari Mesir, ia bertolak ke Bayt al-Maqdis dan di sana ia bertemu Abu Bakr Muhammad al-Walid al-Thurthushi al-Fahri.

Baca Juga:  Mengenal Lebih Dekat Abdullah bin Abdul Muththalib Ayah Nabi Saw

Ia juga pernah berkunjung ke Syam dan menetap selama beberapa waktu sebelum melanjutkan perjalannya ke Baghdad. Di Syam, Ibn al-Arabi belajar di bawah bimbingan seorang ulama Syafi’iyah, yaitu Abu al-Fath Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi, al-Hafiz al-Akfani, Ahmad b. al-Farrat, dan beberapa ulama lainnya.

Adapun di Baghdad, yang merupakan ibukota kekhalifahan Abbasiyah saat itu, ia belajar berbagai disiplin ilmu seperti usuluddin, fiqh dan usul al-fiqh, bahasa arab dan adab, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Di sini ia belajar dari Ibn al-Tuyuri, Ali bin al-Husayn al-Bazzaz, Abu Hamid al-Ghazali, dan beberapa ulama lainnya.

Pada tahun 489 H ia tiba di Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Meski demikian, ia tetap menyempatkan diri untuk berguru pada para ulama di sana. Sebelum pulang ke kampung halamannya, Ibn al-Arabi juga mengunjungi kota Iskandariyah. Di tempat kelahirannya, ia mengabdikan diri. Ia pun sibuk sebagai pengajar, hakim, pendakwah, dan juga penulis. Ia dikenal sebagai orang yang dermawan dan selalu mengajak orang-orang untuk berderma.

Baca Juga:  Zainab binti Khuzaimah Istri Rasulullah yang Berjuluk Ummu Masakin

Keteguhannya dalam mencari ilmu berbuah manis. Dari perjalanan dan kunjungannya ke berbagai wilayah menjadikannya sebagai seorang yang berwawasan luas sehingga menjadikannya ulama paling berpengaruh di Sevilla, kampung halamannya. Ia dikenal menguasai berbagai disiplin ilmu seperti, fikih, ushul, hadis, tafsir, adab, syair, dan kalam. Ia juga dikenal ahli dalam masalah-masalah khilafiyah.

Ibn al-Arabi wafat di sebuah tempat bernama Aglan, sebuah daerah dekat kota Fas, pada bulan Rabi’ al-Awwal tahun 543 H. Jenazahnya di bawa ke Fas dan dimakamkan di sana.

Mohammad Mufid Muwaffaq